"Niel tidur sebentar dulu, ya?"
Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah.
****
Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja.
𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
"Aku ingin menikmati sisa-sisa hidupku. Ku mohon, tetap bersamaku, ya?"
-Nathaniel Jovardan Valendra-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalian harus tetap happy kiyowo ya, Bestie! Oiya, mulmed di atas silahkan kalian dengar pas scene Niel main piano ya<3
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sembari menunggu kedatangan Erick dan Dokter Anderson ke mansion, Vano membersihkan darah kental yang masih mengalir dari hidung mancung Niel.
Tangan Vano bergetar saat melihat darah mimisan yang terus mengalir tanpa henti itu, sesekali ia menatap wajah pucat Niel hanya untuk menenangkan hati dan pikirannya yang saat ini tengah kacau, karena panik dan takut bercampur menjadi satu.
Matanya memanas saat melihat kondisi Niel yang seperti ini. "Kak ... bangun." Pintanya lirih.
Ceklek!!
Tepat di saat Vano hendak mengusap surai Niel, tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka dan langsung menampakkan wajah Erick dan Dokter Anderson yang tengah panik.
"Kita harus melakukan penanganan cepat, Dokter Erick." Kata Dokter Anderson pada Erick.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.