Ilmu Hawa Dewa berhasil menyembuhkan Lingga, kini pemuda itu tinggal menunggu bangun dari ketidak sadarannya. Ketika Abhinaya dan Varsha membuka pintu pondok, keduanya langsung terkejut karena di halaman pondok itu orang-orang semakin ramai dengan bertambahnya beberapa pendekar golongan putih. Abhinaya memperhatikan orang-orang itu satu persatu, beberapa di kenalinya. Tujuh Pedang Dewa milik Asta yang masih mengambang di udara di depan pondok terus memancarkan sinar hijau angker.
"Tujuh Pedang Dewa, kembalilah ke asalmu. Jaga makam tuanmu. Jika aku butuh bantuan, aku akan memanggilmu kembali" Ucap Abhinaya dingin.
Ketujuh pedang tampak berputar-putar sejenak lalu melesat kembali ke arah makam Asta.
Prabu Kalanarta yang tak sabar segera menghampiri.
"Bagaimana keadaan anakku? Katakan dimana dia?" Prabu Kalanarta langsung bertanya penuh rasa khawatir begitu berdiri di hadapan Abhinaya.
Abhinaya masih tak berekspresi, hanya sorot matanya yang masih memandang kebencian.
"Plakkkk!" Abhinaya tampar Prabu Kalanarta keras sekali, hingga bibirnya kucurkan darah, mahkota di kepalanya tampak miring. Tak hanya itu saja, ketika Prabu Kalanarta masih terhuyung-huyung satu tendangan didaratkan Abhinaya ke dada Raja itu.
Prabu Kalanarta terpental ke belakang lalu bergulingan di tanah.
Semua orang terkesiap kaget.
"Kurang ajar! Berani sekali kau berkelakuan bar-bar kepada Baginda Agung Prabu Kalanarta" Dua pendekar kembar yang baru tiba tampak geram dan langsung cabut pedang. Keduanya melesat membabatkan pedang. Abhinaya cepat keluarkan kipas bajanya, tenaga dalam dikerahkan sepenuhnya. Kipas dilempar, laksana baling-baling kipas menderu melabrak hunusan pedang.
"Trang! Trang!" Dua suara berdentang terdengar, dua pedang milik pendekar itu patah. Bahkan yang lebih mengerikan ujung ruas kipas yang menyembulkan mata pisau merobek kedua leher pendekar itu hingga ambruk dan tewas seketika.
Semua orang berseru kaget dan marah.
"Kejam! Laknat! Terkutuk!" Berbagai makian dan umpatan juga rutukan ditujukan pada Abhinaya.
Abhinaya memandang dingin lalu dia tertawa keras sekali.
"Hahahahahahaha" Suara tawa yang disertai tenaga dalam itu begitu menyakitkan telinga, semua orang langsung menekap telinga.
"Kalau dua pendekar tadi berhasil membunuhku, apa kalian juga akan mengatakan kejam kepada kedua pendekar yang sudah jadi bangkai itu?" Tanya Abhinaya dengan sorot mata mengerikan.
Semua orang terhenyak mendengarnya.
"Mereka menyerangmu karena kau berbuat kurang ajar yang tak terampuni kepada Prabu Kalanarta" Sahut seorang pendekar pula.
"Cuih!" Abhinaya meludah.
"Di sini aku yang berkuasa. Di sini tak ada raja atau prabu. Apalagi si Kalanarta itu, bagiku anjing kurap jauh lebih mulia dari pada sosoknya!" Abhinaya yang masih menyimpan dendam berseru lantang. Matanya memandang tak berkesip pada Prabu Kalanarta yang saat itu tengah berdiri gontai sambil pegangi dadanya yang sesak karena ditendang tadi.
"Jahanam! Iblis! Mulut busukmu itu harus di robek" Seorang nenek renta pendekar golongan putih tampak marah, sosoknya segera melompat sambil memghantamkan tongkatnya ke mulut Abhinaya.
Abhinaya hanya tersungging mengejek.
"Nenek pemuja Kalanarta. Pelacur tua. Kau berani sekali jual lagak di hadapanku. Mampuslah" Abhinaya buka telapak tangannya lalu di pukulkan ke depan. Satu gelombang angin menderu.
"Awas! Pedang Angin" Seseorang memperingatkan si nenek dengan menyebut ilmu yang dikeluarkan Abhinaya. Namun terlambat, belum sampai tongkat si nenek menghantam mulut Abhinaya, si nenek telah lebih dahulu ambruk dengan dada terkoyak lebar.
"Hahahahhaha, siapa lagi yang mau mampus?" Tantang Abhinaya.
Seluruh pendekar tersisa yang berjumlah dua puluh orang tampak geram sekali. Semua orang terpancing tantangan itu, sebagian mereka langsung cabut senjata dan sebagian lagi mengangkat tangan siap lepaskan pukulan sakti.
Abhinaya masih terus tersenyum pongah, dia siap mengerahkan ilmu yang jarang digunakannya bernama Delapan Badai Halilintar. Ilmu yang sanggup mendatangkan Delapan Badai dari langit disertai sambaran delapan halilintar. Jika itu terjadi maka semua musuhnya akan musnah dalam sekali serang, meskipun dia juga tak mungkin mampu mengelakkan seluruh serangan musuh. Namun dia tak takut mati sekarang, baginya justru mati adalah impiannya, karena dengan mati maka dia akan hidup bersama kembali dengan dua orang yang sangat di sayanginya, Afrianta dan Prahastana.
"Abhi! Kendalikan dendam dan amarahmu!" Varsha mencoba memperingatkan ketika dia merasakan ada ilmu yang teramat berbahaya yang tengah disiapkan oleh Abhinaya.
"Diam! Mereka semua layak mati!" Abhinaya membentak Varsha. Varsha kaget, inilah kali pertama Abhinaya membentaknya, untuk mencegah hal buruk terjadi Varsha cepat kembangkan payungnya. Payung itu akan digunakannya sebagai benteng periasai yang akan melindungi dari serangan nyasar.
"Semuanya harap tahan serangan!" Tiba-tiba terdengar suara parau dan serak menyahut. Prabu Kalanarta sambil mengangkat tangan kanannya berjalan gontai ke hadapan semua pendekar dan Abhinaya. Begitu sampai di depan Abhinaya sosok Prabu itu langsung bersimpuh bahkan bersujud.
"Semua salahku. Aku, sebagai seorang raja rela menghambakan diri kepadamu asal kau mau mengampuni dan memaafkan semua dosa dan kesalahanku" Prabu Kalanarta berucap sambil kembali berlutut.
Semua orang kaget.
"Yang mulia, kenapa kau merendahkan diri dihadapan manusia iblis itu!" Senopati Randuwiku memberi ingat. Namun Prabu Kalanarta cuma tersenyum pahit, ditatapnya sorot mata Abhinaya yang masih begitu benci padanya.
"Maaf? Huh! Betapa mudahnya kau berkata seperti itu! Apa kau pikir kata maafmu itu bisa menghidupkan Asta kembali?" Abhinaya berseru dengan suara serak, semua kenangannya bersama Asta kembali membayang, air matanya pun menetes.
"Tidak Kalanarta! Darahmu pun tak cukup untuk menebus semua itu!" Abhinaya berteriak gusar, cepat sekali Abhinaya angkat kipasnya, kipas itu berputar laksana titiran di telapak tangannya dan siap ditebaskan ke leher Prabu Kalanarta. Semua orang terkesiap, Prabu Kalanarta pejamkan mata pasrah.
Tiba-tiba pintu pondok terkuak, dari baliknya mencuat sosok Lingga bertelanjang dada, keadaannya telah sehat walaupun tenaganya belum pulih sepenuhnya.
"Jangan Abhi! Jangan bunuh ayahku" Teriak Lingga yang langsung melompat memeluk kaki Abhinaya.
Namun Abhinaya sudah bulatkan tekad dendamnya harus terbalas.
Sejengkal lagi kipas itu akan menebas putus kepala Prabu Kalanarta mendadak terdengar suara seruling melenting memainkan nada-nada menyayat hati. Abhinaya merasakan suara seruling itu menyerang degup jantung dan perasaannya. Dia tersurut mundur, kipasnya terlepas.
Perasaan sedih teramat sangat melandanya. Dia mulai berhalusinasi, lalu menangis sesenggukan.
Ketika Abhinaya lengah karena pengaruh suara seruling itu, melesatlah tiga buah tombak untuk membunuhnya.
"Licik!" maki Varsha yang memang tengah bersiaga. Sosoknya langsung melesat menghadang tombak dengan payung terkembang. Brak! Ketiga tombak patah.
Varsha memandang marah kepada tiga prajurit yang melempar tombak. cepat dia melompat kepada prajurit itu, tiga tendangan mendarat ke dada prajurit itu hingga memeatahkan tulang rusuk mereka, ketiganya langsung roboh.
Semua orang menjadi hening. Lingga langsung memeluk tubuh ayahnya, Baginda Prabu Kalanarta. Sementara matanya memandang pada Abhinaya yang berdiri sempoyongan dengan suara tangisan keluar dari mulutnya. Sementara suara seruling terus terdengar makin menyayat.
"Mengapa pedang tak mengenal cinta?
Mengapa pedang tak peduli air mata?
Hanya tetes darah yang dicari.
Demi nafsu! Demi tahta! Demi martabat mulia!
Aku kehilangan dua cinta. Di ujung senjata seorang Raja.
Salahkah aku menuntut balas?
Dewa? Mengapa kau lebih menyayangi seorang raja durjana, dibanding seorang jelata yang kehilangan kekasih?"
Secara tak sadar Abhinaya mengalunkan rangkaian kata-kata itu laksana puisi yang mengiris hati.
"Afrianta, Prahastana, bisakah ku titip salam kepada para Dewa? Katakan kepada mereka, bahwa para Dewa begitu adil dan bijaksana. Memuliakan seorang raja dengan mematahkan kedua sayap harapanku"
Kembali Abhinaya berkata-kata melantur, dan akhirnya tubuhnya roboh seiring dengan berakhirnya suara seruling aneh tadi. Sebelum tubuh Abhinaya menyentuh tanah Varsha cepat menangkap dan memeluknya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasywarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
