Esok paginya kembali mereka berkumpul di belakang rumah kayu. Suasana temaram karena langit yang mendung menyembunyikan matahari. Para wanita termasuk keluarga istana dan para dayang beristirahat di dalam rumah kayu dan dijaga ketat. Apalagi Ambarwati tengah terluka, sore semalam Lingga mendapati istrinya itu tengah pingsan dengan pergelangan tangan tergores berdarah. Ternyata karena rasa kecewa dan cemburunya, perempuan cantik itu berniat bunuh diri. Untung saja cepat ditemukan dan masih bisa terselamatkan.
Empu Jagatnata kembali memimpin pertemuan. Adapun tujuan pertemuan lanjutan itu adalah mengatur rencana perebutan kembali negeri Lokajaya.
"Mereka sangat tangguh Gusti. Bahkan pasukannya seolah-olah bukan manusia. Kekuatannya luar biasa, diluar batas prajurit biasanya" Panglima Garung memberikan keterangan berdasarkan pengalamannya bertempur melawan pasukan Negeri Langitabang, meski gagal mempertahankan negeri itu. Dia sendiri nyaris tewas jika tak di selamatkan Sanjaya, dan di bawa kabur memyusul ke Lembah Cincin.
"Para prajurit itu telah dirasuki hawa iblis dari ilmu hitam Resi Pramudya" Jelas Empu Jagatnata.
Empu sakti yang mampu menerawang lewat indera ke enamnya ini tiba-tiba memandang pada Abhinaya.
Mau tak mau semua orang ikut memandang pada Pendekar Angin itu.
"Kenapa kalian memandangku seperti itu? Urusan kerajaan bukan urusanku" Ucap Abhinaya dengan pandangan mata tajam.
"Hmmm bukan begitu anak muda. Entah mengapa aku merasa bahwa hanya kaulah yang mampu mengalahkan Resi Pramudya" Tutur Empu Jagatnata.
"Kenapa harus aku, mengapa bukan si Kalanarta atau Lingga? Atau mungkin kau sendiri kakek tua? Bukankah kau sakti luar biasa kesayangan dewa, sampai-sampai kau bisa tau segalanya" Lagi-lagi Abhinaya tunjukkan sikap tak bersahabat.
Prabu Kalanarta maklum jika Abhinaya masih sakit hati kepadanya, bagaimanapun memaafkan itu sangat sulit. Apalagi kesalahan yang diperbuatnya memang sangat besar.
"Abhi, jangan begitu. Jika kau tak ingin menolong mereka, maukah kau menolongku? Bagaimanapun juga citra Negeri Langitabang adalah tanggung jawabku. Aku harus merebutnya kembali dari Resi sesat itu sekaligus membebaskan ayahku" Varsha kali ini membujuk sambil memegang tangan Abhinaya, keempat mata mereka saling bertatapan sejenak.
Dari tempatnya Lingga melengos, lagi-lagi dia cemburu melihat hal itu.
"Kalau membantumu aku bersedia, tapi membantu Lokajaya, tak sudi! Aku lebih suka melihat negeri itu hancur" Sahut Abhinaya.
Tiba-tiba saja Lingga menyahut.
"Itu artinya kau juga suka melihatku hancur dan mati. Iya kan?"
Mendengar kata-kata Lingga itu, Abhinaya menjadi terdiam seketika. Kedua matanya menatap sorot mata Lingga.
Abhinaya mampu menangkap kilatan kecewa di bias mata itu.
"Kau bilang kau sudah berjanji kepada kangmas Rianta bahwa kau akan membantu dan menjagaku. Tapi kenapa kau seolah enggan ikut bersamaku menyelamatkan Lokajaya, padahal kau tau bahwa mengembalikan kejayaan Lokajaya adalah suatu kehormatan bagiku sebagai pangeran negeri ini?" Sindir Lingga lagi.
Abhinaya terkesiap disudutkan seperti itu. Namun akhirnya keluar juga ucapan dari mulutnya.
"Manakah yang kau pilih Lingga? Bangga menjadi seorang pangeran, atau hidup bersamaku?"
Kali ini Lingga yang menjadi terpojok. Dia inginkan Abhinaya, kalau perlu dia ingin Abhinaya yang menjadi pendampingnya di istana jika kelak dia dinobatkan sebagai raja. Namun disisi lain dia tidak boleh pula mementingkan kepentingan pribadi dibanding keselamatan negeri dan rakyat Lokajaya, lagipula ada Ambarwati, kemana perempuan itu akan diletakkan di hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASMARA BERDARAH (SELESAI)
Fantasiwarning : cerita bergenre gay love 18+ dengan sentuhan silat, homophobia silahkan mundur SINOPSIS: Abhinaya Bayu seorang pendekar tangguh harus terlibat kisah asmara yang rumit dan berdarah dengan Lingga Putra seorang pangeran dari Kerajaan Lokajaya...
