Sorry for typo:)
Happy Reading
.
.
.
"Akhirnya sadar juga lo, Niel!"
Niel membuka matanya dengan perlahan namun pasti. Niel mendengar suara tangis haru di sebelahnya, lantas ia menoleh.
"Napa lo?" tanya Niel pelan dengan suara serak.
Albeth menghapus air matanya lalu menatap lekat manik tajam milik Niel. "Lo nggak nyadar? Gue nangisin lo, Samsul!"
"Dih cowok kok nangis," ejek Niel pelan pada Albeth.
"Gue terharu bangsat! Gue kira lo beneran bakal mati anjir!" hardik Albeth kesal pada Niel.
Niel mengerutkan keningnya. "Lho? Emang gue kenapa?"
"Tadi kita semua sempet kira lo mati karena denyut jantung lo nggak ada! Tapi syukur akhirnya lo bangun juga!" sahut Martin dengan pelan.
"Anjir denyut jantung gue nggak ada?! Seriously?!"
"Iya! Lo bikin kita berdua panik banget bego!" ucap Martin diselingi umpatan.
Niel mengangguk tanda mengerti. Kenapa tidak langsung mati sungguhan saja tadi, pikir Niel.
Niel mengedarkan pandangannya ke segala penjuru yang ia tempati sekarang. "Gue di mana? Uks?"
"Iya, lo di UKS!"
"Gue kenapa?"
"Tadi pagi lo tiba-tiba pingsan terus di bawa ke UKS sama kita berdua. Semua anak di kelas tadi pada panik banget. Lalu, waktu PMR ngasih lo tindakan tiba-tiba denyut jantung lo sempet hilang. Tapi, habis beberapa jam lewat denyut jantung lo balik lagi."
"Kata mereka gue kenapa?"
"Lo cuma kecapean. Pasti lo sering bergadang di rumah? Iyakan? Ngaku aja lo!" ucap Martin penuh selidik pada Niel.
"Oh jadi gitu."
"Apanya yang gitu? Pertanyaan gue belum lo jawab, Niel." Sentak Martin kesal pada Niel.
"Yang mana?"
Martin dan Albeth menghela napas berat. "Lo setiap hari terus bergadang, kan? Lo terus belajar, belajar, dan belajar tanpa peduliin kondisi tubuh lo sendiri! Tubuh lo capek, Niel. Dia juga butuh istirahat, jangan suka maksain sesuatu yang bahkan lo nggak sang-"
"Enggak! Gue sanggup kok! Iya, gue memang bergadang! Kenapa? Masalah buat lo berdua? Gue kayak gini juga ada alasannya! Ck, gue yang sakit lo berdua yang sewot!" Niel langsung membalikan tubuhnya menghadap dinding setelah berbicara seperti itu pada Martin dan Albeth.
Martin dan Albeth menganga mendengar penuturan Niel. "Lo kenapa dah? Sensian amat," gerutu Albeth.
"Bacot! Mending lo berdua pulang deh!" usir Niel kesal.
"Emangnya lo berani? Sekarang udah jam setengah tujuh malam lho? Nggak kebayangkan lo pingsan berapa jam," sahut Martin.
Niel terkejut. "Hah?! Udah jam setengah tujuh? Lama banget ya gue pingsan," batin Niel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Going Is The Best Choice [END] ✓
Teen Fiction"Niel tidur sebentar dulu, ya?" Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah. **** Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja. 𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
![Going Is The Best Choice [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/261685143-64-k390645.jpg)