Desa Rimbang Biru, sebuah desa kecil di kaki gunung yang subur. Penduduknya hidup aman dan cukup makmur. Rata-rata bermata pencaharian sebagai perani dan peternak, segelintir orang menjadi saudagar kaya yang barang dagangannya dijual ke berbagai penjuru negeri.
Seorang anak kurus berusia 10 tahun tampak memberi makan seekor kuda, serelah selesai dia lanjut membersihkan halaman luas di rumah saudagar kaya Raden Sujatmika. Dialah Abhinaya Bayu, anak malang yang ditinggal mati kedua orang tuanya. Kini harus hidup sebagai budak di rumah termegah di desa itu.
"Abhi!" Terdengar teriakan anak kecil memanggilnya. Abhi hentikan pekerjaannya dan langsung berlari menuju asal suara.
"Iya Den, ada apa?" Tanya Abhi sambil menunduk.
Seorang anak berumur 13 tahun dengan pakaian bagus tampak berkacak pinggang di hadapannya.
"Cepat timbakan air, aku mau mandi. Ingat, harus dihangatkan lebih dahulu" Bentak si anak yang segera berlalu.
Abhinaya cepat kerjakan tugas itu, ternyata setelah mandi tuan kecilnya yang bernama Dimas Rindanu itu, mengajaknya ke pasar bersama Tuan Nyonya. Abhinaya bertugas sebagai kuli pembawa barang belanjaan, di dampingi seorang emban tua sebagai pembawa payung, lalu dua orang prajurit.
Tatkala mereka menyinggahi penjual mainan, Abhinaya tertarik melihat aneka mainan itu, ada wayang-wayangan, pedang-pedangan hingga topeng dan tiruan binatang dari kayu dan tanah liat. Karena asiknya Abhinaya jadi terlena, dia tak sadar telah tertinggal dari tuannya. Saat itulah seseorang menyambar barang belian milik Raden Kecil dan melarikannya. Tentu saja hal ini membuat Nyonya berang, tamparan, jambakan dan tendangan juga makian bertubi-tubi diterima Abhi. Tampak wajah anak kecil itu telah lebam dan memar.
"Sekarang cepat kamu cari barang-barang yang hilang iti sampai dapat, jika tidak kamu garus menggantinya. Jangan pernah kembali jika tidak membawa apa-apa!" Bentak Nyonya majikan sambil menjambak rambut Abhi. Orang-orang di pasar memandang iba, namun tak berani berbuat apa-apa. Apalah daya nasib orang kecil seperti mereka.
Hari itu Abhinaya melangkah ke sana kemari taktentu arah, dia bingung harus berbuat apa, sementara perutnya telah perih melilit kelaparan. Akhirnya di tepi sebuah persawahan dia duduk dibawah sebuah pohon sambil meramas perutnya yang haus dan lapar, sementara hari semakin panas. Tak terasa air mata bercucuran, dia mulai menangis terisak-isak.
"Plukk!" Tiba-tiba sesuatu menimpuk kepalanya. Sekali dia tidak perduli dan terus menangis, namun timpukan itu terulang hingga tiga kali, mau tak mau dipandanginya apa yang jatuh diatas kepalanya. Ternyata jambu air. Abhinaya hentikan tangisnya, seingatnya dia tidak duduk di bawah pohon jambu, lalu mengapa ada jambu yang jatuh dari atas. Cepat diangkatnya wajahnya memandang ke atas pohon. Satu anak ternyata duduk uncang-uncang kaki di salah satu cabang pohon di balik rimbunnya daun sambil mengunyah jambu. Begitu melihat Abhinaya, anak itu tertawa.
"Hai, kenapa berhenti menangis? Suara tangismu mantap, seperti nyanyian sinden" Ucap si anak di atas pohon.
"Kenapa kau menimpuk kepalaku dengan jambu?" Tanya Abhinaya kesal.
"Aku tidak menimpukmu, malah aku tengah berbaik hati berbagi berkah memberimu tiga buah jambu" Ucap si anak, lalu gesit sekali anak di atas pohon bergerak turun dari pohon dan kejap kemudian dia telah melompat turun di hadapan Abhinaya.
Abhi menatap kagum melihat ke ahlian memanjat anak itu.
Anak itu duduk di hadapan Abhinaya lalu mengeluarkan beberapa jambu yang merah dan segar dari balik pakaiannya. Air liur Abhinaya langsung menetes, tanpa menunggu izin dia langsung melahapnya dengan rakus. Anak di depannya walau melongo akhirnya tersenyum geli juga.
"Wah sudah berapa hari kau tak makan?" Tanyanya pada Abhinaya
"Dari tadi malam"
"Kau tinggal di mana?"
"Di rumah Raden Sujatmika"
"Wah saudagar kaya itu, masakan kau tidak diberi makan?"
