"Apakah keadaanmu sudah membaik?" Tanya Empu Jagatnata pada Varsha.
"Terima kasih empu, berkat pertolongan dan pengobatanmu, keadaanku bisa lebih baik" Varsha menjawab sambil mengatur hawa murninya ke seluruh tubuh.
"Apa benar kau memiliki ilmu Hawa Dewa?" Tanya Empu Jagatnata.
Varsha mengangguk sambil kembali mengatur jalan darahnya.
"Bagus! Kau tidak perlu bergabung bertarung, kau tetaplah di barisan belakang. Kerahkan ilmu hawa dewa mu, itu akan berguna untuk membantu memulihkan para prajurit dan pendekar yang terluka. Aku akan mengerahkan pula ilmu Nyanyian Bidadari Terluka untuk mempengaruhi pikiran para iblis. Mari kita bekerja sama. Meski tak bertarung secara langsung, namun peran kita di barisan belakang sangatlah penting" Tawar Empu Jagatnata.
"Aku mengerti. Mari kita lakukan Empu" Varsha cepat buka payungnya. Tampak payung itu melayang tiga jengkal diatas kepalanya berputar-putar perlahan. Tujuannya agar payungnya itu bisa melindunginya dari serangan membokong. Maka mulailah dia mengerahkan ilmu Hawa Dewa, mulutnya melantunkan mantera setengah bernyanyi. Tampak pendar-pendar cahaya hijau bening menebar ke segala arah.
Empu Jagatnata keluarkan seruling bambu kuning miliknya, ketika mulut meniup maka melantunlah nada-nada yang lirih mengundang kesedihan pendengar. Serangan Nyanyian Bidadari Terluka dipusatkan kepada para iblis hingga tak mempengaruhi pihak kawan.
Hasilnya sungguh luar biasa, barisan para iblis tampak goyah, serangan mereka mengendor, sebaliknya para prajurit dan pendekar berseru girang karena pendar-pendar cahaya hijau ilmu Hawa Dewa berhasil menutup luka-luka mereka, tenaga mereka seolah bertambah.
Maka mengganaslah serangan para pendekar. Belasan bahkan puluhan iblis kembali terbantai dalam sekejap. Dari puluhan menjadi ratusan. Mayat-mayat berdarah hitam keunguan semakin berhamparan disertai bau busuk.
"Kurang ajar! Pasti ini pengaruh suara suling jahanam itu!" Maki Resi Pramudya begitu melihat pasukannya kocar-kacir.
Dewi Tantri yang tengah bertarung dengan Prabu Kalanarta turut pula terjerat dengan ilmu Nyanyian Bidadari Terluka. Pikirannya kacau bahkan gerakannya menebaskan sepasang pedang pendek mulai melemah sempoyongan.
Hal ini tak disia-siakan Prabu Kalanarta. Perisai Murka Dewa dihantamkan memapas dua pedang hingga mental dan terlepas dari genggaman tangan Dewi Tantri. Tak hanya itu Prabu Kalanarta susul dengan satu jotosan ke wajah dan satu tendangan ke perut. Tubuh Dewi Tantri mencelat dan jatuh bergedebukan di tanah, mulutnya tampak bonyok terkena jotosan Prabu Kalanarta, tulang hidungnya patah. Wajahnya bersimbah darah.
Melihat keadaan Dewi Tantri itu, timbullah rasa kasihan Baginda Prabu Kalanarta. Bagaimanapun Dewi Tantri adalah salah satu istrinya, perempuan yang dicintainya.
"Tantri!" Serunya. Cepat dia melompat untuk melihat keadaan Dewi Tantri.
"Kanda! Mengapa kau tega kanda?" Ucap Dewi Tantri.
Prabu Kanarta cepat pangkukan kepala Dewi Tantri diatas pahanya, lalu kedua tangan membersihkan darah di wajah cantik itu.
"Maafkan kandamu ini! Kenapa kau harus bergabung dnegan musuh Tantri. Padahal seberapa besarpun kesalahanmu, Kanda tetap akan memaafkanmu. Marilah Tantri. Ikut kanda kembali. Kita besarkan anak-anak kita. Kelak Kanda akan membagi dua negeri ini, satu untuk Lingga, satu untuk Santiko" Ucap Ptabu Kalanarta penuh kasih dan sesal.
"Benarkah itu Kanda? Benarkah?"
"Tentu istriku"
"Kanda aku bahagia mendengarnya. Benarkah kanda masih mengasihiku?"
"Kanda mencintaimu, dinda" Jawab Prabu Kalanarta
"Maukah kanda memelukku dan membawaku pulang" Pinta Dewi Tantri dengan suara memelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasywarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
