Malam itu di satu ruang istana terjadi pertemuan kecil antara Baginda Prabu, Malaikat Putih, Panglima Perang, Pendekar Tiga Laut, Pardika, Lingga Putra dan seorang Senopati bernama Patih Yudhana. Mereka membahas peristiwa yang dialami Lingga dan Malaikat Putih.
"Pendekar Tiga Laut dan Pardika bagaimana penyelidikan kalian tentang penyerang rahasia di pertandingan tokoh silat kemarin, oh iya dimana wanita berjuluk Pendekar Melati itu?"
"Ampun baginda, kami gagal mendapat petunjuk pelaku penyerangan itu, hanya saja di satu tempat kami menemukan lokasi yang sebelumnya terjadi pertempuran, dari jejak jejak orang bertarung kami memastikan ada 3 orang yang bertarung disana sebelumnya" Pardika memberi lapiran sambil melirik Pendekar Tiga Laut.
"Di tempat itu pula kami menemukan patahan jarum yang sama seperti yang digunakan untuk membokong Pangeran Lingga, juga serbuk-serbuk dingin putih, adapun Pendekar Melati.." Pendekar Tiga Laut yang menambahi penjelasan Pardika menghela nafas sambil memandang Pardika.
"Mengapa dengan wanita itu?" tanya Baginda Prabu.
"Pendekar Melati kami temukan tewas dengan luka di punggung dan lehernya beserta mayat empat prajurit yang mengikutinya" jawab Pendekar Tiga Laut juga sambil menghela nafas.
"Apa?" Baginda Prabu tak bisa sembunyikan kagetnya.
"Setau saya Pendekar Melati memiliki ilmu yang tinggi tak mungkin dia dapat dikalahkan semudah itu" panglima Garung Parwata memberi pandangan.
"Berarti penyerangnya jauh lebih hebat dari dia" tutur Senopati Yudhana, Lingga cuma bisa berdiam, karena ini adalah kali pertama dia ikut pertemuan itu.
"Baik, Pardika dan Pendekar Tiga Laut teruslah menyelidik peristiwa peristiwa itu, waspadalah, jangan segan-segan untuk memghancurkan orang yang mengganggu keamanan negeri ini" Baginda Prabu memberikan perintah pada dua pendekar istana itu. Laku keduanya pamit.
Setelah kedua orang itu pergi kini giliran Malaikat Putih yang ditanya.
"Sahabatku Ki Dipa Swarna bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Baginda prabu sambil menyebutkan nama asli Malaikat Putih.
"Semua kejadian masih abu-abu, namun dugaanku antara si pemilik jarum dan si pemilik bubuk putih dua orang yang berbeda dan keduanya ada dipihak yang bersebrangan hingga saling bertarung. Adapun orang yang ketiga bisa jadi teman dari salah satu keduanya"
Baginda Prabu manggut manggut.
"Maaf Baginda Prabu ada yang ingin saya bicarakan dengan gusti Prabu juga ananda Lingga secara khusus" ucap orang tua itu. Baginda prabu mengerti maka dia meminta Panglima Garung dan Patih Yudhana pergi, hingga diruang itu tinggal mereka bertiga.
"Apa yang ingin kau bicarakan Ki?" tanya Baginda Prabu.
"Pendekar Angin dan Pendekar Tujuh Pedang ada di sini" ungkap Ki Dipa tegas.
"Apa? Bagaimana mungkin, bukankah mereka berdua sudah pernah kita hajar tiga tahun yang lalu"
"Justru itu yang ingin saya bicarakan, terutama saya ingin bertanya pada Lingga"
Lingga yang sedari tadi tidak memahami pembicaraan orang itu sedikit bisa menduga ada masalah yang membuat Ki Dipa, dan ayahnya bermusuhan dengan Abhinaya dan Prahastana.
"Apakah kau kenal dengan kedua orang yang eyang sebutkan?"
"Kenal eyang, mereka bernama Abhinaya dan Prahastana mereka sebelumnya adalah sahabatku tapi sekarang mereka adalah musuhku" ucap Lingga sedikit ketus karena terbayang Asta yang dianggapnya telah merebut Abhinaya.
"Apa? Jadi sebelum ini kalian berteman? Jauhi mereka anakku, mereka sangat berbahaya dan musuh negeri ini"
"Sekarang kami bermusuhan bahkan sebelumnya ananda telah bertarung dengan Pendekar Tujuh Pedang hingga cedera parah seperti yang ayahanda saksikan sendiri"
"Kurang ajar, kalau begitu dia harus ditangkap dan dihukum pancung"
"Adapun Abhinaya sendiri yang membuat cedera saya gusti prabu, ilmunya luar biasa tinggi, dia datang ingin menyelamatkan Asta dan membunuh Lingga" ucap Malaikat Putih.
"Apa?" kali ini Lingga yang tak bisa sembunyikan kagetnya. Bagaimana mungkin Abhinaya yang dicintainya berniat membunuhnya.
"Benar ananda pangeran, sewaktu eyang datang dia siap-siap ingin membunuh mu yang tengah pingsan dengan ilmu pedang angin, mungkin karena kau telah mencederai temannya" ucap Malaikat Putih mengatur jebakan, bagaimanapun juga dia sudah bisa menduga hubungan yang terjadi antara muridnya itu dengan Abhinaya dan dia tak ingin jika muridnya itu jatuh cinta pada seorang lelaki. Mendengar itu lemaslah hati Lingga.
"Abhinaya, teganya kau berbuat seperti itu padaku, orang yang mencintaimu. Kau lebih memilih Asta dibanding aku. Asta aku bersumpah menghabisimu" ucapan itu terlontar di dalam hati Lingga.
"Pelacur laki-laki itu memang tak punya malu. Lingga anakku, jika kau bertemu dengan mereka berhati-hatilah. Asal kau tau mereka penjahat besar di negeri ini karena merekalah yang telah membunuh Rianta kakak kandungmu" Ucapan Baginda Kalanarta itu membuat Lingga benar-benar terkejut, tangannya bergetar dan kakinya lemas. Sementara wajahnya berubah pias.
"Be benarkah itu?" tanyanya tak percaya.
"Benar anakku, dialah yang membuat kakakmu terjerumus dalam cinta sesat itu, dan setelah kakakmu jatuh cinta dia berpaling pada yang lain" jelas Baginda Kalanarta. Lingga jadi ingat cerita Asta beberapa waktu yang lalu.
"Pasti pria selingkuhannya itu Prima" begitulah yang dipikirkan Lingga karena teringat kisah Abhinaya yang dikatakan Asta ketika mereka masih bersahabat.
"Ayahanda, aku bersumpah akan menghabisi mereka untuk membalaskan sakit hati Kangmas Rianta" Lingga berkata dengan geram, wajahnya pancarkan mimik menakutkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasíawarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
