Esoknya Abhinaya sudah pulih seutuhnya, obat dari Sanjaya benar-benar manjur.
Mereka berempat membersihkan diri menggunakan air hujan yang tertampung di satu kendi besar di belakang rumah secara bergantian. Setelah berpakaian mereka melanjutkan perjalanan, untungnya ditengah persimpangan jalan mereka melihat satu gerobak pedati kosong yang ditarik dua ekor kuda, mereka diperbolehkan menumpang. Si kusir adalah seorang tua bernama Ki Bonggor.
"Aden berempat pendekar ya?" tanya ki Bonggor ramah.
"Benar ki" Sanjaya menyahut. Sementara itu Abhinaya terlihat acuh sambil mentap jalanan di belakang yang dilewati pedati.
"Lah ke kotaraja mau apa den? Apa mau ikut seleksi prajurit. Kebetulan lusa ada penerimaan prajurit di alun-alun kotaraja"
"Hahaha kami tidak ada tampang ki buat jadi prajurit" Lingga menyahut, sbil melirik Abhinaya. Yang dilirik tidak tau sedang diperhatikan karena dia memandang kosong ke jalanan dengan pikirannya sendiri.
"Lah tampang gagah seperti kalian ini jangankan jadi prajurit, jadi senopati juga pantas kok"
"Apakah masih lama kita sampai Ki?" Asta ikut bertanya.
"Lumayan, namun sebelum tengah hari kita pasti sampai asal tidak ada halangan mendadak, aden yang berbaju hitam sedari tadi diam saja" ucap Ki Bonggor sambil menoleh ke belakang. Ucapan itu tidak di dengar oleh Abhinaya, si pemuda masih tenggelam dalam lamunannya.
"Dia baru sembuh dari sakit Ki, jadi harap dimaafkan kalo dia terkesan kurang banyak bicara" jawab Asta.
"Oooo, agaknya saya perlu mempercepat sedikit jalan kuda" Ki Bonggor mencambuk pelan pubggung kedua kuda membuat kuda itu mempercepat jalannya.
*
Benar saja sebelum matahari ada di tengah langit mereka sudah sampai di kotaraja, Ki Bonggor memaksa mereka singgah ke rumahnya yang sederhana namun cukup besar dan berhalaman luas dengan pagar-pagar dari susunan kayu. Tampak di samping rumah itu seorang dara cantik jelita berpakaian kemben hijau dengan kain batik, rambut hitam panjang disanggul rapi dengan sisa gelungan rambut tergerai sebatas pinggang sedang menjemur ikan asin kering.
"Nyai, Ambar, ayah pulang" seru si bapak. Dari dalam rumah keluar seorang wanita paruh baya bertubuh agak gemuk menyambut suaminya pulang. Sementara Ambarwati putri mereka turut pula menuju halaman depan menyambut kepulangan ayahnya.
"Eh bapak ternyata bawa tamu toh" ucap Nyai Bonggor sembari menatap wajah keempat pemuda tampan itu satu persatu, keempatnya tampak rikuh diperhatikan begitu. Lalu saat itu muncullah Ambarwati dari samping rumah melangkah anggun.
Keempat pemuda menatap dengan takjub kecantikan gadis itu, hanya Abhinaya yang tak begitu terpukau.
Ambarwati sendiri terheran-heran melihat keempat tamu yang semuanya berwajah tampan namun begitu matanya beradu pandang dengan Lingga Putra maka berdesir lah jantungnya. Pemuda itu telah memikat hatinya. Lingga sendiri tau dirinya tengah dilirik oleh si gadis, ketika matanya beradu cepat-cepat Lingga hadiahi si gadis dengan senyumannya yang paling manis. Lalu mereka semua saling berkenalan.
Terlihat jelas tangan si gadis bergetar ketika berjabatan dengan Lingga. Lingga sendiri merasakan sentuhan tangan si gadis sehalus dan semulus sutera.
"Nyai apakah nyai sudah masak? Tamu kita pasti sudah lapar"
"Sudah pak'e, monggo kita makan bersama"
"Harap dimaafkan Ki, saya masih belum lapar, silahkan duluan, saya ingin melihat keadaan kotaraja. Jujur saya sangat takjub dengan kota yang masyhur ini" Abhinaya menolak halus.
"Lah kok begitu mas?" tanya Nyai Bonggor, ada rasa tersinggung dihatinya karena Abhinaya menolak tawarannya.
"Nak Abhi ini baru sembuh dari sakit, jadi wajar kalau belum bernafsu makan" jelas Ki Bonggor.
"O ya sudah, nanti kalau lapar silahkan ambil ke dapur sendiri ya nak" ucap Nyai Bonggor. Semuanya masuk ke rumah, hanya Abhinaya yang masih diluar, lalu tak menunggu lama dia sudah melangkah menuju satu jalan utama kotaraja.
*
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasíawarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
