Penghuni Istana Lokajaya kembali berduka, di dalam kamar megah milik Lingga suara isak tangis terdengar melirih.
"Kanda, bangun kanda? Jangan biarkan Dinda seorang diri, belum lagi satu purnama kita menjadi suami istri" Ambarwati menangis di sebelah Lingga yang berbaring.
Di kamar megah dan besar itu penuh dengan berkumpulnya petinggi istana. Ada lima orang yang tengah terluka dalam di sana, mereka adalah Baginda Kalanarta, Malaikat Putih, Panglima Garung, Pendekar Tiga Laut dan yang terparah adalah Lingga.
Baginda Kalanarta dan Malaikat Putih masih mampu bertahan, sedangkan Pendekar Tiga Laut dan Lingga dalam keadaan tak sadar.
Resi Marendra yang juga merangkap sebagai tabib istana berusaha untuk mengobati mereka semua.
"Bagaimana Resi?" Tanya Baginda Prabu Kalanarta sambil memegang dadanya yang sesak.
"Baginda, agaknya kita membutuhkan bunga kamboja biru lagi" Ucap Resi Marendra.
Baginda Prabu wajahnya mengelam. Dia sungguh benci dan tak suka jika kembali harus menggunakan Bunga Kamboja Biru sebagai obat anaknya, karena itu artinya dia harus kembali melakukan percumbuan sesama pria, satu hal yang sangat dibencinya. Tapi jika membayangkan Lingga, putera kesayangannya itu akan mati kalau tak segera ditolong, tentu saja dia tak rela.
"Baiklah Resi, aku akan mengambil bunga itu kembali. Tapi terus terang aku juga mengalami luka dalam" Keluh Prabu Kalanarta.
"Tak mengapa. Gusti prabu masih cukup tangguh, semua karena Perisai Murka Dewa adalah senjata sakti yang sanggup membentengi dan memperkuat daya tahan gusti Prabu"
Ucap Resi Marendra.
"Kalau begitu aku segera kesana. Aku akan mengajak lima asasin perjaka. Ki Dipa, ,harap kau bersabar dan menunggu disini, jaga anakku!" Titah Prabu kepada Malaikat Putih.
"Jangan khawatir Gusti Prabu. Lingga adalah muridku, tentu saja akan ku jaga layaknya nyawa sendiri" Ucap Ki Dipa Wisena.
Baginda Kalanarta dengan langkah dibuat gagah, membelai kepala Lingga terlebih dahulu sebelum beranjak menuju pintu. Namun saat itu pula terdengar suara ketukan dan suara prajurit melapor.
"Ampun Gusti Prabu, keadaan sungguh tidak menguntungkan"Prajurit itu melapor dengan wajah pucat, gugup dan takut.
Baginda Kalanarta mencium sesuatu yang tidak beres.
" Prajurit, katakan apa maksud ucapanmu itu!"
"Ampun gusti! Pohon Bunga Kamboja Biru musnah dibakar seseorang yang tidak di ketahui" Jawab Prajurit itu kalut.
"Apa? Kurang ajar!" Bukk Baginda Kalanarta tendang dada prajurit yang tengah berlutut itu hingga semburkan darah.
"Bukankah ada selusin prajurit yang ditugaskan menjaga bunga keramat itu? Apa saja pekerjaan kalian hingga tak tau bunga itu terbakar" Baginda Kalanarta sangking murka nya kembali tendang prajurit itu hingga mental.
Prajurit malang itu tak mampu menjawab lagi karena telah roboh pingsan. Baginda Kalanarta rasakan lututnya goyah, harapan akan kesembuhan puteranya semakin tipis.
Semua orang diruangan itu menjadi hening. Baru saja Baginda Prabu Kalanarta mencoba menguatkan pijakan kakinya kembali tampak seorang senopati berjalan tergopoh dan terburu-buru menuju kamar itu.
"Ampun Gusti Prabu" Senopati itu langsung jatuhkan diri bersimpuh.
Prabu Kalanarta kembali mencium gelagat kurang baik. Dipandanginya Senopati muda bernama Randuwiku itu.
"Ada apa senopati! Aku sedang dalam keadaan kalut, jangan kau tambahkan dengan kabar tidak enak lagi" Ucap Gusti Prabu dengan tajam.
"Ampun Gusti Prabu, mana hamba sengaja berani berniat begitu. Hanya saja ini benar-benar darurat. Baru saja bagian telik sandi menerima surat dari elang pengintai yang dikirim dari gerbang perbatasan. Keadaan di gerbang empat perbatasan sedang kacau. Para prajurit dan punggawa Negeri Langitabang mendadak menyerang negeri ini dari empat penjuru" Laporan senopati itu membuat semua orang berseru kaget. Terlebih lagi bagi Gusti Prabu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasywarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
