Varsha kembali ulangi usahanya untuk menyembuhkan Asta, dia duduk bersila di belakang Asta yang juga tengah bersila. Ke dua tangan ditempelkan ke punggung Asta, terdengar mulut menggumam halus membaca rapalan yang berupa senandung merdu. Varsha tampak menyapukan kedua tangannya ke punggung Asta sembari membuat beberapa totokan lalu telapak tangannya berhenti di sekitar kepala Asta, telapak kiri di tengkuk sedangkan telapak kanan di atas ubun-ubun.
"Hawa Dewa hawa penyembuh, lewat semesta berilah kesembuhan pada jiwa terluka" Varsha berseru lembut namun berkesan tegas. Abhinaya perhatikan perbuatan si pemuda dengan mata tak berkedip dan hati harap-harap cemas, mendadak udara diruangan itu menjadi sejuk karena muncul angin lembut berkesiuran mengitari Varsha dan Asta, lama kelamaan angin lembut yang mengitari kedua pemuda itu memancarkan sinar hijau bergemerlap, semakin lama sinar hijau itu semakin besar dan terang dan wussss, laksana tersedot sinar itu sedikit demi sedikit masuk ke tubuh Asta.
Sosok yang tengah terluka itu tampak terguncang hebat, darah kehitaman berbau amis keluar dari seluruh rongga tubuhnya, kedua liang telinga, hidung, mulut, pusar, bahkan dubur dan aurat lelakinya. Begitu sinar Hijau musnah terdengar suara muntahan hebat dari mulut Asta, darah kehitaman yang kental dan berbuku-buku menyembur dahsyat dari mulutnya. Lalu tubuh itu ambruk roboh diatas pangkuan Varsha.
Varsha hentikan pengerahan ilmu Hawa Dewa nya, dibaringkannya tubuh Asta diatas ranjang. Sembari memeriksa denyut nadi di pergelangan, leher dan juga disekitar jantung pemuda.
"Bagaimana? Apakah berhasil?" Tanya Abhinaya cemas. Tampak Varsha tersenyum simpul.
"Dewa memberkati, denyut nadi dan detak jantungnya kembali normal. Kau lihatlah, wajah pucatnya telah kembali berdarah merona walau belum begitu kentara, sahabatmu banyak kekurangan darah. Aku aka membuat makanan dan ramuan yang bisa menambah darah" ucap Varsha. Lalu si pemuda bangkit menuju ruangan dimana dia menyimpan bahan-bahan alami untuk obat-obatan.
Abhinaya sendiri duduk di sisi Asta, dibelainya kepala sahabat dekatnya. Matanya tampak berkaca-kaca, bagaimanapun selama ini Asta selalu bertindak tangguh, tegar dan tahan banting bila dihadapannya, sikapnya tegas dan penuh kharisma, bahkan selalu bersikap seolah ingin melindungi dan membela Abhinaya dari bahaya, padahal jelas-jelas kemampuan Abhinaya dua tingkat diatasnya. Mulanya Abhinaya merasa aneh mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu, namun lama kelamaan dia terharu juga.
"Asta... Kau pemuda tangguh, kau pasti sembuh" ujarnya lirih sambil menggenggam tangan kanan Asta, diciumnya tangan itu berulang kali.
Wajah Asta yang biasanya tampan dan memancarkan kekerasan hati tampak tak berdaya. Ketika tengah memandangi Asta tiba-tiba melintas bayangan wajah Lingga di benak Abhinaya.
"Lingga, aku tak tau apa yang ada dihatimu, namun kau telah menjatuhkan tangan jahat terhadap sahabat baikku, jika kelak aku bertemu denganmu rasanya tak akan puas hatiku jika tidak memberikan satu pelajaran padamu. Dahulu ayahmu telah membunuh kekasihku, dan kini kau mencederai sahabatku, dosa keluarga kalian kepadaku terlalu besar" hati Abhinaya menggeram sendiri. Saat itulah dirasakannya genggaman tangan Asta ditangannya mengerat.
"Abhi... Abhi..." terdengar suara yang biasanya lantang dan jantan itu berucap lirih menyayat-nyayat, inilah kali pertama seumur hidup Abhinaya mendengar Asta berkata dengan lagu seperti itu. Hatinya seolah diremuk oleh tangan raksasa.
"Asta.. Kuatkan hatimu" ucap Abhinaya. Namun mata Asta masih terpejam pertanda dia masih terpulas, rupanya dia tengah mengigau. Mulutnya kembali berucap diluar sadarnya.
"Abhi... Jangan tinggalkan aku. Abhi asal kau tau, jauh sebelum Rianta hadir, aku lebih dulu menyimpan rasa padamu, Abhi, aku mencintaimu"
Mendengar ucapan itu kagetlah Abhinaya, hatinya bergetar hebat. Jadi selama ini Asta mencintainya. Bagaimana mungkin Abhinaya tidak menyadarinya? Begitu hebatnyakah Asta bersandiwara menyembunyikan perasaan sayangnya?
Abhinaya terduduk lemas, tampak sepasang matanya berkaca-kaca bahkan telah pula melelehkan air mata. Saat itulah memori kebersamaannya dengan Asta kembali berulang di ingatannya, mulai pertama bertemu hingga kehadiran Rianta.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasywarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
