Setahun berlalu dengan cepat, Prima dan Abhinaya semakin dekat. Asta meskipun merasakan luka dan kecewa, namun tetap berbesar hati, cintanya tetap tak terungkap. Baginya bisa tetap bersama Abhinaya saja sudah cukup membuatnya bahagia.
Bukan tak banyak pendekar wanita yang tertarik pada Asta namun dia tetap menolak, karena cinta terpendamnya yang begitu besar pada Abhinaya.
Kadang kala ketika cemburu menyeruak ingin rasanya dia menghabisi Prima namun dia sadar, menghabisi Prima sama saja dia menghancurkan Abhinaya. Sejak kecil temannya itu telah sengsara, masakan dia tega menghancurkan kebahagiaan yang baru saja diteguk oleh Abhinaya.
Kabar percintaan Abhinaya dan Prima menyebar dengan cepat. Banyak tokoh persilatan golongan putih yang mengutuk dan mencaci mereka, bahkan terang-terangan membenci. Terutama para pendekar wanita yang banyak menyukai prima. Semua membenci Abhinaya, termasuk Pendekar Melati, dengan cara keji dia berhasil menjebak Prima hingga bersetubuh dengannya. Namun sayang lagi-lagi dia gagal memisahkan Abhinya dan Prima. Maka dia turut pula bersatu dengan pendekar yang membenci lalu mengadu pada guru Prima, yaitu Resi Dipa Wisena.
***
Lokajaya sedang berduka, permaisuri sekaligus ratu di negeri itu menghembuskan nafas terakhir. Yang dikabarkan ke rakyat adalah permaisuri meninggal karena penyakit aneh, padahal kenyataannya adalah ibunda ratu meninggal karena siksa batin kehilangan anak sulungnya.
"Abhi, ibuku meninggal dunia akibat sakit keras" Suatu ketika Prima menangis dipangkuan Abhinaya.
Abhinaya terdiam, Asta juga.
"Aku ingin menyaksikan upacara pemakamannya, aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali" Ucap Prima.
"Prima, kita akan menghadapi masalah besar jika berani menampakkan diri di Lokajaya" ucap Asta.
"Benar Asta, tapi aku tetap ingin melihat ibuku meskipun dari kejauhan"
Prima bersikeras.
"kalau begitu, aku ikut. Kita bisa menyamar untuk mengelabui penjaga kotaraja" ucap Abhinaya.
Asta mengangguk setuju.
Tapi rencana tak semulus dugaan mereka. Memang mereka berhasil dengan aman dan ikut bersama penduduk kotaraja yang lain menyaksikan jalannya upacara pemakaman permaisuri Dyah Ayu Ningrum. Namun siapa sangka di perjalanan pulang di tepi sebuah jurang. Mereka dihadang tiga puluh pendekar.
"Mereka adalah Asasin, pembunuh rahasia kerajaan. Mereka rata-rata pendekar sakti mandraguna. Negeri Lokajaya memiliki lebih dari seratus asasin" Ucap Prima.
"Aku menduga ayahanda prabu yang ada dibalik semua ini" Tambah Prima.
Benar saja, tak lama kemudian dari balik kepungan asasin, muncul Prabu Kalanarta dan Resi Dipa Wisena alias Malaikat Putih
"Akhirnya kembali juga kau Rianta" Ucap Baginda Kalanarta dengan suara agung.
"Ayahanda" ucap Prima.
"masih kau anggap juga diriku sebagai ayahnu" tukas Baginda Prabu.
"Bagaimana pun juga darah di tubuhku ini adalah darah ayahanda, suka atau tidak suka kau tetaplah ayahanda prabu" ucap Prima.
"kalau kau masih menganggapku ayah, kembali ke istana. Tinggalkan pendekar cabul di sebelahmu itu. Masih banyak puteri cantik yang lebih suci dari pelacur laki-laki mu"
Mendengar ucapan kasar Baginda Prabu itu tentu saja Abhinaya naik pitam. Rahangnya menggeretak dengan tinju mengepal. Asta cepat menenangnkan.
"Ayahanda, seorang raja pantang menjilat ludahnya sendiri, bukankah dulu ayahanda yang memintaku pergi dari istana? Lalu kenapa sekarang menyuruhku pulang" Ucap Prima.
"Karena aku tak mau anakku jadi pelampiasan nafsu dan cinta setan yang dipelihara pelacur laki-laki di sebelahmu. Apa kau tak malu? Seekor anjing dan babi saja tak pernah mencumbu sesama jenisnya" Ucap Baginda prabu dengan lantang dan pedas.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasywarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
