"Niel tidur sebentar dulu, ya?"
Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah.
****
Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja.
𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
"Katanya, tanpa penderitaan, kita tidak bisa mengenal kebahagiaan."
-Nathaniel-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Jika sudah tidak kuat, lepaskan. Jika sudah tidak sanggup, relakan. Jangan menyiksa perasaan atau pun dirimu, kawan."
-Martin-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu minggu kemudian ...
Hari-hari yang Niel lalui terasa begitu kelam. Tiada hari tanpa rasa sakit yang menganggu. Namun, ia sekarang tidak sendiri lagi, ada Papa dan Mamanya yang selalu menjaga serta menemaninya saat penyakitnya kambuh.
Meski begitu, sikap Niel tidak berubah. Ia masih dingin dan merasa asing pada kedua orang tuanya. Entahlah, Niel juga tidak tahu mengapa dirinya seperti itu. Padahal inilah yang ia harapkan dulu, Papa dan Mamanya peduli kembali padanya dan tidak membandingkan dirinya dengan Vano.
Omong-omong tentang Vano, pemuda itu akhir-akhir ini terlihat berbeda. Ia selalu pulang larut malam dengan wajah yang terus babak belur. Dan, hari berikutnya pun sama. Niel khawatir, namun merasa tidak pantas untuk ikut campur.
Kini Niel tengah berdiri di depan cermin, gerakannya yang lambat memperbaiki topi kupluknya yang miring. Dan di balik topi itu, rambut Niel yang dulunya halus dan lebat ... sekarang menghilang karena sudah rontok total. Ya, kepala Niel tidak ada rambut lagi alias botak. Agak sedikit tidak terima rasanya, namun itu sudah menjadi resiko yang harus Niel tanggung karena melakukan kemoterapi.
Niel menatap datar pantulan dirinya yang sekarang terlihat sangat kurus dan juga semakin pucat pasi. Niel tidak peduli lagi dengan hidupnya, mau hidup atau mati, itu urusan Tuhan. Yang terpenting sekarang bagaimana ia menjalani hidupnya dengan sisa waktu yang Tuhan berikan padanya.