"Ia datang ketika bumi sedang berduka. Menghibur lalu membuat tertawa. Entah harus sedih atau senang mengingatnya. Karena pada akhirnya, ia tidak lebih dari tokoh-tokoh fiksi yang tidak mungkin bisa dimiliki"
-ARZARA-
Arsa melanjukan motornya dengan kencang. Angin ikut membantunya dan malam mendukungnya.
"Bodoh, dasar bodoh! Gitu saja tidak bisa!"
Arsa terdiam, menunduk, tidak tahu harus jawab apa. Tidak tahu harus menyesal atau merasa baik-baik saja karena tidak menyelesaikan apa yang disuruh oleh lelaki paruh baya itu.
"Saya minta kamu untuk temani, Zara. Buat dia setidaknya percaya sama saya. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah jatuh cinta pada si jalang itu! Bodoh!"
Arsa mengangkat kepalanya, "Dia tidak mungkin akan percaya pada, Om. Dia gadis cerdas. Sekalipun saya memuji Om didepannya, dia tidak peduli!"
Susanto memukul lelaki yang ada dihadapannya, "Brengsek!"
Susanto adalah teman SMA Mamanya. Linda Hariwa. Gadis cantik yang memikat hampir separuh lelaki sekolah. Membuat cemburu gadis-gadis yang lainnya. Dan salah satu lelaki itu ialah Susanto Fadrian. Namun, pada akhirnya tidak semua perasaan dapat sama, dapat dibalas dan dapat berujung bahagia. Tidak. Bahkan jauh dari itu.
Sudah beberapa kali Susanto berniat buruk pada Mamanya. Hampir saja dilaporkan pada polisi, tetapi tingkah liciknya memutar balikan fakta bahwa ia tidak bersalah.
Susanto ingin putra Linda merasakan hal yang sama dengannya. Ini sangat tidak adil. Tapi ego benar-benar sudah menguasa dirinya seutuhnya.
Arsa memang bodoh. Benar apa yang diucapkan lelaki paruh baya itu. Ia bodoh karena sudah mengiyakan sejak awal. Ia pikir akan mudah, membuatnya jatuh cinta lalu pergi tanpa kata. Itu mudah baginya, bagi seorang Arsa yang tidak sekali duakali mematahkan hati gadis yang tidak bersalah. Tapi, yang ia hadapi adalah Zara. Gadis yang berbeda dari yang lain. Dan ia benci harus mengakui perasaannya.
"Tolong, Om. Berhenti. Sudah cukup. Saya benar-benar akan melaporkan Om ke polisi jika Om tidak mau berhenti"
Susanto mengangkat sebelah alisnya, "Dasar bodoh! Lapor saja sana! Saya tidak peduli, hahahaha!"
"Kamu bodoh, Arsa! Bodoh sekali mencintai gadis seperti dia! Sekarang malah kamu yang kena, haha! Kamu merasakan apa yang saya rasakan dulu! Hahahaha!" Lanjutnya dengan tawaan yang mengejek.
Sial!
Arsa tidak berhenti mengumpat sejak tadi. Entah merutuki dirinya yang sudah menuruti perkataan lelaki paruh baya itu atau merutuki dirinya karena telah jatuh cinta.
***
"Sekarang gue tau"
"Tau apa?"
"Jawaban lo yang sebenarnya, Ra"
Zara mengerutkan dahinya seolah bertanya 'apa' pada lelaki yang saat ini ada disampingnya.
Langkah mereka berhenti. Lelaki itu yang menghentikannya lebih dulu. Ia pun membalikan badannya pada Zara.
"Lo udah bohongin perasaan lo selama ini"
"Apa maksud lo, Dev?"
Devan kembali menatap ombak pantai yang sedang berlomba.
"Masa lalu, dia yang udah ngerebut dunia lo. Karena itu, gue atau siapapun ngga bisa ke sana"
"Dev. Lo salah"
"Kalau dia masih disini, gimana? Lo pasti bakal balik, kan?"
"Gara emang segalanya, tapi itu dulu"
"Terus, siapa yang sekarang?"
Pertanyaan itu menggantung. Zara terdiam dan tidak mau menjawabnya.
Gadis itu hanya memandang ke depan, bertengkar dengan dirinya sendiri yang dipertontonkan oleh ombak pantai.
Jelas. Devan sudah tau jawaban sebenarnya. Ia bertanya hanya untuk menyakiti dirinya sendiri. Ia bertanya agar ia mendengarnya langsung dari gadis itu. Agar ia tidak bisa lagi menyangkal pada yang nyata. Agar ia bisa langsung sadar bahwa selama ini, gadis itu bahkan tidak pernah melihat ke arahnya.
