Part 46. Sekedar Bahagia (Playing Piano)

844 78 98
                                        

Sorry for typo:)

꧁Happy Reading꧂
.
.
.

"Tanpa sadar musik akan membuatmu melupakan sebagian masalah dari hidupmu untuk sementara waktu. Tapi, setidaknya itu cukup membuatku merasa tenang."

-Nathaniel Jovardan Valendra-

Jangan sampe lupa untuk bahagia ya, Bestie? ︵‿︵

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan sampe lupa untuk bahagia ya, Bestie? ︵‿︵

Jangan sampe lupa untuk bahagia ya, Bestie? ︵‿︵

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ayo bangun, Nak."

Mimpi yang sama, suara yang sama namun asing. Itulah yang saat ini Niel alami, bermimpi aneh seperti biasanya. Hingga Niel terbangun dari tidurnya secara terpaksa dengan keringat dingin yang bercucuran membasahi dahinya.

"Kenapa gue terus mimpi hal yang sama? Dan, suara siapa itu?" tanyanya pada angin berlalu.

Keheningan terjadi di dalam kamar Niel saat ini dan hanya terdengar deru napas yang nampak tak beraturan ritmenya. Lalu, setelah berdiam diri cukup lama, netra tajamnya tak sengaja menatap seragam dan peralatan sekolahnya sudah tersusun rapi di kasurnya. Dan, terdapat nampan berisikan makanan di atasnya yang mungkin itu adalah sarapan paginya (?).

"Sia---"

Ceklek!

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar yang langsung menampilkan Bi Ira dengan senyum khas miliknya.

"Selamat pagi, Niel." Sapa Bi Ira hangat serta dengan senyum hangatnya.

Niel menoleh ke arah Bi Ira, tak kuasa menahannya akhirnya pun Niel ikut tersenyum. "Pagi juga, Bi." Sahutnya pelan.

Menyadari gelagat Niel yang terlihat aneh, Bi Ira berjalan mendekat ke arah Niel yang kini masih berada di atas kasur empuknya. Setelah sampai di hadapan Niel, Bi Ira menempelkan punggung tangannya di dahi Niel yang basah karena keringat dingin.

Hangat.

"Kamu demam, El?" Bi Ira menatap khawatir wajah pucat milik Niel saat ini.

Niel menggeleng seraya mencoba berdiri untuk turun dari kasurnya. "Niel sehat kok, Bibi nggak perlu khawatir." Remaja itu berjalan mendekat ke arah nakas, lalu mengambil botol obatnya. "Selama ada ini, Niel bakal baik-baik. Ya, walau pun rasa sakitnya cuma hilang sedikit." Sambungnya seraya terkekeh kecil.

Going Is The Best Choice [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang