"Niel tidur sebentar dulu, ya?"
Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah.
****
Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja.
𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu mimisan lagi 'kan tadi, Niel?"
Niel langsung mengalihkan pandangannya saat Dokter Anderson menatap dirinya dengan tatapan mengintimidasi.
"Iya." Jawabnya.
Dokter Anderson menghela napas gusar. "Yakin masih mau sekolah hari ini? Kondisi kamu belum sepenuhnya membaik, loh."
"Yakin. Dan, saya udah ngerasa baik-baik aja kok, Dok." Sahutnya.
"Masalahnya, saya yang tidak yakin. Saya khaw--"
"Hari ini saya mau sekolah. Dan bisa saya pastikan, saya nggak akan kenapa-napa lagi, Dok." Ucapnya memotong perkataan Dokter Anderson dengan keras kepala.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Saya tidak akan memaksa, tapi saya mohon jangan lupakan obatmu, Niel." Dokter Anderson berkata sembari memijit pangkal hidungnya yang mancung.
Niel menatap kembali Dokter Anderson dengan tatapan berbinar. "Terima kasih, Dokter Ander."
Niel langsung berdiri dari kursinya lalu berjabat tangan dengan Dokter Anderson.
"Ingat, terapimu masih belum selesai. Dua minggu lagi, kamu akan menlanjutkan jadwal kemoterapi ketiga, Niel." Dokter Anderson memperingati Niel sekali lagi, supaya remaja di depannya ini tidak lupa dengan jadwal terapinya.
Niel mengangguk kemudian tersenyum tipis. "Saya nggak akan pernah lupa dengan jadwal terapi saya, Dok." Katanya.
"Bagus. Ini resep obat baru yang perlu kamu konsumsi lagi." Dokter Anderson menyerahkan sepucuk kertas kecil kepada Niel.
Niel menerima kertas kecil tersebut. "Jaga kesehatan, jangan melakukan hal yang berat, jangan memaksa diri, dan jaga pola makan." Ucap Dokter Anderson pada Niel dengan nada suara yang tegas.
"Hm, baik. Kalau gitu, saya pamit pulang, Dok." Setelah mendapat anggukan dari Dokter Anderson, Niel segera membawa langkahnya keluar dari ruangan pribadi milik Dokter Anderson.
Dokter Anderson menatap punggung tegap milik Niel dengan sebuah tatapan yang sulit diartikan. Ada banyak hal yang saat ini Dokter Anderson pikirkan mengenai kondisi Niel sekarang.