Part 58. Lelah

1.1K 88 45
                                        

Sorry for typo:)

Happy Reading
.
.
.

"Dari pengalamanku kemarin, kurasa kita tidak boleh terlalu mengandalkan kemampuan orang lain untuk membantu kita dalam menyelesaikan masalah. Karena, dari yang dilihat, dia akan menjadi manusia yang 'sok tahu dan banyak bicara' saja. Tapi, coba andalkan lah Tuhan dan kemampuan diri sendiri guna menjadi penopang di dalam kehidupan kita sendiri. CMIIW."

-Author GITBC-

-Yang punya kendali dalam hidupmu adalah dirimu sendiri, kawan. Jadi, jangan pernah biarkan orang lain memegang kendali dan mengatur hidupmu layaknya seorang insan yang terlihat tidak berguna."

-GOING IS THE BEST CHOICE-

"Malam ini lo jangan begadang, pokoknya istirahat yang cukup

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Malam ini lo jangan begadang, pokoknya istirahat yang cukup. Besok pagi gue jemput," ucap Niel pada Queen.

Queen mengerucutkan bibirnya beberapa senti ke depan, lalu berkata. "Ish! Paan sih? Aku 'kan juga mau belajar buat persiapan ngejawab soal ulangan besok, yakali aku nggak belajar, bisa-bisa anjlok nilai rapotku nanti, El."

"Bukan gitu, sayang." Niel menghela napas, lalu tersenyum tipis pada Queen. "Lo boleh kok belajar, tapi ada batas waktunya. Belajarnya cuma boleh sampai jam sembilan malam aja, lebih dari itu gue nggak mau tau." Ucap Niel lembut seraya mengusap puncak kepala Queen. "Paham, hm?"

Sontak, Queen mengangguk cepat. "Iya! Aku paham, El."

"By the way, kamu nggak mau mampir dulu?" tawar Queen.

Niel menggeleng pelan, lalu menjawab. "Enggak dulu, ya? Kapan-kapan aja gue mampir," jawabnya seraya menyengir.

"Oh, oke deh." Sahut Queen seraya tersenyum manis.

"Gue pamit pulang, titip salam untuk Mommy, ya." Ucap Niel dan langsung menaiki motor sportnya.

"Oke, siap!"

"Selamat malam, gadis gue. Thank you so much for accompanying me to the park this afternoon, to be honest, i'm really happy today. Em, itu aja sih yang mau gue bilang ... oiya, semoga mimpi indah. See you tommorow, dadah!"

BRUUM!!

Tanpa menunggu balasan dari Queen, Niel langsung menancap gas motornya dengan kecepatan tinggi. Ia berharap segera sampai di mansion lalu masuk ke dalam kamar mandi.

"Lho? Padahal aku baru aja mau jawab omongan si ayang," ucap Queen seraya mengerjap polos dengan tatapan yang fokus pada kepergian Niel yang hendak ditelan tembok pembatas jalan.

Niel meringis kecil saat melihat Queen yang masih berdiri di tempatnya dengan tangan yang melambai ke arahnya dari kaca spion motornya. "Maafin gue, Queen." Batinnya tak enak hati.

Going Is The Best Choice [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang