Sekelumit Masa Lalu

1.2K 104 3
                                        

Sanjaya dan Lingga kembali ke pondok kosong, di atas ranjang Abhinaya tengah tertidur di pangkuan Asta. Sedangkan Asta membelai rambut Abhinaya. Kembali Lingga bercemberut melihatnya.
Sanjaya dan Lingga duduk di bagian ranjang yang masih kosong.

"Mesra amat" sindir Lingga. Asta melirik sekilas.

"Dia sahabat terbaikku, kami besar di lembah cincin bersama-sama, berlatih silat bersama. Aku mengenal baik dirinya luar dalam" jawab Asta menanggapi sindiran Lingga.

"Luar dalam? Maksudmu" pikiran Lingga mulai kotor. Jangan-jangan Asta dan Abhinaya sudah berbugil-bugilan.

"Maksudku tabiat dan sifatnya. Kami sudah tiga tahun berpisah, aku meninggalkan lembah cincin sedangkan dia setia di sana menjaga makam kekasihnya"

"Makam? Jadi kekasihnya sudah mati?" tanya Lingga.

"Panjang ceritanya, sejak kematian kekasihnya, Abhinaya menjadi rapuh dan kehilangan semangat, beruntung secara perlahan-lahan aku bisa membangkitkan semangatnya lagi"

"Siapa kekasihnya dan siapa pula pembunuhnya" kali ini Sanjaya yang ajukan pertanyaan, dia tertarik akan kisah Abhinaya.

"Kekasihnya bernama ..." belum sempat Asta menjawab. Terdengar suara Abhinaya batuk-batuk dan mengigau menyebut satu nama.

"Pri... Aku akan membalas kematianmu. Pri ... Tunggulah aku, aku pasti bersamamu lagi"
Berulang kali Abhinaya mengigau memanggil nama Pri.

"Suhu badannya panas" ucap Asta setelah memeriksa Abhinaya.

"Tak usah khawatir, itu pengaruh obatku, memang ada kalanya membuat orang mengigaukan masa lalunya" jawab Sanjaya sambil senyum kecil.

"Bolehkah aku ganti memangkunya?" tanya Lingga. Asta tersenyum lalu mengangguk.

"Kebetulan aku sudah pegal" dengan cepat kepala Abhinaya telah berpindah kepangkuan Lingga.

Suasana mendadak hening sesaat. Langit mulai mendung tak lama kemudian gerimis pun turun. Asta memandang curah gerimis dengan pandangan penuh arti.

"Dulu kami bertiga, aku, Abhinaya dan Prima dijuluki Tiga Pendekar Terbuang dan berkediaman di lembah Cincin" tanpa ada yang meminta Arta mulai bercerita

"Kami bertiga orang-orang yang terbuang. Aku terbuang dari kampung karena aku anak seorang kepala rampok, kalau saja aku tidak lari mungkin aku sudah mati. Waktu itu usiaku 12 tahun. Dalam pelarianku aku bertemu dengan Abhinaya. Dia masih seorang anak lelaki yang bernasib malang menjadi seorang budak dari keluarga bangsawan yang memperlakukannya dengan buruk. Kedua orangtuanya telah lama mati. Karena kesamaan nasib kami memutuskan kabur menuju ke sembarang tempat, hingga tanpa sengaja kami menemukan Lembah Cincin. Di lembah itu kami menemukan dua buah kitab peninggalan seorang pendekar sakti yang telah tiada. Dua kitab itu ialah kitab Bayu Resti dan Kitab Tujuh Pedang Dewa. Abhinaya mempelajari Bayu Resti sedangkan aku mempelajari kitab satunya lagi. Kami berlatih berdasarkan petunjuk di isi kitab itu. Bertahun-tahun hingga kami berumur 18 tahun. Berkat dari petunjuk kitab itu pula kami menemukan ruang rahasia tempat penyimpanan senjata, aku mendapatkan senjata tujuh buah pedang, sedangkan Abhinaya mendapatkan senjata sebuah kipas, sehelai kain sakti juga sebuah pedang yang indah" Asta berhenti sejenak tangannya tampak memainkan cucuran gerinis yang jatuh dari balik jendela.

"Setelah merasa mampu, kami berkelana dan bertemu dengan seorang pendekar muda yang sangat tampan, dia tak ingin kami menyebut nama aslinya, makanya kami memanggilnya dengan nama Prima. Dia juga orang terbuang dari keluarga yang tak menerima anaknya mencintai sesama pria, kehadiran pendekar itu semakin membuat nama kami melambubg, banyak pendekar-pendekar golongan hitam dan jahat telah kami lumpuhkan. Semakin lama aku melihat Abhinaya dan Prima semakin dekat, dan sesuai dugaanku mereka akhirnya jatuh cinta. Sebuah kisah cinta sesama pria. Namun sayang berita itu menyebar dengan cepat. Prima yang tampan banyak memiliki pengagum dari kalangan pendekar wanita, mendengar kalau Prima lebih memilih seorang pria menjadi kekasihnya. Para pendekar wanita itu banyak berubah jadi benci dan dendam. Yang menyedihkan banyak pula dari golongan putih yang membenci mereka berdua dan juga aku. Sejak itu kami diburu, karena bagi sebagian golongan putih cinta sesama pria suatu aib yang memalukan. Dan salah satu yang paling bernafsu membunuh kami adalah guru dan ayah dari Prima sendiri. Di satu bukit kami bertempur melawan kedua orang itu, ilmu mereka sangat tinggi dan jauh berpengalaman dari kami. Dan disana terjadilah peristiwa berdarah itu..."

"Peristiwa apa?" Lingga bertanya dengan hati tercekat. Lingga tertegun, diam-diam dia merasa kisah Prima mirip dengan kangmas nya Rianta yang juga terbuang dari keluarga. Begitu pula Sanjaya dia terdiam menanti cerita Asta.

"Prima mati terbunuh diujung pedang ayahnya sendiri ketika tengah melindungi Abhinaya. Setelah kematian Prima, guru dan ayah Prima seolah sadar memutuskan meninggalkan kami" Asta menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.

"Saat itu untuk pertama kali aku melihat Abhinaya seperti orang gila menangisi kematian Prima. Bahkan berulang kali ingin bunuh diri. Aku membawanya kembali ke Lembah Cincin, disana kami memakamkan Prima di samping makam guru kami. Sejak itu hari-hari Abhinaya penuh kesuraman, makannya tidak teratur, sering murung dan merenung, sehari-hari dihabiskannya dengan duduk di samping makam Prima, menabur bunga, memanjat doa berharap Prima hidup kembali" kedua mata Asta mulai berkaca-kaca, dan beberapa tetes airmata mengucur jatuh.

"Aku yang sudah menganggapnya saudara akhirnya mencoba menyadarkannya, menata hidupnya agar kembali seperti sedia kala, namun sejak itu Abhinaya yang baik menjadi dingin pada orang lain, apalagi orang-orang golongan putih. Karena sifat itu banyak orang menyangka Abhinaya menjadi pendekar golongan Hitam. Abhinaya jadi kejam dan membunuh sembarangan. Dia semakin giat berlatih, kemajuannya sangat pesat bahkan kepandaiannya sudah jauh melampauiku, tujuannya hanya satu membalas dendam. Meskipun di ujung kematian Prima, pemuda itu sempat meminta kami untuk tidak berdendam pada ayah dan gurunya sendiri"

Asta berhenti bercerita. Suasana menjadi hening, Sanjaya duduk termangu sedangkan Lingga menatap wajah Abhinaya yang tengah terpulas dipangkuannya, dibelainya rambut pemuda itu dengan mata berkaca-kaca. Tak menyangka penderitaan batin Abhinaya sehebat itu.

"Tapi sifat dingin Abhinaya sekarang aku lihat sudah sedikit mencair, dia sudah mulai mau tersenyum pada orang lain selain aku, dan semua itu terjadi karena kehadiran kalian. Aku senang kalian punya dampak baik bagi sahabat ku ini"

"Mengapa orang-orang membenci cinta sesama pria?" Lingga entah bertanya pada siapa.

"Tidak semua, namun hanya segelintir orang saja" jawab Asta.
Hujan yang awalnya rintik-rintik berubah jadi deras sederasnya. Mereka memutuskan brristirahat di pondok itu. Asta dan Sanjaya tidur diatas lantai kayu beralas kain, sedangkan Lingga tidur di ranjang bersama Abhinaya. Namun mata Lingga tak bisa terpejam, dia masih terus terbayang cerita kelam Abhinaya. Ketika dirasakan tubuh Abhinaya bergetar halus menggigil di tariknya tubuh itu kedalam pelukan hangatnya, satu ciuman didaratkannya ke kening Abhinaya.

ASMARA BERDARAH (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang