Sorry for typo:)
Happy Reading
.
.
.
Wajah datar dan dingin adalah ciri utama dari seorang Niel ketika berada di area sekolah, karna hal itu banyak yang menganggumi Niel secara terang-terangan. Namun, berbeda lagi jika ia berada di rumah.
Sekarang Niel berada di sekolahnya SMA Gelatin Bangsa, Niel berjalan menyusuri koridor sekolahnya dengan wajah datar, dengan gaya nya yang cool di pagi ini banyak siswi berteriak histeris.
"Aaaa ganteng bat calon suami gue!"
"Kak, mau jadi pacar aku gak?!"
"Punya gua jangan lu pada ambil!"
"Gila sih, gaya Niel cool banget njir!"
"Halah biasa aja tu muka, gantengan gue juga!"
Itulah kira-kira beberapa pujian yang di lontarkan oleh para siswi yang terpesona akan ketampanan Niel. Namun, Niel tidak menanggapi itu semua ia tetap memasang wajah datarnya walau banyak cewek yang berbondong-bondong mengikuti dirinya.
11 IPS 1 adalah kelas Niel. Ia memasuki kelasnya dengan santai lalu menuju mejanya di pojok dekat jendela.
"Woi! Lo tadi malem napa gak aktif?" tanya teman Niel sekaligus sahabatnya yang bernama Martin Alfed yang biasa di panggil Martin.
Niel menoleh ke arah Martin yang berada di depannya setelah meletakkan tas nya. "Gak kenapa-napa." Jawab Niel singkat.
Martin berdecak. "Ck, kebiasaan banget sih!" gumam Martin pelan namun masih dapat di dengar oleh Niel.
Niel tak menanggapi ucapan Martin, ia lebih memilih bermain dengan handphonenya.
Sekitar 10 menit, akhirnya bel sekolah berbunyi juga pertanda jam pelajaran pertama akan dimulai. Niel menaruh handphonenya di saku celana sekolahnya, lalu mengambil buku pelajarannya di tas nya.
Asal kalian tahu, Niel bukan anak nakal, tapi juga bukan anak baik. Sejak Adik angkat Niel hadir ke dalam keluarganya yaitu Vano, Niel lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dan mengurung dirinya di dalam kamar setiap harinya.
Ia kesal, ketika dirinya di bandingkan dengan manusia yang tak tahu diri itu. Oleh karna itu, Niel perlahan-lahan mengubah dirinya yang ceria menjadi Niel yang tak banyak bicara ketika di sekolah.
Dan sampai sekarang Niel juga begitu.
****
Jam pelajaran pertama akhirnya selesai juga, Niel dan Martin kini berada di kantin sedang menikmati makanan siang mereka dengan tenang.
"El, kata temen gue dari sekolah sebelah, Vano adek lo makin menjadi-jadi nakalnya." Ucap Martin pada Niel dengan pelan takut di dengar orang.
Niel berhenti mengunyah makanannya lalu menatap manik Martin dengan tajam. "Selama nakalnya masih di batas wajar ya gak papa, gue biarin aja. Tapi, kalo sampai dia mempermalukan bonyok gue ... gue gak akan diam." Ucap Niel datar dan sinis.
Martin mengangguk setuju. "Btw, itu kalimat terpanjang yang baru pertama kali gue denger dari lo!" ucap Martin dengan senyum menjengkelkan.
Niel memutar mata malas mendengar ucapan sahabatnya itu. "Ck, itu bukan pertama kali gue ngomong panjang lebar, Mar-tin!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Going Is The Best Choice [END] ✓
Teen Fiction"Niel tidur sebentar dulu, ya?" Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah. **** Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja. 𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
![Going Is The Best Choice [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/261685143-64-k390645.jpg)