"Niel tidur sebentar dulu, ya?"
Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah.
****
Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja.
𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
"Untuk diriku, terima kasih sudah bertahan hingga berada di titik ini."
-Nathaniel Jovardan Valendra-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku sadar, di dunia tidak ada yang abadi. Tapi, bolehkah sekali ini saja aku egois? Berharap lelaki yang ku cintai akan selalu bersamaku."
-Christya Queen Andromeda-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gatau mau bilang apa ... but, keep spirit ya, Bestie!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ma, beberapa jam lagi Kak Niel ultah. Mama nggak ada niatan kasih ucapan selamat atau pun hadiah gitu untuk dia?" ucap Vano lembut pada Diana di balik sambungan telepon.
Dari seberang sana, Vano dapat mendengar jika Diana menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Mama nggak ada waktu buat urus begituan, sayang. Lagi pula untuk apa kamu peduli sama anak sialan itu, hm?" katanya.
Vano memejamkan matanya sejenak sebelum menjawab. "Ma! Jangan katain anak kandung Mama sendiri kayak gitu. Kak Niel masih darah daging Mama kalau Mama lupa." Sahutnya sedikit ngegas dengan satu tangan yang terkepal kuat di sisi tubuhnya.