Matahari menyorot terlalu cerah pagi itu. Pukul setengah tujuh pagi, dan Gema sudah disambut dengan kemilau mengerikan. Bukan dari sengatan sinar matahari pagi, tapi senyum lebar yang menyapanya di depan gerbang.
Padahal baru saja ia berpikir untuk meminta maaf atas kelakuan dan perkataannya yang sudah keterlaluan, tapi melihat wajah semringah itu membuatnya mengurungkan niat. Di depan gerbang rumahnya, Aletta berdiri di samping sepeda sambil melongoknya kepala ke dalam gerbang. Seperti biasa, wajahnya terlihat ceria.
Gema membuka gerbang, menguap saat melihat senyum Aletta semakin lebar. Ketika menunduk, matanya menangkap perban di masing-masing lutut Aletta. Ya, harusnya ia minta maaf. Tapi karena sepagi ini gadis itu sudah membuatnya mood-nya memburuk, ia jadi malas. Terserah Aletta mau melakukan apa, ia tidak akan peduli lagi.
"Pagi, Gema!" sapa Aletta manis.
Gema berdeham sambil bersandar di gerbang. Melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lo sendiri?" tanya Gema.
Aletta memiringkan kepala, tidak mengerti maksud dari pertanyaan Gema.
"Kurcaci yang laen ke mana? Kalian mau pulang ke Pluto, kan?" tanya Gema lagi.
Mendengar itu, Aletta langsung tertawa. Merasa terhibur pagi-pagi sudah melihat Gema melempar humor. Lucu sekali.
"Receh lo!" sindir Gema.
"Gema, ayo berangkat sekolah!" ajak Aletta kemudian.
Gema melihat tubuhnya sendiri dari bawah ke atas. Ia memang sudah memakai kemeja putihnya, tapi bagian bawahnya masih mengenakan boxer pendek. Kakinya juga hanya dilapisi sandal jepit. Dan yang lebih lagi, arloji di tangannya masih menunjukkan waktu yang terlalu pagi untuk dirinya mengayuh sepeda.
Aletta gila. Aletta memang gila!
"Ta, elo tau kenapa bawang pedih di mata?" tanya Gema tiba-tiba.
Aletta mengangguk. "Tau," katanya.
"Kenapa?"
"Karena kandungan enzim propanethial sulphoxide pada bawang. Saat dipotong, enzim tersebut akan terkena gas udara. Kalo terkena air mata, enzim propanethial sulphoxide akan membentuk sulfenic acid dan menyebabkan mata perih dan berair," jelas Aletta kebingungan. Kenapa Gema menanyakan hal itu? Memangnya hari ini ada ujian?
Gema manggut-manggut. Rupanya Aletta itu wajahnya saja yang kelihatan dungu, aslinya cukup pintar juga.
"Dan mungkin, lo itu satu-satunya manusia yang mempunyai kandungan enzim propanethial sulphoxide di tubuh lo," kata Gema.
Aletta semakin bingung. "Kok gitu?" tanyanya tidak paham.
"Soalnya cuma dengan ngeliat lo, mata gue ini jadi perih dan panas. Lama-lama rusak nih mata gue!"
Jahat sekali. Aletta cemberut saat tahu kenapa Gema menanyakan sesuatu yang aneh, ternyata ujungnya hanya untuk menghujatnya saja. Masih pagi sudah menghujat, Aletta tidak habis pikir, apa Gema sebegitu membencinya sampai-sampai menyapa di pagi hari dengan cara menghujat? Untung saja dirinya diciptakan dengan hati sekokoh baja, karena kalau tidak, sudah pasti Gema akan disantet olehnya.
"Gema sama temen gak boleh kaya gitu tau! Aku juga kan manusia, bisa sakit hati juga," tukas Aletta merengut.
Gema mengendikkan bahunya tidak peduli. "Lo itu bukan manusia, tapi Kurcaci."
"Kurcaci juga kan manusia!"
"Bukan!" bantah Gema. "Kurcaci itu makhluk aneh semacam Alien."
Aletta menghentakkan kakinya kesal. Mana bisa menang dirinya kalau melawan Gema. "Tapi kan makhluk hidup juga," pasrah Aletta akhirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)
Fiksi RemajaKata orang, Gema itu menyenangkan. Dia baik, ramah, humoris dan mudah bergaul. Siapapun akan betah berteman dengan cowok itu. walaupun agak sedikit jahil dan menyebalkan, kepribadian Gema memang terlampau menyenangkan. Tapi kalau kata Aletta, Gema...
