THANKS

28 2 0
                                    

"Pagi."Thea membuka pintu kamar Thea dengan senyum lebar.Ditangannya sudah ada nampan berisi bubur ayam dan segelas air putih.

Vallen mengerutkan dahinya,merasa aneh dengan kelakuan Thea.Bukannya kemarin dia marah ya sama dia kok sekarang jadi sok baik begini.

"Yuk buruan sarapan habis itu minum obatnya,"kata Thea sambil meletakkan nampan di atas nakas.

"Makasih,"kata Vallen namun tak juga menyentuh makanan itu.

"Kenapa?"tanya Thea yang merasa diperhatikan Vallen.

"Lo gak lagi amnesia kan?"

"Maksudnya?"

"Lo gak mungkin lupa kan kalau kemarin lo marah-marah sama gue?"

Thea malah nyengir."Oh itu,lupain aja lah."

"Kenapa bisa begitu?"Vallen memicingkan mata curiga.

"Ya lupain aja.Anggap aja kejadian kemarin gak ada,"jawab Thea dengan santainya.Kini dia malah ikut berbaring di samping Vallen.

"Lupain pala lo.Gue masih gak terima ya lo kata-katain kemarin."Vallen mendengus kesal.

Thea meringis tak enak."Hehe...maaf ya.Gue kemarin memang keterlaluan."

Vallen mengeleng tak mengerti dengan sahabatnya yang satu ini.Cepat banget berubahnya.Tanpa perlu banyak tanya lagi segera disambarnya bubur ayam yang dibawa Thea.Humm...nyami.Lumayanlah dapat sarapan gratis.

"Thanks ya buburnya,"kata Vallen setelah menandaskan satu mangkok bubur.

"Thanks nya jangan sama gue."

"Lha terus?"Vallen kembali dibuat bingung.

Thea mendongak menatap Vallen yang duduk di sampingnya."Tadi tu ada ojol kesini ngirim bubur ini.Katanya buat Vallen yang cuantik gitu,"kata Thea diikuti kekehan di belakangnya.

"Kiriman siapa?"tanya Vallen penasaran.

"Mana gue tahu.Penggemar rahasia lo kali."

"Jangam ngaco deh."

Vallen bangkit dari kasurnya,mencoba mengenyahkan rasa penasaran siapa dibalik dalang pengiriman bubur ayam itu.Vallen yakin cepat atau lambat juga bakal nongol sendiri tu orang.

Vallen mengamati wajahnya di cermin.Masih sedikit pucat,tapi lumayanlah.Badannya juga sudah lebih enakkan.Vallen berencana akan berangkat kerja hari.Kerjaannya pasti sudah menumpuk gara-gara insiden kemarin.

Bergegas Vallen membersihkan badannya yang lengket karena kemarin sore tak mandi.Cukup 10 menit saja ritual mandi ala Vallen.Setelahnya dia keluar menggunakan handuk untuk mengambil baju kerjanya.

"Mau kemana lo?"tanya Thea yang ternyata masih tiduran di kasur Vallen.

"Kerja,"jawab Vallen yang masih asyik memilih baju mana yang akan dipakainya.

"Jangan kerjalah,masih pucat gitu."

Thea bangkit dari tidurnya.Diamatinya sahabatnya itu yang masih terlihat lemas.

"Gue dah gak pa-pa kok."

Vallen masuk kembali ke kamar mandi untuk berganti baju.Nah siap tinggal poles dikit ni wajah biar kelihatan cantik.

"Serius lo mau kerja?"tanya Thea lagi masih merasa khawatir.

"Tenang aja,gue dah enakkan kok,"jawab Vallen sambil menyapukan bedak tipis-tipis.

"Ntar lo pingsan lagi."

"Gak akan,gue jamin deh."Valen masih bersikeras.

Thea menghela nafas.Percuma juga dia menasehati Vallen.Memang dasarnya Vallen yang keras kepala.

"Ya sudahlah.Gue juga mau kerja kalau gitu."

💛💛💛

"Dah sehat lo?"tanya Bagas begitu ketemu Vallen di lobi kantor.

"Udah,"jawab Vallen singkat.

"Masih pucet gitu,"kata Bagas yang memperhatikan wajah Vallen lekat.

"Alah cuma pucet dikit ini,ntar dibawa kerja juga ilang."

"Lo tu ya,dibilangin juga ngeyel."Bagas dibuat gemas.

"Biarin weekk..."Vallen menjulurkan lidahnya menggoda.

"Dasar ya!"Tanpa sadar tangan Bagas terangkat untuk mengacak kelapa Vallen.

"EHHEMM!"

💞💞💞

HAYO LO siapa yang nongol.

PLEASE,MOVE ON!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang