Sorry for typo:)
Happy Reading
.
.
.
Nathaniel Jovardan Valendra, anak yang telah dilupakan oleh keluarganya sendiri sejak usianya menginjak lima tahun.
Kenangan indah yang ada di dalam dirinya bagaikan kepingan puzzle yang tak dapat Niel susun dengan rapi. Niel sedikit mati rasa dengan namanya, kasih sayang. Ia lapar dan haus untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya dulu.
Berbeda dengan dirinya yang dulu terus menangis manja ketika Papa dan Mamanya lebih memperhatikan Vano dibanding dirinya. Sekarang, Niel akan berusaha dengan belajar demi mendapatkan nilai yang sempurna untuk orang tuanya. Supaya dengan ini orang tuanya akan menyayangi dan mencintai dirinya kembali, benar 'kan (?).
Sekarang lima bulan setengah sudah berlalu. Seperti tahun, bulan, hari, waktu, pukul dan detik yang lalu tidak ada yang berubah di hidup Niel. Semuanya masih masih sama saja. Kelam dan mati rasa.
Bahkan Vano sekarang lebih terang-terangan untuk melukai dirinya, walau Niel hanya membalas dengan diam saja.
Hari rabu pukul 02:22 WIB, Niel masih terjaga dengan lembaran coretan yang dipenuhi angka dan huruf yang berada di hadapannya.
Mata sayu serta mata panda yang nampak kentara, bibir pucat, wajah tirus dan berkurangnya berat badan Niel membuktikan bahwa dirinya tak baik-baik saja.
Tes!
Niel menghentikan kegiatan menulisnya kemudian menatap darah yang mengalir dari hidungnya hingga mengenai buku catatannya itu.
Niel tidak terkejut, karna hal ini tidak sekali atau dua kali terjadi melainkan lebih dari itu. Entahlah, Niel tak menghitung berapa kali dirinya mimisan seperti ini karna sering kali terjadi.
Mengusap darahnya dengan kasar dari hidungnya, Niel kembali melanjutkan kegiatannya. Walau sekarang kepalanya seperti ingin pecah dan pandangannya mulai mengabur Niel terus saja menulis.
"Kebiasaan banget lo ya, padahal gue nggak ada undang elo buat datang tiap malam gini, tapi lo malah datang terus!" gumam Niel sambil menyeka darah di hidung mancungnya itu.
"Menurut gue, kayaknya lo nggak akan dapetin kasih sayang orang tua lo lagi deh. Karna apa ... ya karna gue lah! Mereka sayang sama gue! Uh kasiannya anak kandung yang ini dilupakan oleh keluarganya sendiri hahahaha!"
Tiba-tiba kalimat hinaan yang Vano lontarkan tadi sore pada dirinya terngiang di benaknya. Tidak kasar, tapi mampu membuat sesuatu di hati Niel retak begitu saja.
Niel membanting semua barang yang ada di atas meja belajarnya itu ke-semberangan arah. Ia tidak peduli, sekarang ia ingin melupakan kalimat itu dari pikirannya.
"Pergi lo sialan! Pergi! Akh!" Niel berucap dengan nada suara yang bergetar sembari menutup kedua telinganya.
"Gue bilang pergi!" bentak Niel entah kepada siapa.
Bruk!
Tubuh Niel menubruk dinginnya lantai di kamarnya itu. "Hiks ... Mama, N-iel ta-kut!" kata Niel lirih diselingi tangis pilu yang terdengar begitu menyayat hati.
"Pu-sing ..."
****
Niel berjalan menuju dapur untuk sekedar mengisi perutnya saja dengan dua lapis roti tawar serta selai rasa cokelat kesukaanya.
Keadaan Niel tentu masih belum membaik sejak dini hari tadi yang bahkan ia tidak tahu dirinya pingsan atau tertidur saat itu.
Niel melirik keluarga kecilnya sedang memakan sarapan mereka dengan hangat bersama Vano di meja makan keluarganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Going Is The Best Choice [END] ✓
Novela Juvenil"Niel tidur sebentar dulu, ya?" Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah. **** Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja. 𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
![Going Is The Best Choice [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/261685143-64-k390645.jpg)