"Niel tidur sebentar dulu, ya?"
Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah.
****
Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja.
𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
"Senyum kedua orang tuaku adalah sebuah penyemangat untuk diriku karena memiliki arti yang tersendiri. Walaupun mereka tersenyum bukan untukku."
-Niel-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Maaf ... kalau cerita ini makin gaje, aku harap kalian akan tetap setia sampai ending cerita ini:) oiyaa, makasii banyak yaa karena udah menghargaiku karyaku dengan vote setiap partnya!❤️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Zero Nanggala Putra, nama lengkapnya. Ia adalah salah satu siswa yang berasal dari High School Starlight Bangsa. Ya, dirinya satu sekolah dengan Vano.
Kalian pasti bingung siapa Zero yang ada di part sebelumnya, 'kan? Aku akan memperkenalkan Zero secara lengkap di sini. Supaya kalian para readersku tidak kebingungan.
Zero adalah seorang siswa yang dikenal ambisius, keras kepala, dan juga egois. Kurang lebih sikapnya seperti Vano, yaitu berandalan.
Dirinya adalah musuh bebuyutan dari Revano Sagara Valendra sejak masih kecil, tidak ada kata akur di dalam kamus keduanya. Zero sangat membenci manusia yang bernama Vano itu, bukan tanpa alasan ia membenci Vano. Alasannya adalah karena si Vano selalu berada di atas dirinya.
Kemudian dirinya akan dibanding-bandingkan dengan Vano oleh kedua orang tuanya sendiri. Entah hal sekecil apa pun itu, jika Vano selalu berada di atas Zero, maka orang tuanya pasti akan selalu membandingkan dirinya dengan anak orang itu.
Hal yang dilakukan orang tua Zero agar sang anak mampu mengalahkan peringkat bahkan prestasi yang sudah diraih oleh Vano, yaitu dengan cara mengekang dan menekan fisik ataupun mental Zero.
Sejujurnya, Zero membenci hal ini. Zero terus dituntut untuk melakukan hal yang bahkan tak ingin ia lakukan. Zero benci belajar. Zero benci kedua orang tuanya yang hanya mementingkan nilai sempurna dibandingkan kondisi mental anaknya (Zero). Dan, Zero juga benci terhadap orang tuanya karena tidak pernah merasa puas dengan hasil yang sudah Zero gapai dengan susah payah. Apakah sesulit itu untuk menghargai nilai yang diperoleh dirinya dengan kerja keras? Belum tentu orang lain di luaran sana mampu mendapatkan nilai seperti dirinya.