"the less time that i spend with you,
the less you need to heal."
[talk me down, troye sivan]
[]
UPPER MANHATTAN, NEW YORK
2015
Joo-hyuk memandangi hiruk pikuk lalu lintas dari dalam sebuah gerai fast food di Upper Manhattan. Sudah satu minggu Ia tidak tinggal di rumah orang tuanya dan selama satu minggu itu, Joo-hyuk menumpang di apartemen teman semasa kuliahnya. Semua kartu kredit pemberian Ayahnya sudah diblokir, tapi Joo-hyuk tentu sudah punya persiapan cadangan. Ia sudah berniat untuk berjalan dengan kakinya sendiri dan dari sinilah Ia bisa memulai itu.
"So, what are you going to do now?" tanya Jeffrey, temannya yang selama satu minggu ini sudah mau menampungnya.
"Find a job. Uang tabunganku tidak akan bertahan lama, aku harus bisa mengumpulkan uang terlebih dahulu, after that, I'll figure it out," jawab Joo-hyuk sembari meneguk iced tea yang Ia pesan.
"Aku masih tidak mengerti, apa yang kau takutkan? Joo, I mean, perusahaan orang tuamu sangat besar. Think about that. Kau akan sangat diuntungkan dan hidupmu akan sangat nyaman, mengapa harus mengambil langkah seperti ini?" tanya Jeffrey.
Joo-hyuk menghela napas mendengar ucapan temannya itu. Entah sudah berapa kali orang-orang di sekitarnya berkata begitu ketika Joo-hyuk bercerita bahwa Ia tidak ingin meneruskan perusahaan Property Developer di bawah nama Nam Land Development itu.
"I know, I know. Ini bukan tentang itu, aku juga tahu suatu saat aku harus meneruskan perusahaan itu, well—if my father still consider me as his son. Tapi tidak sekarang. Masih banyak yang ingin aku lakukan daripada hanya belajar dan duduk di belakang laptop atau mengurusi berkas-berkas. That sucks, man." Joo-hyuk menatap teman di depannya itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan lagi.
"It's just that, I've been living under his shadow all my life. Aku lakukan semua keinginannya, aku selalu menjaga nilaiku, aku mengikuti semua perintahnya, aku tidak pernah membangkang. Aku penuhi permintaannya untuk lulus dari business school, now I just want to be free. For a while, at least." Joo-hyuk melanjutkan ucapannya, tapi Ia menyadari bahwa Ia terlalu banyak berbagi.
Selama ini, Ia tidak pernah benar-benar berbagi cerita pada orang lain. Mungkin Sohee, tapi tidak sedetil dan sedalam itu, hanya permukaannya saja. Joo-hyuk menggigit bibirnya dan matanya sekilas melihat raut wajah Jeffrey yang berubah menjadi mengasihaninya. Joo-hyuk menunduk dan memandangi kuku-kukunya.
"All right, I got you. Aku minta maaf karena sudah berbicara seperti tadi. Let's just have some fun tonight, hm? How about that?" tanya Jeffrey.
Joo-hyuk kembali menatap Jeffrey yang sedag meneguk coke di dalam kaleng merah itu. Namun, akhirnya Ia menyetujui ajakan kawannya dengan mengangguk pelan.
Lagu berjudul Stay High yang dinyanyikan oleh Tove Lo itu mengiringi orang-orang yang sedang mencoba untuk bersenang-senang di atas dance floor. Jeffrey termasuk ke dalam kerumunan orang-orang itu, sedangkan Joo-hyuk hanya duduk di table yang terletak agak di ujung ruangan, di atas sofa merah dengan dua wanita pirang yang sedang bergelendotan di kedua sisi tangannya. Joo-hyuk tidak terlalu peduli, sebenarnya. Ia bahkan tidak ingat kapan kedua wanita itu datang. Joo-hyuk hanya menatap kosong ke arah dance floor dengan lampu warna-warni yang dapat membuat matanya sakit.
Joo-hyuk meneguk sisa bir dari botol bening di atas meja. Wanita yang memeluk lengan kirinya itu tidak berhenti menciumi pipi dan leher Joo-hyuk, meninggalkan bekas lipstick berwarna merah di sana. Namun Joo-hyuk terlalu malas untuk menanggapi mereka. Ia bahkan tidak berniat untuk melakukan hal apapun bersama wanita malam ini. Berbeda dengan Jeffrey yang sudah membawa seorang wanita latin keluar dari kerumunan itu sembari mencium bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trapped in Fame
FanfictionNam Joo-hyuk sudah memprediksikan bahwa hidupnya akan kembali dibanjiri masalah ketika Ia ditugaskan untuk menjadi bodyguard utama seorang selebriti papan atas di Korea Selatan, Bae Suzy. Bae Suzy sendiri tidak pernah membayangkan bahwa mengenal bod...