"Besok gue pindah keluar kota, Ra"
Zara langsung melihat ke arah lelaki itu, "Ko tiba-tiba banget?"
"Ngga tiba-tiba. Gue cuma nunda aja"
"Lo bakal pindah sekolah juga?"
Devan mengangguk, "Keluarga gue pindah ke sana karena pekerjaan bokap gue"
Zara pun menunduk, "Kita berarti bakal jauh, Dev. Gue ngga bisa lagi ketemu lo tiap hari. Di sekolah gaada lo bakal sepi. Lo temen terbaik yang gue punya"
Devan tersenyum. Senyuman penuh luka antara ia harus pergi atau kalimat terakhir yang diucapkan gadis itu.
Devan harus menerima itu sekarang. Benar-benar menerima bahwa Zara hanya teman terbaiknya. Tidak lebih dari itu. Ia tidak bisa memaksa Zara untuk menyukainya balik. Dan untuk keputusan yang ia ambil, untuk pindah, dan menjauh dari gadis itu adalah keputusan yang tepat. Bukan karena pekerjaan ayahnya, tapi untuk menyelamatkan hatinya sendiri.
Karena ia tidak bisa di kota ini. Tidak bisa lagi setelah perasaan itu muncul dan menyerangnya bertubi-tubi.
Ia harus menyelamatkan satu-satunya yang ia punya; dirinya sendiri.
***
Zara sebenarnya tahu, apa alasan lelaki itu pindah dan memilih jauh darinya. Tapi, ia tidak menyangka akan secepat ini. Pertemanan mereka tidak cukup lama tapi penuh makna. Perasaannya yang tidak bisa bertahan akhirnya runtuh. Namun, Zara tidak bisa memperbaiki perasaan itu, karena ia memilih memperbaikinya ditempat lain. Itu jelas menyakiti Devan, tapi lebih sakit jika Zara tidak jujur padanya.
Karena jika tidak keduanya yang terluka, pasti salah satunya.
Dan sekarang, ia hanya bisa berdoa untuk lelaki itu agar senang, agar terus baik-baik saja, agar bisa meredakan perasaannya, dan menemukan gadis yang bisa membalas semua rasanya disana.
Karena perasaan tidak bisa diatur. Bahkan kita sendiri tidak punya kendali akan itu.
Lelaki itu pergi, dan Zara tetap disini.
Itu akan menjadi baik untuk mereka. Perpisahan yang tidak mengenakan disampul dengan baik. Tapi yang namanya perpisahan, tetap saja perpisahan. Mau sesempurna apa sampulnya. Mau sebaik apa akhirnya. Mereka akan tetap berpisah. Dan kesedihan sudah pasti menyambutnya.
Cinta pertamanya, Zara Nabila, ternyata tidak berjalan dengan semaunya. Tidak mengabulkan harapannya. Dan terus melukai hatinya. Tapi, ia akan tetap menyukai gadis itu seperti sejak awal mereka bertemu.
Dipertemukan oleh semesta hingga perpisahan jadi jawaban akhirnya.
"Lo harus terus baik-baik, Ra. Harus senang dan selalu tersenyum. Itu cukup buat bekal gue pergi ke sana. Dan seharusnya cukup juga untuk gue melepas semua yang ada disini"
***
Pukul 20.49
Ponsel Zara berbunyi, pertanda ada sebuah pesan yang masuk.
Aku didepan rumahmu, Rana.
Zara yang melihat itu langsung beranjak dari tidurnya dan melihat ke jendela kamarnya. Benar saja, lelaki itu ada disana.
Zara pun cepat-cepat menuruni anak tangga dan membuka pintu depan rumahnya.
Senyuman Bara sudah menyambutnya saat ia membuka pintu, "Maaf ganggu malam-malam begini"
Zara ikut tersenyum, "Ngga apa-apa ko, Bara, ada apa?"
Bara mengeluarkan sebuah bunga yang ia sembunyikan dibalik punggungnya.
"Aku menyukaimu, Rana"
***
Thank you and see you!
KAMU SEDANG MEMBACA
ARZARA
Ficção AdolescenteZara Nabila. Gadis yang selalu diperbudak oleh seorang Most Wanted Boy di SMA Dartawinangsa. Namanya, Arsa Anggara. Lelaki kasar nan galak yang selalu ingin dituruti apa maunya. Termasuk meminta gadis itu untuk mau menjadi pacarnya. Dan dengan terpa...
