Tiga hari di istana membuat Lingga bosan, hingga hari ini pagi-pagi sekali dia menuju kediaman Ki Bonggor ingin menemui Sanjaya, namun hatinya kecewa karena temannya itu telah meninggalkan Lokajaya kembali ke Pulau kura-kura. Ditambah lagi ternyata Ambarwati juga tidak ada, gadis cantik itu tengah mengunjungi bibinya. Dengan kesal dia neninggalkan kediaman Ki Bonggor. Ditinggal oleh Sanjaya, Lingga bingung sendiri, padahal banyak yang ingin diceritakannya pada sahabatnya itu, termasuk peristiwa yang inginkan pembunuhan dirinya, dia ingin mengajak sahabatnya itu menyelidiki hal itu sekaligus mengajaknya tinggal di istana. Diam-diam pula benaknya teringat pada Abhinaya, timbul rasa rindu kepada pemuda dingin itu.
"Abhi, mungkinkah kita bertemu lagi?" Tanya Lingga pada dirinya sendiri sambil memacu perlahan kudanya, Lingga mundar-mandir tak karuan mengelilingi pasar. Saat itulah dia melihat punggung seseorang yang sedang membawa keranjang berisi beragam sayur, jagung, dan ayam juga singkong. Dari punggung, pakaian dan ukuran tubuh juga cara melangkah dia kenal betul kalau itu adalah sosok Prahastana.
"Aneh bukankah Asta telah pergi bersama-sama Abhinaya? Lalu kenapa dia masih di sini?" Lingga bertanya-tanya dalam hati.
"Ah bisa jadi dia bukan Asta, dia tidak membekal peti tujuh pedangnya" Lingga perhatikan sosok yang berjalan membelakanginya itu.
"Tapi bisa jadi peti itu disimpannya disuatu tempat" saat merasani begitu tiba-tiba wajah orang itu menoleh ke samping, ke arah seorang pedagang arak yang memanggil memawarkan barang.
"Dari samping benar-benar dia Asta, tidak salah lagi. Hei jika Asta disini bukan mustahil Abhinaya juga masih disini, ah aku rindu sekali pada wajah angkuhnya, lebih baik aku ikuti saja untuk memberi kejutan" Lingga cepat melompat turun dari kuda, setelah menitipkan kuda di pos penjaga pasar, dia mengikuti diam-diam Asta.
Orang-orang di pasar tak ada yang tahu jika dia adalah pangeran di negeri itu, karena pakaian yang dikenakan Lingga adalah pakaian pendekar bukan pakaian bermahkota seorang pangeran. Lingga mengikuti Asta dengan menggunakan ilmu Melangkah diatas Awan, yang membuat langkahnya nyaris tak menimbulkan suara, hingga Asta tak menyadari. Lingga heran karena semakin jauh meninggalkan pasar Asta tiba-tiba berbelok ke semak belukar menuju hutan di pinggir kota. Semakin jauh masuk ke hutan Lingga mendengar suara aliran air sungai. Asta mengikuti arah sungai ke hilir, sedangkan Lingga terus menguntitnya. Entah sudah berapa lama melangkah, Lingga mulai rasakan keningnya dicucuri keringat, kakinya mulai lelah saat itu dia sampai ke sebuah dinding batu yang membentuk sebuah goa pendek namun bermulut luas dan lebar, di hadapan goa itu tak seberapa jauh mengalir sungai yang berbatu.
Asta menuju goa itu, Lingga melesat ke balik sebuah batu besar agar bisa melihat lebih jelas.
Dan benar saja di salah satu sudut goa terlihat Abhinaya tengah tidur di atas tumpukan rumput kering. Melihat kedatangan Asta, Abhinaya yang saat itu tengah dilanda kobaran nafsu akibat Racun pembangkit Birahi cepat bangkit menghampiri Asta. Asta sendiri juga tengah rasakan nafsu yang tak kalah panasnya, maka begitu keduanya saling berhadapan cepat sekali Asta turunkan keranjang berisi pangan itu. Dan keduanya langsung tenggelam dalam pelukan dan hujan ciuman saling melepaskan hasrat dan gairah. Ini adalah hari terakhir mereka harus bercumbu memunahkan racun pembangkit birahi. Dalam hitungan sekejap keduanya telah dalam keadaan telanjang bulat dan saling bertindihan, sementara lidah Asta mulai menelusuri tiap jengkal tubuh telanjang Abhinaya.
Dari balik batu tempat dia mengintai, Lingga rasakan tanah yang dipijaknya seolah runtuh, langit seolah terbelah. Isi dadanya laksana meledak. Rasa marah, cemburu, sakit, dan terluka menggempa porak poranda perasaannya.
"Anjing, ternyata kalian kemari bersembunyi cuma buat ngentot, Abhinaya kupikir kau baik dan polos, ternyata nafsu mu melebihi pelacur murahan" Lingga saking cemburunya ramaskan dinding batu tempat dia bersembunyi, dinding batu itu langsung remuk membentuk pahatan telapak tangannya di sana. Mata Lingga berkaca-kaca bahkan meneteskan airmata.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasywarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
