"Kijang kita" Kata-kata itu trrus mengiang di telinga Abhinaya sambil melirik Prima yang makan begitu lahap, entah sudah berapa puluh tusuk sate yang amblas ke perutnya. Abhinaya harus mengakui betapa tampan pemuda itu.
Jika dibandingkan dengan Asta, Prima jauh lebih tampan. Tubuhnya kokoh sempurna pertanda sejak kecil dia telah digembleng jadi pendekar digdaya. Prima sendiri tau kalau Abhinaya curi-curi pandang padanya, bahkan sesekali mata mereka bertemu. Setelah makan malam mereka kembali bercerita riwayat masing-masing.
"Aku seorang pangeran dari Lokajaya, ayahanda prabu mengusirku dari istana. Bahkan memutuskan pertalian darah kami" Ucap Prima sambil bersandar di sebuah batang pohon.
Asta dan Abhinayaendengarkan dengan penuh perhatian.
"Kenapa ayahmu bisa semurka itu?" Tanya Asta pula. Prima terdiam sesaat, di matanya terbayang hal tragis yang dialaminya.
"Semua karena cinta" Prima menjawab dengan lirih.
"Cinta? Huh ada-ada saja" Terdengar suara Abhinaya mengejek.
"Kau itu seorang pendekar apa seorang buaya darat? Siapa tahu dengan memanfaatkan ketampananmu kau adalah perayu ulung dan penggoda anak gadis orang" Ucap sinis Abhinaya lagi.
Prima tak marah dikatai seperti itu, dia justru tersenyum. Senang karena secara tak sadar Abhinaya mengakui ketampanannya, juga wajah Abhinaya ketika berkata tadi sungguh menggemaskannya.
"Aku tak tertarik pada wanita" Ucap Prima juga, agak dikeraskan karena sedikit jengkel dan gemas dikatai terus-terusan oleh Abhinaya.
"Uhuk" Asta terbatuk bertepatan sesaat setelah dia meneguk air.
Asta dan Abhinaya saling pandang.
"Maksudmu kau seorang pria penyuka pria?" Tanya Asta pula.
Prima mengangguk pasrah, sedangkan matanya menatap hampa api unggun yang menjadi penerang malam itu.
"Hmmm tak apa. kami telah banyak mengunjungi tempat. Banyak Kerajaan yang mengizinkan hal itu, tapi sayang Lokajaya bukanlah negeri yang ramah terhadap cinta sejenis itu" Tutur Asta bijak.
"Lalu bagaimana ayahmu bisa tahu kslau kau seperti itu?" Kali ini ganti Abhinaya bertanya.
"Beliau memergokiku ketika tengah bermesraan dengan dengan kekasihku" Jawab Prima. Dibenaknya membayang sosok kekasihnya Andana, seorang pria desa sederhana.
"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Abhinaya lagi.
"Mereka menangkap dan memenjarakan kami. Aku dipaksa untuk meninggalkan Andana, kekasihku dan menikahi putri kerajaan sahabat. Tapi aku menolak, aku lebih baik mati daripada menghianati Andana. Dan yang terjadi seterusnya sungguh mengerikan. Ayah menyuruh beberapa prajurit merusak kehormatan Andana lalu membunuhnya. Selama berminggu-minggu aku menangis dan pasrah di penjara berharap agar segera mati saja. Tiba-tiba ketika aku mau bunuh diri ibunda ratu dan adikku masuk diam-diam dan membebaskanku. Ah aku teramat menyayangi ibu dan adikku. Itulah mengapa aku menuruti permintaan beliau"
"Kalau aku jadi kau, akan ku obrak-abrik kotaraja" Ucap Abhinaya asal dan geram karena terbawa cerita Prima.
"Ayahanda sangat sakti, belum lagi jajaran petinggi istana beserta tokoh silatnya" Ucap Prima.
"Untung saja kami bukan rakyat negeri manapun, kami orang bebas berkelana, tak mengenal raja atau pangeran, bagi kami semua manusia sama. Tak ada yang rendah, tak ada yang tinggi. Kami adalah raja bagi diri kami sendiri" Ucap Abhinaya lagi.
"Aku senang bertemu dengan kalian, apakah aku boleh bergabung dengan kalian?" Pinta Prima.
"Tentu! Bertambahnya teman tentu menambah pengalaman dan wawasan pula" Ucap Asta cepat.
Kemudian Asta dan Abhinaya turut pula menceritakan riwayat kecil mereka. Prima mendengarkan dengan penuh prihatin dan seksama, tak menyangka jika kedua sahabat barunya itu memiliki masa kecil yang sengsara. Sungguh berbeda jauh dengan masa kecilnya yang penuh nikmat dan kemewahan sebagai seorang pangeran, meskipun kasta pangerannya tinggal kenangan saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasywarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
