"Niel tidur sebentar dulu, ya?"
Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah.
****
Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja.
𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
Aku besok up, jadi ayo ramein part ini, ya💘. Bacanya pelan-pelan aja~
꧁Happy Reading꧂ . . .
"Sebuah luka yang telah lama terukir indah di hati; akan sulit disembuhkan kembali."
-Author GITBC-
"Betapa sakitnya ketika kamu tidak membuat kesalahan, tapi tidak ada seorang pun yang mendengar atau percaya padamu."
-Vano-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selama beberapa hari terakhir tidak ada yang Vano lakukan selain mengurung diri di dalam kamarnya. Dan, sesekali ia keluar kamar hanya untuk menjenguk keadaan Niel yang kini telah lama berada di rumah sakit; persiapan operasi.
"We live in cities you'll never see on screen ..." "Not very pretty, but we sure know how to run things ..." "Living in ruins of the palace within my dreams ..." "And you know, we're on each other's team ..."
Vano bernyanyi pelan mengikuti alunan lagu tersebut dengan earphone bluetooth yang terpasang di kedua telinganya. Saat ini di balkon kamarnya, ia sedang berdiri sembari menatap kosong taburan bintang kecil di langit malam.
Tangannya bergerak mengusap sudut bibirnya yang robek akibat berkelahi dengan Zero kemarin malam. Memikirkan pemuda yang bernama Zero itu, tiba-tiba Vano merasa takut kembali. Entah sudah berapa kalinya Vano seperti ini ...
Vano takut jika Zero akan melukai Niel.
Ting!
Tiba-tiba handphone Vano berbunyi yang artinya ada pesan masuk dari seseorang. Alis Vano berkerut saat melihat nomor asing mengirimkannya pesan melalui aplikasi whatsapp. Dan, setelah Vano membaca isi pesan tersebut, handphonenya langsung terjatuh begitu saja dari genggaman tangannya.
________________ +62 821 xxxx xxxx Add | Block
: Permainan dimulai. Gue bakal buat lo nangis bahagia malam ini, Revano Sagara Valendra.
07:27 PM
________________
Vano menggelengkan kepalanya, lalu meremas kuat earphone yang ada di tangannya. Vano merasa yakin sekali bahwa pengirim pesan itu adalah Zero. Siapa lagi yang berani seperti ini padanya jika bukan Zero? Musuh bebuyutannya.
"Sialan lo, Zero!"
Deru napas Vano terdengar berat, sorot matanya langsung berubah tajam. Tanpa menunggu lama, Vano langsung berlari keluar dari kamarnya dengan perasaan takut yang tak karuan. Tujuannya sekarang hanyalah Niel. Ia akan melindungi Niel dan memastikan bahwa Niel akan selalu baik-baik saja. Vano tak akan pernah membiarkan Zero melukai Niel, bahkan jika perlu, Vano rela mengorbankan nyawanya agar Niel tetap hidup.