Sorry for typo:)
Happy Reading
.
.
.
"Lo nggak mau ke kantin bareng kita?" tanya Albeth sekali lagi.
"Gak! Gue mau ke ruang musik aja," sahut Niel langsung berdiri dari duduknya meninggalkan kedua temannya.
"Biarin aja dia, mungkin lagi mau sendiri," sahut Martin di samping Albeth. Albeth mengangguk saja.
"Yaudah kuy kita aja yang ke kantin!" ucap Albeth langsung menarik kasar lengan Martin.
"Anjir! Pelan-pelan dong nyet!"
Tanpa peduli dengan berbagai macam tatapan para siswa(i) yang diberikan pada dirinya, Niel terus melangkah agar cepat sampai di ruang musik yang berada di lantai 3.
Menaiki berpuluh-puluh anak tangga, akhirnya Niel sampai juga pada tujuannya. Ruang Musik.
Ceklek!
Niel membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan dan langsung menutupnya kembali. Tidak banyak siswa yang berlalu lalang di lantai 3, karna sekarang jam istirahat jadi bisa di tebak jika mereka semua pasti menuju kantin yang berada di lantai 2.
Niel merosotkan tubuhnya ke bawah, sungguh kejadian tadi pagi benar-benar membuat Niel sangat terguncang. Dan saat pelajaran di mulai, Niel pun tidak fokus karna masalah tadi pagi yang masih tergiang di benaknya.
Niel mengusap pelan pipi yang tadi pagi Papanya tampar dengan sangat keras. Mata Niel berkaca-kaca mengingat bahwa ini pertama kalinya Papanya menampar dirinya karna kesalahan yang dibuat oleh Vano (?).
"Kenapa Papa pukul gue? Gue ada salah apa sih? Gini amat hidup gue, astaga!" ucap Niel frustasi.
Niel menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, air matanya terus keluar dengan sendirinya tanpa diminta.
Inilah alasan Niel memilih ke ruang musik dibandingkan ruangan lainnya. Karna ruangan ini adalah tempat favoritnya di sekolah, tempat ini sangat cocok untuk Niel menenangkan dirinya.
"Bangsat! Ini ulah lo lagi kan, Vano?" gumam Niel masih dengan air mata yang mengalir.
Niel menghela napas berat, perlahan ia menghapus air mata yang terus mengalir dengan tak tahu dirinya dari pelupuk mata Niel.
Niel menguatkan hatinya walau sudah hancur berkeping-keping karna setiap masalah yang ia dapatkan selama hidupnya. Dan ia percaya suatu hari nanti pasti Papa dan Mama akan kembali menyayangi dirinya ... kan (?).
Semesta ....
Niel hanya berharap kedua orang tuanya kembali mencintai dirinya ... seperti dulu, sebelum Vano hadir merusak semuanya.
Apa yang harus Niel perbuat ....
Apa Niel harus terus terlihat kuat dan berpura-pura selama sisa hidupnya, hah?
Niel tidak akan kuat untuk selamanya ....
Dan ketika hari itu hadir, Niel harap semuanya belum terlambat.
Niel menelisik setiap sudut ruang musik ini, dan pandangannya berhenti pada alat musik yang berdiri dengan cantik di ujung ruangan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Going Is The Best Choice [END] ✓
Genç Kurgu"Niel tidur sebentar dulu, ya?" Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah. **** Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja. 𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
![Going Is The Best Choice [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/261685143-64-k390645.jpg)