"Aku budak mereka" Jawab Abhinaya. Anak di depannya terdiam beberapa saat sambil memperhatikan Abhinaya.
"Aku Prahastana, panggil saja Asta"
"Aku Abhinaya Bayu"
"Nah Abhi, sekarang kita berteman, oh iya kenapa kau menangis?"
Abhinaya lalu menceritakan apa yang selama ini dialaminya.
"Diperlakukan seperti itu kau cuma diam saja?" Sesal Asta.
"Kalau aku jadi kamu, Raden kecil sombong itu sudah ku hajar dan keluarganya ku racuni"
"Aku tak berani" Lirih Abhi.
"Ah kau terlalu cengeng.aku juga sepertimu. Ayah dan ibuku sudah tidak ada karena dibunuh, aku berhasil kabur, dan sekarang aku hidup asal-asalan dan suka-sukaku, tapi aku senang, aku bebas mau apa saja. Sekarang apa kau mau kembali ke rumah mejikan penyiksamu itu?" Asta bercerita sedikit mengenai latar belakangnya.
"Kalau tidak ke sana kemana lagi aku pulang?"
"Bodoh,buat apa ke sana lagi. Dunia ini luas, banyak tanah tak bertuan yang bisa kita tinggali"
"Tapi kitakan masih kecil" Sungut Abhinaya polos.
"Meski kecil, kita harus kuat. Sudah kau ikut aku saja" Asta menafik tangan Abhi. Baru saja mereka bangkit, terdengar teriakan.
"Itu bicah yang mencuri jambu dan manggaku. Tangkap!"
"Wah celaka, ayo kabur!" Asta menarik Abhi berlari menuju hutan dan bersembunyi di baliksemak. Ketika orang-orang yang mengejar terkecoh, keduanya keluar lalu tertawa bersama.
"Ayo kita kerumahku!" Ajak Asta
"Memangnya kau punya rumah?" Tanya Abhi heran.
Asta tak menjawab, melainkan menarik tangan Abhinaya saja. Mereka memasuki hutan makin ke dalam dan semakin lebat, ternyata di sana ada sebuah pondok kecil.
"Itu rumahku, dulu pondok tak berpenghuni, jadi aku tinggali. Aku bersembunyi, biasanya aku memancing, mencari buah untuk dimakan. Kalau tidak ada ya tinggal mencuri saja, jagung dan singkong penduduk banyak, ayamnya juga berkeliaran ke mana-mana"
"Kau jahat juga" Ucap Abhinaya tak percaya anak sekecil Asta jadi pencuri.
"Ayahku memang perampok. Kalau tidak begitu aku tidak makan, kau juga harus begitu"
"Aku jadi maling?" Tanya Abhi kaget.
"Kenapa? Lucu dan seru, apalagi kalau orsng-orang gagal menangkap karena tertipu" Ucap Asta sambil tertawa.
Hari itu mereka lewati dengan saling bertukar cerita. Bahkan hari-hari berikutnya mereka mulai beraksi menjadi pencuri kecil-kecilan sekedar untuk mengganjal perut.
Lama kelamaan Abhi menikmati dan jadi mahir mencuri berkat ajaran Asta, bahkan malah lebih jago dari guru kecilnya. Mereka menjadi nakal dan liar namun juga senang. abhi begitu bahagia bersama Asta, belum pernah dia merasa sebebas ini. Bisa bermain, bisa mandi di sungai, memanjat pohon untuk mencuri buah, menjadi maling ayam, bahkan baru saja mereka mencuri ayam milikRaden Sujatmika bekas majikan Abhinaya, tak lupa mereka sempat melempari rumah saudagar kaya itu dengan tempurung berisi tahi kambing sebelum kabur.
Namun kelamaan, tempat persembunyian mereka ketahuan juga dan habis kena bakar penduduk. Mereka akhirnya kembali luntang-lantung ke sana kemari hingga tak sengaja tersesat ke lembah cincin, yang membuat mereka menemukan dua buah kitab berisi ilmu kesaktian dan ilmu silat yang dahsyat. Bertahun-tahun mereka tinggal di lembah itu sembari berlatih silat hanya berpedoman pada kitab dan gambar pahatan di dinding tebing. Maka tak heran di umur 17 tahun mereka telah menjadi pendekar sakti berkepandaian luar biasa tinggi.
Sebagai pendekar mereka berkelana ke segala penjuru, sudah banyak negeri yang mereka datangi dan telah banyak pula pendekar yang mengacaukan penduduk mereka basmi, nama mereka berdua mencuat di dunia persilatan. Ditakuti golongan hitam, juga disegani golongan putih. Namun Abhi dan Asta tak mau bergabung ke salah satu dari dua goongan itu. Mereka adalah pendekar merdeka yang bebas, toh banyak juga penddekar dari golongan putih yang berhati munafik dan tak sedikit pula golongan hitam yang ternyata punya belas kasihan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasiwarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
