Part 3. Taman Bunga

2.1K 293 248
                                        

Sorry for typo:)

Happy Reading
.
.
.

Di dalam kamus kehidupan Niel tidak ada kata benci di dalamnya, justru orang terdekat Niel yang benci terhadap kehadiran Niel.

"Gue gak benci sama dia, cuma ... ya gimana aja gitu ..." gumam Niel pelan.

Tiba-tiba pundak Niel ditepuk pelan oleh teman sekaligus sahabatnya yang bernama Albeth Horizon.

"Ngelamun apa lo?" tanya Albeth pada Niel seraya duduk di sebelah Niel.

Niel menoleh lalu menggeleng. "Bukan apa-apa." Sahut Niel datar.

"Ck, gini amat punya temen yang kek kulkas 32 pintu," ucap Albeth santai.

Niel diam tak menanggapi ocehan Albeth yang tidak ada mutunya, sekarang Niel berada di rumah Martin untuk mengerjakan tugas kelompok dari sekolahnya.

Selang beberapa menit yang hanya ditemani hening, akhirnya suara bariton dari arah belakang terdengar juga. Siapa lagi kalau bukan sang pemilik rumah? Yaitu Martin.

"Sorry lama ... Btw, nih gue bawain lo berdua jus mangga," ucap Martin seraya meletakkan nampan jus ditengah Niel dan Albeth.

"Aelah, pake repot segala Bro. Tapi, makasih banyak ye," ucap Albeth seraya terkekeh geli.

"Gak papa, makasih." Ucap Niel singkat.

Martin hanya mengangguk. "Iya,"

3 jam kemudian...

Akhirnya tugas kelompok mereka bertiga selesai juga. "Cape banget otak gue sekarang," ucap Albeth dan langsung menjatuhkan tubuhnya di karpet berbulu dikamar Martin.

"Hmm, sama! Gue juga," sahut Martin dan juga ikut merebahkan dirinya disebelah Albeth.

Niel masih nampak serius menelisik setiap jawaban kedua temannya itu. "El, biarin aja. Yang penting kita udah ngerjain tugasnya, dapet nilai atau enggaknya nanti liat aja." Ucap Albeth pelan pada Niel.

Niel menoleh lalu mengangguk singkat. "Iya," sahut Niel.

Niel mengambil ponselnya untuk melihat jam, 20:12 WIB. "Lama juga kerjainnya," gumam Niel.

"Gue cabut duluan ya," ucap Niel pada kedua sahabatnya itu.

"Cepet amat?" tanya Albeth dan Martin bersamaan.

"Biasalah," ucap Niel acuh sembari memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

Kedua sahabat Niel menghela napas panjang. "Yaudah terserah lo aja deh," ucap Martin.

"Titip salam buat tante Bunga ya," ucap Niel pada Martin.

"Iya, entar gue sampein." Ucap Martin pada Niel seraya mengacungkan jempolnya.

"Hati-hati dijalan, jangan ngebut lo!" Ucap Albeth dengan penekanan disetiap kalimatnya.

"Hm, bye."

****

Seperti biasa Niel memasuki mansion keluarganya lewat pintu belakang, Niel menghela napas berat serta mengusap kasar wajahnya. Sepertinya ia kelelahan. "Berat banget ya hari ini," gumam Niel seraya memutar lengannya kebelakang.

Going Is The Best Choice [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang