Twenty nine

2.7K 237 31
                                        

Hallo semuanya, kembali lagi bersama bucin Jaemin junkyu! ^^

Langsung aja ya, happy reading semuanya💗

------------------I will dive into you!------------------

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

------------------I will dive into you!------------------

Seorang gadis cantik tengah duduk di atas bangku depan rumahnya sembari menatap layar ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Galexia Elarania, hari ini gadis itu terlihat sangat senang.

Beberapa menit kemudian sebuah mobil memberhentikan lajunya tepat di depan rumah gadis itu. Sontak Lexa tersenyum rekah. Gadis itu langsung berdiri dan menatap seseorang yang baru saja keluar dari mobil itu. Lexa berlari untuk menghampiri sosok itu.

Lexa terlalu bersemangat sampai akhirnya ia tak sengaja tersandung.

Brukkk

Tentu saja gadis itu terjatuh. Dan hal itu membuat Galexter menghela napasnya, cowok itu tak habis pikir dengan sifat ceroboh yang ada pada diri Lexa. Galexter langsung berjalan menghampiri gadis itu.

"Ceroboh," kata Galexter lalu menarik tangan Lexa, mengusapnya lalu meniup-niupnya. Cowok itu berusaha membersihkan telepak tangan Lexa yang kotor.

Saat itu juga Lexa merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bagaimana bisa Galexter bertindak seperti itu, apakah cowok itu tidak memikirkan dampak untuk hatinya?

"Sakit?" tanya Galexter.

Lexa menggeleng, "Nggak kok, kan udah biasa jatoh."

Galexter yang mendengarkan penuturan Lexa itu hanya berdehem saja. Setelahnya Galexter membantu Lexa untuk beranjak berdiri.

"Emang kita mau kemana sih Gal?"

Gaĺexter menatap Lexa.

"Maunya kemana?"

"Kemana aja asalkan bareng Galexter hehe."

Lexa tersenyum sambil terkekeh sedikit.

"Ke rumah Lunar, gimana? Mau ikut?"

"Asalkan bareng Galexter ya gas aja, hayuk."

Sebenarnya Galexter tak sungguhan mengajak Lexa pergi ke rumah Lunar. Cowok itu akan membawa Lexa ke suatu tempat yang bisa di bilang tempat itu lumayan ramai.

Cowok itu menatap Lexa. Gadis yang ada dihadapannya itu memang sangat cantik. Tangannya terulur merapikan rambut gadis itu lalu menyopot kucirannya.

"Cantik," ujar Galexter setelah melihat rambut Lexa yang akhirnya tergerai dengan indah. Galexter memberikan ikat rambut gadis itu.

Lexa hanya bisa tersipu.

"Berarti sebelumnya aku biasa aja?"

Galexter menggeleng, "Nggak, lo selalu cantik kapanpun dan di manapun itu."

GALEXTERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang