Sorry for typo:)
Playing music : 🎼Hold On - Chord Overstreet🎼
Happy Reading
.
.
.
"Jangan menilai buku dari sampulnya saja. Terkadang kita selalu keliru dengan apa yang kita baca karena tak memahami isi tulisan buku tersebut."
-Author GITBC-
****
"Hot news! Tiga pemuda yang diketahui anak kandung dari seorang CEO perusahaan Tree'Ds telah ditemukan pingsan tak sadarkan diri di pesisir pantai. Teman-teman ketiga pemuda itu selaku saksi memberikan keterangan singkat mengenai kejadian yang menimpa anak CEO perusahaan Tree'Ds tersebut; bahwa saat ketiga pemuda itu berselancar di tengah laut lepas, tiba-tiba saja ada ombak besar yang menghantam ketiganya hingga tenggelam dan terbawa arus ke pesisir pantai. Keadaan tiga pemuda itu masih belum bisa dipastikan sampai sekarang, karena pihak keluarga melarang segala media menyorot keadaan ketiga putranya di rumah sakit---"
Daniel langsung mematikan televisi tersebut, lalu menghela napas berat. Kemudian, pandangannya teralihkan pada tiga putranya yang sedang terbaring di ranjang penyakitan yang berbeda-beda.
"Sudah tiga jam, tapi kenapa dari kalian bertiga belum ada yang mau bangun, hm?"
Diana yang baru saja keluar dari kamar mandi menyahuti perkataan suami tercintanya dengan suara lembut yang menenangkan.
"Bentar lagi mereka bakal bangun, kok. Anak kita 'kan bukan tipe anak yang suka tidur lama-lama." Kekehnya.
"Kalau aku tau bakal kayak gini, aku nggak akan bolehin mereka bertiga main ke pantai tadi." Sahut Daniel sedikit menyesal karena mengiyakan permintaan ketiga putranya agar diperbolehkan bermain ke pantai sebentar.
"Enggak papa, namanya juga anak muda zaman sekarang. Kalau nggak diturutin, nanti bakal bandel semua sama kita, Pa." Ucap Diana seraya mengusap punggung tangan Daniel.
Tanpa mereka sadari, anak mereka yang berada di ranjang bagian tengah mulai membuka matanya secara perlahan. Berdasarkan papan nama yang ditempel diujung ranjang, nama pemuda itu Revano Sagara Valendra.
Ya, itu adalah Vano.
"Anjing mata gue silau!" umpat anak Daniel dan Diana yang berada di ranjang sebelah kiri, tampaknya itu adalah anak bungsu di keluarga ini.
Vano langsung menoleh ke arah kiri, dan seketika maniknya membulat sempurna. Tanpa aba-aba, Vano langsung bangkit berdiri dari ranjangnya dan menunjuk pemuda di bagian kiri itu dengan tatapan tajam yang sangat mengintimidasi.
"LO?! KENAPA ADA DI SINI?!" tanya Vano ngegas.
Berdasarkan papan nama di ujung ranjangnya, anak bungsu keluarga ini bernama Zero Nanggala Valendra.
Ya, itu memang Zero.
Pemuda di bagian kiri itu menunjuk dirinya sendiri dengan heran. "Gue?"
Vano mengangguk. "Kenapa lo ada di ruangan yang sama dengan gue?!" tanya Vano tak bersahabat.
Zero mencebikkan bibirnya ke depan, lalu mengangkat bahu acuh. "Mana gue tau. Waktu buka mata ternyata kita udah di rumah sakit aja," jawabnya santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Going Is The Best Choice [END] ✓
Ficção Adolescente"Niel tidur sebentar dulu, ya?" Kapan pun dan di mana pun, entah karena penyakitnya atau pun hal lainnya, kematian selalu mengincar mangsa yang lemah. **** Kepo dengan lanjutannya? Cus, langsung baca aja. 𝐇𝐢, 𝐰𝐞𝐥𝐜𝐨𝐦𝐞. 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 �...
![Going Is The Best Choice [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/261685143-64-k390645.jpg)