"Selamat sore, Pak Nevan."
Nevan sedikit menundukkan kepalanya ketika mendengar sapaan dari Dian—penjaga resepsionis di kantornya.
Setelah itu, Nevan langsung berjalan menghampiri satpam yang berjaga di depan lobby. "Pak Agus, saya minta tolong ambilkan motor di parkiran, ya?" katanya sambil memberikan kunci motornya pada Pak Agus.
Laki-laki paruh baya itu mengangguk setuju, mengambil alih kunci motor di tangan Nevan dan beralih ke parkiran di belakang gedung.
Memang parkiran motor dan mobil dipisahkan. Parkiran mobil berada di barisan depan lobby, sedangkan parkiran motor di belakang.
"Tumben bawa motor?" Suara Danial yang datang dari belakang punggung Nevan kini membuat laki-laki itu berbalik.
Lalu, Nevan tersenyum. Senyum sombong. "Mau nostalgia dulu sama calon istri."
"Raline?"
"Iyalah!"
"Biasa aja, nggak usah ngegas."
"Kalau nggak ngegas nanti lo tikung, lo kira gue nggak tau kalau lo juga belum move on dari Raline, huh?" ujar Nevan. "Mata lo nggak bisa bohong."
"Kalau belum bisa move on, mana mungkin gue pacaran berkali-kali. Lo tau gue punya banyak pacar waktu jaman kuliah. Freya salah satunya."
"Ya, ya, ya."
"Serius, anjir! Kalau bukan bos udah gue tebas pala lo!" seru Danial kesal.
"Nggak usah bohong deh. Meskipun lo udah pacaran sama banyak orang, waktu lo lihat Raline datang ke sini, mata lo masih terlihat memuja dia."
"Kok lo merhatiin sedetail itu sih, Nev?!"
Nevan mengedikkan kedua bahunya. "Gue hanya antisipasi sama calon-calon pebinor."
"Belum juga jadi bini," gumam Danial sambil menggelengkan kepalanya. Matanya menatap ke arah depan, entah sedang menerawang apa. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celana.
"Sebentar lagi. Tunggu aja lo, kalau dia jadi bini gue, lo nggak akan bisa lagi ngobrol sama dia!"
"Posesif amat."
"Bodo amat tai! Arrghhh kesal gue ngomong sama lo!" Nevan mengangkat kedua tangannya seolah ingin mencakar wajah tampan Danial karena laki-laki itu berhasil menancing rasa kesalnya.
Melihat itu, tawa Danial pecah seketika. Suaranya menggelegar meskipun mereka sedang berada di tempat terbuka.
Beberapa karyawan yang juga ingin pulang dan berjalan melewati mereka pun mengerutkan keningnya bingung. Bingung melihat interaksi keduanya. Danial—si asisten berhasil membuat bosnya kesal bukan main.
Ditambah lagi, Danial menertawakan Nevan.
"Pak Nevan, itu motornya sudah saya ambilkan."
Tawa Danial reda ketika Pak Agus menghampiri mereka. Matanya kini beralih pada ninja putih Nevan yang sudah terparkir di depan lobby.
"Serasa anak muda banget lo ke kantor pakai ninja, nggak ingat umur udah hampir kepala tiga?" kata Danial lagi. Mengesalkan sekali memang.
Memilih menghiraukan ucapan asisten gilanya, Nevan mengambil kunci motornya yang diberikan oleh Pak Agus dan menggantikannya dengan selembar uang lima puluh ribu sebagai tip.
"Terima kasih, Pak Agus. Saya duluan."
Nevan langsung berlalu dari sana setelah mendapat anggukan dari Pak Agus, ia membuat keberadaan Danial seolah tidak ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Revoir (Tamat)
Romantik[SUDAH TERBIT - EPILOG DIHAPUS SETENGAH] 📌 Sequel RALINE. Bisa dibaca terpisah. Setelah bertahun-tahun Nevan dan Raline tidak bertemu, takdir kembali mempertemukan mereka dengan cara yang sama saat mereka pertama kali bertemu di lorong sekolah dulu...
