Tiga sosok lelaki menyusuri jalanan di tengah hutan menuju Lokajaya. Abhinaya berjalan paling depan, sedangkan Lingga dan Sanjaya berjalan berdampingan, suara siulan asal-asal dari mulut Sanjaya terdengar nyaring.
"Hati-hati! Kita sedang diikuti" Tiba-tiba Abhinaya berkata sambil bersikap biasa saja. Sanjaya dan Lingga saling pandang.
"Berapa banyak?"
"Tujuh orang" jawab Abhinaya tetap tenang dan dingin.
"Apa kau tau siapa mereka?"
"Semuanya berilmu tinggi, kenapa? Apa kau takut?" Tanya Abhinaya.
Sanjaya ingin menyahut namun ketika itu pula di saat bersamaan dari belukar di sekitar mereka melesat tujuh sosok manusia, dua diantaranya perempuan. Ketujuh orang itu berdiri melingkar mengurung mereka. Lingga dan Sanjaya tak mengenal ketujuh orang itu. Namun Abhinaya terlihat tenang saja.
"Huh akhirnya ketemu juga dengan murid Malaikat Putih" yang berseru kakek yang menghadang di depan. Kakek ini berperawakan kurus dengan membekal sebuah tongkat berkepala tengkorak, di dunia persilatan dia dikenal dengan julukan Ki Rangkong. Di kirinya berdiri seorang nenek berambut putih juga berpakaian putih namun bibirnya diberi gincu berwarna ungu, dunia persilatan mengenalnya sebagai Nini Senari. Sedang di sebelah kanan berdiri seorang lelaki paruh baya bertampang angker karena dipipinya terlihat bekas codet. Dia dikenal dengan julukan Codet Setan.
"Ternyata murid si Malaikat Putih ini tampan sekali" ucap Nini Senari. Sanjaya memperhatikan pula dua orang yang mengurung di belakang, dua orang pemuda berusia kurang lebih 30 tahun bersenjatakan golok. Mereka di kenal sebagai sepasang golok iblis.
Lalu yang menghadang di samping kiri seorang perempuan muda bercadar hitam, Dewi Cadar Hitam.
Sedangkan di samping kanan seorang penjahat bertubuh gendut bersenjatakan gada besar, dialah si Gada Guntur Bumi.
Sanjaya dan Lingga tak mengenal mereka namun mulai bersikap waspada karena naluri mengatakan akan terjadi pertarungan, dan ketujuh orang itu dari gerak geriknya pastilah sangat tangguh.
"Lagi-lagi orang cari mati demi sebilah pedang butut" Abhinaya keluarkan ucapan.
"Hmmm bicaramu sombong sekali anak muda, kami tidak mengenalmu dan tidak punya urusan denganmu, kalau kau masih sayang nyawa silahkan pergi" Ki Rangkong yang bicara.
"Anak muda murid Malaikat Putih dimana pedang Naga Emas? Kami tak melihatnya di punggungmu" Tanya Nini Senari.
"Sudah ku kembalikan pada guruku" jawab Lingga asal, padahal berkat ilmu ghaib yang diajarkan Abhinaya, pedang itu telah disimpannya di ruang ghaib.
"Mau berbohong dia rupanya" Si gendut Gada Guntur Bumi berkata.
"Kalau dia bilang tidak ada ya tidak ada, lagipula apa kalian tidak malu meminta pedang yang bukan milik kalian?" Sanjaya berkata pula.
"Hei pemuda ceriwis jaga mulutmu" benta Ki Rangkong.
"Sekali lagi kami ingatkan, jika tak ingin celaka serahkan pedang itu, aku tau pedang itu pasti kalian sembunyikan, aku bisa rasakan hawa saktinya"
"Mungkin yang kau cium itu hawa kentutku bukan hawa pedang" sahut Sanjaya enteng, Lingga ngakak mendengarnya. Hanya Abhinaya yang terlihat acuh.
Dihina seperti itu Ki Rangkot rasakan dadanya seakan pecah sangking marahnya. Namun coba ditahannya juga luapan amarahnya, lalu si kakek kembali berkata angker.
"Kau cari mati anak muda"
"Kalian cuma bertiga dan kami bertujuh, membunuh kalian sangatlah mudah bagi kami" menambahi Dewi Cadar Hitam.
"Siapa bilang mereka cuma bertiga, karena aku bersama mereka" Tiba-tiba dari atas sebuah pohon terdengar satu suara menyahut. Dan kejapan kemudian satu sosok berpakaian hijau melayang turun dari pohon itu dengan gerakan enteng. seorang pria berwajah tampan berdiri tepat di samping Abhinaya. Alisnya tebal dengan bibir tipis memiliki rahang yang kokoh, matanya setajam elang. Dipunggungnya tergantung sebuah peti kecil sepanjang punggung. Dewi Cadar Hitam yang mengenal sosok itu menjerit tertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasywarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
