Part 13. Cewek Aneh

1K 162 282
                                        

Sorry for typo:)

Happy Reading
.
.
.

Ceklek!

Niel mendengar kunci gudang sudah dibuka dari luar. Dengan perlahan Niel membuka matanya, seluruh tubuhnya terasa sangat kaku. Karena ia tertidur dengan posisi duduk semalaman sembari memeluk tasnya.

Mencoba untuk berdiri, walau kini kakinya seperti mati rasa. "Shhss, kok masih sakit sih!" gerutu Niel ketika punggungnya masih terasa nyeri.

"Astaga, Tuan Niel! Tuan, baik-baik aja kan? Maafin bibi tadi malam nggak bisa bantu apapun untuk kamu, hiks!" ujar Bi Ira langsung memeluk erat tubuh Niel.

Niel tersenyum tipis kemudian membalas pelukannya. "Tenang aja, Bi. Niel baik-baik aja kok. Nggak usah khawatir, ya. Selama Niel masih kuat pasti Niel bakal baik-baik aja kok, hehe."

Bi Ira melepas pelukannya lalu menatap menatap mata tajam Niel yang kini sembab dan kemerahan. Serta wajahnya yang pucat. Kemudian, ia menelisik seluruh wajah Niel hingga seluruh tubuh Niel.

Hanya satu kata untuk mendefinisikan ini semua. Niel terlihat sangat berantakan.

"Kamu yang sabar, ya. Bibi tau kamu bukan tipe anak yang pantang menyerah cuma karena masalah ini. Tapi, kalau kamu ngerasa sedikit capek, jangan sungkan untuk berbagi sedikit cerita tentang masalahmu pada orang lain. Contohnya, teman dekatmu atau orang yang kamu paling percayai untuk bercerita ya, Niel." Ujar Bi Ira lembut walau air matanya masih mengalir.

"Bibi takut ngeliat keadaanmu yang kayak gini, hiks!" Bi Ira kembali memeluk Niel.

"E-eh iya, Bi. Makasih banyak untuk sarannya. Niel bakal usaha ... tapi, satu yang perlu Bibi tau. Niel baik-baik aja kok kalau kayak gini."

"Nggak usah nangis ya, Bi ..."

"Percaya aja kalau Niel kuat kok."

Bi Ira mengangguk pelan. "Yaudah, sekarang kamu siap-siap, ya. Bibi udah siapin sarapan dan bekal buat kamu." Ujar Bi Ira hangat.

"Makasih, Bi. Niel ke kamar dulu, ya." Kata Niel pada Bi Ira.

****

Niel berjalan dengan tertatih-tatih menyusuri ruang makan. Dan tak sengaja, ekor mata Niel melihat pemandangan indah keluarganya yang sedang sarapan bersama.

"Gue juga pengen gabung ..." batin Niel sendu.

Niel pun langsung melanjutkan langkahnya untuk menuju kamarnya. Kini, hatinya terasa sangat sesak. Niel ingin menangis, tapi ia tidak ingin menangis lagi. Jadi, ia harus menahan bulir air matanya supaya tidak keluar. Walau itu sangat menyakitkan bagi Niel.

Membuka pintu kamarnya, Niel langsung melempar tubuhnya ke kasur empuk miliknya.

"Sampai kapan gue harus kayak gini? Diacuhin oleh Papa dan Mama. Emang gue kuat, ya?" lirih Niel.

"Au ah capek gue mikirinnya! Gue berharap Papa dan Mama berubah ..." Niel pun berdiri lalu melepas seragam sekolah yang ia pakai kemarin.

Melihat pantulan dirinya di cermin, cukup membuat Niel tersenyum miris. "Hahaha badan gue bagus banget njir! Saking bagusnya sampai ngerasa sakit tiap detik. Banyak memarnya, kayak tato haha ..." kata Niel sembari tertawa hambar.

Going Is The Best Choice [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang