Seteleh beberapa puluh tombak berjalan tiba-tiba Abhinaya ambruk sambil pegangi kaki kirinya. Lingga, Asta dan Sanjaya kaaget. Tatkala diperiksa ternyata terdapat luka gores sepanjang jari telunjuk di telapak kaki kanannya.
"Aku tadi sempat kena" ucap Abhinaya.
"Ku pikir hanya luka biasa tapi agaknya ini beracun" sambungnya pula.
"Kau terlalu sombong untuk mengaku terluka" Ucap Asta sambil membuka kasut di kaki kanan Abhinaya, dan benar saja kasut itu telah dibercaki darah kehitaman. Lalu Asta keluarkan saputangannya berwarna hijau tua, dirobek sedemikian rupa hingga panjang menyerupai tali lalu di ikatkan kuat-kuat ke pergelangan kaki Abhinaya.
"Kita harus temukan tempat beristirahat sekaligus mencari obat untuk luka itu Sanjaya berkata.
" aku ingat tak jauh dari sini di batas desa ada pondok tak beroenghuni" Ucap Asta.
"Kita kesana" Ucap Lingga, tanpa basa basi di gendongnya Abhinaya dipunggungnya.
"Selama ini kau terus-terusan melindungku, meski ini belum sebanding, tapi aku rasa bisa sedikit mengurangi hutang budiku" ucap Lingga dengan mantap seraya mulai melangkah.
Abhinaya rasakan ada getar hebat di dadanya, getaran yang menjalar indah dan hangat, yang membuatnya lupa sejenak pada rasa sakit yang mengiris-iris di telapak kakinya.
Tiba di pondok kosong itu Lingga dudukkan dengan hati-hati Abhinaya diatas sebuah bayang dia duduk di depannya sambil memangku kaki kanan Abhinays yang terlihat bengkak membiru. Asta dan Sanjaya memeriksanya.
"Aku tau sedikit ilmu pengobatan, aku akan memeriksa terlebih dahulu" ucap Sanjaya. Asta mengangguk. Sanjaya keluarkan satu kantung kecil berisi lima tabung kecil.
"Kita perlu air"
"Biar aku yang mencari" Asta cepat berkelebat pergi.
Sanjaya keluarkan pisau kecil dengan ujungnya yang runcing di tusuknya empat titik di sekitar luka di telapak kaki Abhinaya. Abhinaya gigit bibirnya menahan sakit, keringat mengucur deras entah mengapa tusukan di kaki tadi rasa sakitnya melebihi goresan pedang. Dari empat titik yang ditusuk kembali menetes darah merah kehitaman. Sanjaya ambil beberapa tetes darah lalu ditorehkannya diatas sebuah daun sampai lima titik. Sanjaya lalu lakukan pijat urutan yang dimulai dari pangkal paha sampai ke betis dimana kain pengikat pencegah naiknya racun. Tujuannya untuk memeriksa sekaligus membendung jika ada racun yang mulai naik setelah aman dia lanjutkan mengurut betis dibawah ikatan kain hingga sekitar luka di telapak kaki. Tampak darah kehitaman banyak mrngucur keluar. Baunya amis dan sedikit mengeluarkan asap tipis. Abhinaya rasakan kakinya seolah diinjak remuk oleh seekor banteng, mulutnya keluarkan suara keluhan pendek, wajahnya memucat dan dipenuhi percik keringat karena menahan sakit. Lingga begitu khawatir melihatnya.
"Sanjaya, apa kita tidak perlu mencari tabib yang lebih berpengalaman, bukan maksudku merendahkan kemampuanmu tapi..." kata-kata Lingga tertutup karrna di lihatnya Abhinaya mengangkat tangan kirinya tanda tidak setuju.
"Sanjaya teruskan saja" Pinta Abhinaya, saat itulah Asta kembali membawa sekantung kulit air dan sebuah cangkir dari bambu.
"Tolong tuangkan air itu ke cangkir"
Sanjaya tampak keluarkan sedikit bubuk dari tiap-tiap tabungnya lalu di adukkan ke contoh darah diatas daun pisang, mana bubuk obat yang berhasil membuat warna darah kembali normal berarti itulah obat penawarnya. Ternyata obat itu ada di tabung ke empat yang berwarna kuning. Cepat sekali Sanjaya mengaduk air di cangkir dengan bubuk yang ada di tabung kuning lalu ramuan obat itu diminumkan pada Abhinaya. Rasanya teramat sangat pahit, hampir saja Abhinaya memuntahkannya jika saja Sanjaya tidak cepat-cepat menutup mulutnya sambil mengurut-urut urat di tengkuknya.
"Tadi itu racun kobra kuning, jika kita terlambat bisa fatal, untung saja Abhinaya memiliki daya tahan yang tinggi kalau tidak pasti keadaannya lebih gawat"
"Terima kasih" ucap Abhinaya sambil usap-usap bibirnya karena masih merasa pahit. Ada rasa hangat yang melegakan yang masuk di rongga dada dan perutnya.
"Untuk beberapa saat kaki Abhinaya tak bisa digerakkan sampai nanti senja ketika langit berwarna jingga" Ucap Sanjaya.
"Kita istirahat di sini saja, untung-untung ada kereta kuda yang bisa kita tumpangi ke kotaraja" Asta berkata sambil duduk di samping Abhinaya.
"Aku merasa mengantuk" ucap Abhinaya.
"Salah satu tanda obatku mulai bekerja, tidur saja agar obatku lebih cepat bekerja"
Abhinaya mengangguk, saat itulah tangan Asta telah meraih pundaknya lalu menyandarkan kepala Abhinaya di bahunya. Lingga melongok melihatnya.
"Kampret satu ini apa maksudnya berbuat begitu? Sengaja memanasiku? Sebenarnya hubungan mereka sahabat apa kekasih?" Lingga menggerutu di dalam hati. Dia kembali mengingat Jagal Cakram yang juga menyebut kata-kata kekasih yang selalu diucapkan si jagal. Lingga sendiri sebenarnya masih belum banyak tahu tentang latar belakang Abhinaya apalagi Asta.
Karena hati yang mendadak panas Lingga memutuskan bangkit pergi menuju samping pondok.
"Mau kemana?" tanya Sanjaya.
"Perutku mulas" ucap Lingga cuek. Asta hanya melihat sekilas saja.
Lingga jalan menuju semak belukar cukup jauh di balakang pondok. Sebenarnya perutnya tidak mulas , namun hatinyalah yang mules karena melihat kedekatan Asta dan Abhinaya.
"Mengingat wajah si Asta ingin rasanya ku kencingi mulutnya seperti ini" Lalu Lingga rorotkan celananya dan semburkan kencingnya kearah semak belukar itu. Setelah selesai dia yang masih geram dan jengkel cabut pedangnya dan babatkan ke sembarang tempat.
"Abhinaya, kenapa begitu banyak orang yang gila padamu, Cakranata lalu Asta" satu pohon kecil putus di babat pedangnya.
"Kalau bukan karena kau sahabat Abhinaya sudah ku habisi kau Asta" maki Lingga sedangkan kepalanya mulai mengukur-ukur kemampuan Asta. Saat itulah satu suara menyahut dari belakangnya.
"Memangnya kau mampu?"
Lingga kaget cepat menoleh. Sanjaya sedang menatapnya sambil tersenyum lucu.
"Tak ku sangka kau cemburuan sekali" ucap Sanjaya lagi. Wajah Lingga memerah malu karena dipergoki.
"Aku tau kau suka pada Abhinaya sejak di Lembah Cincin" Sanjaya menarik tangan Lingga mengajaknya duduk di batang pohon besar yang telah roboh.
"Aku tak tau Sanjaya, ada rasa sakit setiap melihat Abhinaya bermesraan dengan orang lain. Karena itu pula hampir saja aku membunuh Cakranata" lalu Lingga bercerita tentang perkelahiannya dengan Cakranata di Desa Bangir sampai peristiwa ketika dia menindih Abhinaya serta menghujaninya dengan ciuman. Sanjaya tertawa mendengarnya.
"Abhinaya itu menarik, dia laksana kembang langka indah yang siap memikat siapapun yang melihatnya. Dia berkepandaian tingg, aku sendiri takut jika berhadapan dengannya. sedikit angkuh dan misterius, selain itu dia tampan, ditambah lagi perutnya yang terpampang mulus cerah menantang" Ucap Sanjaya sambil membayangkan sosok Abhinaya.
"Jangan-jangan kau juga suka padanya cecar Lingga.
" bisa jadi" jawab Sanjaya. Lingga mendelik tangannya terkepal erat. Sanjaya semakin geli melihat wajah tampan Lingga ketika emosi, sedikit lucu dan konyol.
"Nah nah begitu saja langsung cemburu. Maksudku bisa jadi kalau aku tak kuat iman. Aku cuma bercanda" ucap Sanjaya.
"Aku tahu" jawab Lingga lesu, wajahnya menunduk menatap tanah yang diinjaknya.
"Tapi sepertinya Abhinaya juga menyukaimu"
"Sok tau" jawab Lingga acuh walau hatinya melonjak girang mendengarnya.
"Sumpah, dari cara dia melindungimu, bahkan ketika kau hilang dari penginapan dia yang paling khawatir, juga mana mungkin dia mau kau ciumi bertubi-tubi jika bukan karena cinta" jawab Sanjaya.
"Apa menurutmu aku harus mengutarakan perasaanku?"
"Harus, tapi kita lihat keadaan dulu. Yakin kan dulu hatimu, kita lihat apakah Abhinaya punya rasa cemburu juga jika kau dekat dan bermesraan dengan orang lain?" satu ide cemerlang yang diusulkan Sanjaya.
Kedua bola mata Lingga membuka lebar berbinar. Wajahnya sumringah berseri-seri.
"Kalau begitu maukah kau pura-pura jadi kekasihku dan bermesraan denganku?" tanya Lingga sambil menatap Sanjaya.
Karuan saja Sanjaya terkaget mendengarnya, pertanyaan ini tak diduganya sebelumnya.
"Gila kau, ogah. Cari orang lain" Sanjaya laku bangkit dan melangkah meninggalkan Lingga sambil menggerutu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasywarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
