Part 18. Jadi Teman

772 139 290
                                        

Sorry for typo:)

Happy Reading
.
.
.

"Yaudah kita temenan mulai sekarang."

Gerakan tangan Queen yang hendak memegang knop pintu terhenti ketika mendengar ucapan Niel dengan suara beratnya.

Queen berbalik menatap manik tajam milik Niel. "Be-neran kan?" tanya Queen memastikan.

Niel mengangguk. "Maaf, gue nggak bermaksud bikin lo nangis. Tadi gue cuma bercanda aja. Mau kan maafin gue, hmm?" ucap Niel dengan nada suara yang terdengar menyesal.

Wajah Queen seketika memanas dan memerah sampai ke telinganya. Queen memalingkan wajahnya dengan angkuh. "Nggak perlu minta maaf." Ucap Queen pelan.

Niel melepaskan jarum infusnya secara asal dan kasar hingga tangannya mengeluarkan darah karena tidak hati-hati. Namun, Niel tidak peduli dengan itu. Setelah itu, Niel turun dari ranjangnya tanpa alas kaki. Ia mendekat ke arah Queen.

Queen menoleh dan langsung terkejut. "Eh eh anjir! Ngapain lepasin infus lo?! Tangan lo bakal luka entar!" ucap Queen panik dan langsung mendekat ke arah Niel.

"Diem di situ! Jangan bergerak sedikitpun!" suruh Niel yang langsung membuat langkah Queen terhenti.

Dan, saat Niel sampai di hadapan Queen yang tingginya hanya sedada Niel. Niel menatap lekat manik bulat milik Queen yang indah itu.

Dengan lembut, jemari Niel menghapus sisa jejak air mata Queen yang masih melekat di pelupuk matanya. Tubuh Queen membeku seketika, sekarang tubuhya terasa panas dingin.

"Gue minta maaf. Gue beneran nggak bermaksud buat lo nangis." Ucap Niel pelan dengan masih menatap manik indah itu.

Tatapannya tidak setajam tadi, namun tatapan Niel berubah menjadi teduh yang menenangkan. "Lo mau maafin gue kan?"

Sungguh, Niel tidak pernah ingin membuat seorang wanita menangis karena dirinya. Termasuk Mamanya, Diana. Ia menyesal karena telah membuat Queen kesal dan berakhir dengan menangis.

Queen meneguk salivanya susah payah. Sungguh, tindakan Niel sekarang sudah cukup membuatnya sangat gugup.

"I-iya gue maafin. Maaf, gue tadi maksa lo buat temenan. Tapi, gue memang mau jadi temen lo!" ucap Queen lembut dengan senyum manisnya.

Niel tersenyum tipis. "Nggak usah dipikirin lagi. Sekarang lo udah jadi temen gue. Oh iya, thanks udah bantu temenin gue selama dua hari full." Ucap Niel dengan tulus.

"Santai aja, itu udah jadi kewajiban gue buat temenin lo. Karena, kita udah jadi temen haha!" ucap Queen seraya tertawa kecil.

Ceklek!

Tiba-tiba pintu terbuka, dan menampakkan ketiga lelaki tampan yang langsung cengo ketika melihat pemandangan di depan mereka.

"Anjir! Lo berdua ngapain?!" ucap Martin kaget.

Niel langsung menjauhkan jemarinya dari wajah mulus Queen. Dan langsung merubah ekspresinya menjadi datar seperti biasa. Sial, jantung Niel sekarang berdetak lebih cepat juga.

Going Is The Best Choice [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang