Sorry for typo:)
I'm really sorry, Bestie. Aku lama ga up karena ada urusan pribadi di dunia real. Yah, intinya besok dan lusa aku akan langsung up jika partnya ramai. Okay?
Tersisa dua part lagi di draf, dan setelah itu cerita ini akan tamat.
Ayo ramaikan part ini, please. Jika part ini ramai, besok aku langsung up. Janji.
Vote and komen, ya. Thank you✨
....
꧁Happy Reading꧂
.
.
.
"Janji tidak menangis, hm?"
-Author GITBC-
"Tidak perlu menyesal. Aku seperti ini karena memang sudah takdir hidupku. Jangan menangis, kamu hanya perlu menunjukkan senyum indahmu, cantik."
-Nathaniel Jovardan Valendra-

"Perpisahan adalah akhir dari segalanya. Aku benci hal ini."
-Revano Sagara Valendra-

"BRENGSEK LO, ZERO!!"
Di tengah malam yang sunyi, teriakan Vano menggelegar keras. Matanya berkilat marah, rahangnya mengeras seiring kedua tangan yang ikut terkepal kuat, dan wajahnya pun memerah karena saking emosi. Kali ini Vano benar-benar emosi sekali pada manusia yang berdiri di hadapannya kini sambil memegang sebuah pistol.
"K-ak, tu-nggu sebentar, ya. Gue mau kasih pelajaran buat manusia yang nggak waras itu. Jangan tutup mata lo, gue ada di sini, Kak ..." bisik Vano dengan suara yang tercekat pada Niel.
Niel tidak menjawab. Vano memejamkan matanya, tetap mencoba berpikir positif bahwa Niel akan baik-baik saja. Vano tersenyum tipis sembari membaringkan tubuh tak berdaya Niel di lantai secara perlahan. "Tunggu gue, Kak ..."
Tatapan Vano langsung tertuju pada Zero yang berada di ujung ruangan. Pemuda itu tampak kelelahan karena menahan sakit di sekujur tubuhnya akibat adu mekanik dengan Niel tadi.
"Berhenti! Jangan mendekat! Kalau lo sekali lagi berani melangkah ke sini ... gua nggak akan segan-segan buat tembak lo juga! Biar lo dan Niel mati bareng di tempat ini, hahaha!!" pekik Zero panik seraya menodongkan pistol ke arah Vano.
Vano tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya cepat dengan tatapan maut yang terlihat mengerikan. Dada Vano bergemuruh menahan gejolak emosi yang sebentar lagi akan meluap.
Zero beringsut mundur, tiba-tiba ia merasa terintimidasi oleh tatapan Vano.
"Jangan deket-deket gue kalau lo nggak mau mati kayak dia!" ucap Zero memperingati Vano seraya menunjuk Niel yang telah sekarat.
"Lo ... manusia yang nggak punya otak. Lo gila, Zero!!"
BUGH!! BUGHH!!
Tanpa aba-aba, Vano langsung meninju keras wajah Zero sehingga manusia yang penuh dendam itu terjatuh ke belakang. Zero hanya bisa meringis kesakitan, lalu ia menodongkan pistol ke arah Vano. Ia tersenyum sinis, dan hendak menarik pelatuk pistol tersebut, tapi ...
"Ups! Peluru lo udah habis." Ucap Vano datar sembari menyeringai.
Zero menggelengkan kepalanya heboh, ia panik. Tidak mungkin pelurunya habis, sebentar, ia akan memeriksa di saku celananya, mungkin ada satu peluru yang tersisa. Tapi, ia tidak menemukan apa-apa. Yang artinya peluru pistolnya telah habis. Aish, sialan!
KAMU SEDANG MEMBACA
Going Is The Best Choice [END] ✓
Teen Fiction"Niel tidur sebentar dulu, ya?" Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah. **** Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja. 𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
![Going Is The Best Choice [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/261685143-64-k390645.jpg)