12. Permainan dimulai

2.4K 143 2
                                        

"Jangan pernah bohongin perasaan lo, itu nggak baik"-D untuk..

-ARZARA-

"Dari mana aja kamu?! Jam segini baru pulang!"
"Ohiya, saya lupa. Kamu kan sama seperti ibumu. Seorang ja--"

"Tutup mulut, Om!" Sentak Zara sambil menatap tajam lelaki paruh baya yang saat ini ada dihadapannya.

"Anda boleh menghina dan merendahkan saya, terserah! Tapi, jangan bawa-bawa ibu saya!" Lanjutnya.

Susanto pun tersenyum miring, "Emang kenyataannya begitu, kan?"

"Coba saja ibu saya tahu kalau anda memiliki banyak muka"

"Jaga omongan kamu! Mau saya jahit mulut kamu, hah?!"

"Jika anda bisa, lakukanlah. Saya tidak takut"

Plakk

"Hebat ya kamu sekarang. Sudah menjadi anak durhaka. Terus saja melawan orang tua"

"Saya nggak peduli. Anda bukan orang tua saya"

Plakk

"Jika kamu terus berani melawan saya, kamu akan menyesal seumur hidupmu! Dan akan saya pastikan hidupmu hancur. Ingat itu baik-baik!" Ancam Susanto sambil menggertakkan giginya lalu meninggalkan gadis itu yang sedari tadi memegang pipi kanannya yang memerah.

Entah mengapa beberapa menit kemudian ia langsung melupakan pertengkaran dengan ayah tirinya tadi. Suddenly, ia teringat kejadian tadi sore. Saat dimana Devan menembaknya secara tiba-tiba tanpa pendekatan, baper-baperan, ataupun basa-basi lainnya. Alias to the point.

Karena mengingat hal itu, ia pun menjadi tenang kembali dan rasa sakit dipipinya langsung hilang dengan sekejap. Tanpa disangka bibirnya pun melukis senyuman kecil.

"Will you be my girl?"

Gadis itu pun sedikit terkejut mendengar laki-laki yang baru saja ia kenal beberapa minggu lalu menembaknya secara tiba-tiba. Dan karena itu pula membuatnya terdiam seribu bahasa.

"Nggak perlu lo jawab sekarang, kok. Santai aja. Tapi, jangan kelamaan juga takutnya keburu kedaluwarsa" Sahutnya lagi sambil terkekeh kecil.

"Hmm... Dev. Lo tau kan kalo gue--"

"Ya, gue tau" Potong lelaki itu. "Tapi, kalian kan belum nikah jadi fine-fine aja dong kalo gue nembak lo. Gue juga tau kok kalo lo itu nggak suka sama dia. Ya, kan?"

"Sok tau lo"

"Lah emang bener, kok"

"Mana buktinya?"

"Ya.. Keliatan lah dari raut wajah lo"
"Jangan pernah bohongin perasaan lo sendiri, Ra. Itu nggak baik. Yang baik itu nikah sama gue"

Gadis itu pun terkekeh mendengarnya sambil menggelengkan kepalanya dua kali.

"Ya.. Pokoknya lo jangan bohong, deh. Lo nggak jago dalam hal itu"

"Kata siapa?"

"Kata gue lah barusan"

"Sok tau lagi lo, Dev"

"Lah orang gue bener lagi, kok. Udah jangan bohong deh. Tapi, kalo lo mau coba bohong, gue buka les privat nih buat lo, dijamin lo berhasil!"

"Oh.. Berarti lo jago bohong dong?"

"Jelas, lah" Sahut Devan sambil melipat kedua tangannya didepan dada dengan bangga.

"Berarti tadi lo nembak gue juga bohong dong?"

Mendengar itu lelaki tersebut pun langsung mengerutkan dahinya. "Ya, nggak lah!"

"Bisa aja, kan?"

"Maksud gue itu bohongnya dalam hal kebaikan atau lagi mepet gitu. Kalo soal perasaan, gue nggak pernah bohong, Ra. Trust me"

"Oke. Gue butuh waktu. Tapi, nggak cepet juga"

"Ya, tapi jangan kelamaan juga. Ngediemin hati orang lama-lama itu nggak baik, Ra"

"Ya.. Terserah gue dong"

"Kalo lo kelamaan jawabnya, gue bakal langsung nikahin lo. Liat aja nanti" Terdengar seperti ancaman bagi gadis itu.

"Apaan sih lo, Dev!" Sahutnya sambil mendorong bahu lelaki itu.

"Ra, kita itu belum pacaran, loh. Lo udah maen dorong-dorongan aja" Balas Devan sambil tersenyum manis bak seorang perawan.

Gadis itu pun langsung mencubit perutnya.

"Aww.. Tuh, kan! Sekarang cubit-cubitan" Sahut Devan lagi sambil memperlembut suaranya.

Satu kata yang terlintas dipikiran Zara saat mendengarnya.

Jijik.

Ya. Sangat jijik.

Entah apa isi otak lelaki itu.

Namun, yang jelas otaknya berbanding terbalik dengan tampangnya.

Ya. Wajahnya yang begitu tampan dapat menghipnotis para kaum hawa yang melihatnya.

Kecuali gadis ini. Seorang Zara Nabila.

Ingat itu!

"DEVANN!!!" Teriak gadis itu sambil mengejar Devan yang sudah semakin jauh. Entah sejak kapan laki-laki itu berlari.

Mereka terus saja kejar-kejaran bak film india. Tak sadar ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari jauh dengan raut wajah tak suka.

"We start the game"

***

START!

Tetep pantengin terus ARZARA oke!

Jangan lupa tinggalin jejak!

ARZARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang