Part 44. Rasa Peduli Revano

1K 89 56
                                        

Sorry for typo:)

꧁Happy Reading꧂
.
.
.

"Ini bukan kisahku, melainkan kisah hidupnya yang penuh rasa sakit. Dia Niel."

-Revano Sagara Valendra-

Vano baru saja pulang dari sekolahnya, seperti biasa ia akan pulang sore

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Vano baru saja pulang dari sekolahnya, seperti biasa ia akan pulang sore. Berbeda dengan Niel, setiap Vano pulang sekolah, pasti dirinya akan langsung disambut dengan hangat oleh Mamanya---Diana di depan pintu utama mansion ini.

"Selamat sore, anak ganteng Mama." Sapa Diana hangat kemudian memeluk tubuh atletis milik Vano.

Kepulangan Vano dari sekolah selalu ditunggu oleh Daniel atau pun Diana, sedangkan Niel yang notabene-nya adalah anak kandung sendiri tidak pernah ditunggu atau pun disambut dengan hangat sama seperti Vano barusan saat pulang sekolah. Sungguh sangat pilih kasih, bukan?

Niel anak kandung namun serasa anak tiri karena perlakuan kedua orang tuanya.

Vano membalas pelukan Mama angkatnya lalu tersenyum manis. "Selamat sore juga, Mamaku yang cantik."

"Ayo masuk. Mandi, lalu makan, ya. Mama udah siapin makanan untuk kamu tadi, nanti tinggal minta Bi Ira buat panasin lagi." Ucap Diana lalu melepaskan pelukannya.

Vano mengangguk tanda mengerti. "Baik, Ma."

"Papa sama Mama mau keluar kota selama tiga hari, ada urusan yang perlu Papa tangani sendiri di sana." Ucap Daniel pada Vano seraya menyeruput kopi hangat buatan sang istri tercinta.

Vano yang baru saja duduk di sofa sebelah Daniel langsung tersentak. "Kapan?"

"Sore ini langsung, Van. Rencananya tadi kami mau langsung berangkat tapi nggak jadi, karena lebih baik pamitan dulu sama kamu, takutnya kamu ngambek waktu kami udah berangkat." Jelas Daniel pada Vano sembari terkekeh kecil.

Vano mengerucutkan bibirnya ke depan. "Ih, Papa! Mana ada aku ngambek, lagian 'kan aku udah besar pasti ngerti kok kalau kalian keluar kota ada urusan mendadak, makanya nggak sempat pamitan sama aku."

Daniel dan Diana hanya tertawa kecil menanggapi kalimat yang baru saja Vano lontarkan.

"Permisi, maaf. Tuan dan Nyonya besar. Kapal akan berangkat dalam waktu dua puluh lima menit lagi, mereka sudah menunggu Tuan dan Nyonya besar di sana." Seorang asisten yaitu tangan kanan Daniel datang secara tiba-tiba lalu menyampaikan kabar tersebut pada Daniel selaku atasannya, tak lupa ia membungkuk hormat sebelum berkata demikian pada Daniel dan juga Diana.

Going Is The Best Choice [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang