46 - Aletta dan Gina

262 51 11
                                        

"Ta, elo tunggu di parkiran dulu gih bentar," kata Gema.

Aletta yang sudah bersiap memasang tas punggungnya terdiam. "Kenapa?" tanyanya.

Karena tidak ingin Aletta banyak bertanya, Gema ikut membantu memasangkan tas milik Aletta sampai melekat pas di punggungnya.

"Aku bukan anak kecil, jadi gak usah dipasangin juga."

Gema tidak peduli dengan perkataan Aletta yang itu. Ia keluar dari kursinya dan menarik paksa tangan Aletta agar gadis itu ikut keluar juga. Digo dan Gio yang memperhatikan keduanya saling pandang tidak mengerti, tapi tidak ingin bertanya juga.

"Gue ada perlu sama Digo sama Gio. Mau ngobrolin tentang ekskul basket, jadi lo tunggu di parkiran aja, sekalian jagain sepeda gue di sana."

Entah Aletta itu bodoh atau memang penurut, ia memasang tubuh tegak dengan tangan kanan di pelipis. Memasang sikap hormat untuk Gema. Tidak butuh waktu lama, gadis itu sudah hilang dari pintu kelas.

"Sejak kapan dia jadi nurut gitu?" tanya Digo.

Gema mengendik. "Mungkin sejak gue latih disiplin sama anjing gue," katanya ngasal.

"Eh, goblok! Lo anggap Aletta sebelas dua belas sama anjing lo?" tanya Gio serius.

"Bercanda lah. Bego banget lo jadi orang."

Gema memandang keduanya. Ia meminta agar Digo dan Gio duduk kembali ke kursinya.

"Ini seriusan mau ngomongin tentang ekskul?" tanya Gio penasaran.

"Gak mungkin!" tukas Digo cepat, "sejak kapan nih anak sepeduli itu sama ekskul. Ikut rapat aja gak pernah. Untung aja permainan basketnya brilian."

Gema merasa beruntung memiliki dua teman dekat seperti Digo dan Gio. Digo adalah tipikal cowok yang sangat bisa diandalkan. Mampu membaca situasi dengan cermat dalam keadaan apa pun, sementara Gio adalah cowok bodoh yang mau ikut-ikutan saja. Mereka itu adalah couple goal-nya kelas.

"Jadi gini, gue mau ngomong serius sama—"

Belum apa-apa, Gio sudah lebih dulu menyela kalimat Gema. "Gue geli kalo lo mau ngomong serius sama cowok kaya kita berdua," ujar cowok itu.

Andai saja memukul kepala Gio dengan kursi akan membuat kursinya memantul, Gema pasti sudah melakukannya. Sayangnya kepala Gio tidak dibuat seperti trampolin atau spring bed, sekali kena pukul, bukan hanya luka, kebodohan Gio bisa makin menjadi nantinya.

"Gue mau nembak seseorang, menurut lo gue perlu ngasih apa?" tanya Gema tidak memedulikan Gio sebelumnya.

"Jadi lo gak homo sama kita, Ma?"

Tidak tahan, Gema melotot ke arah Gio. Siap melahap cowok itu hidup-hidup. Lagi pula sejak kapan ia homo astaga?

"Jangan bilang lo mau nembak Gina?" tanya Digo menunjukkan kemampuannya dalam membaca situasi.

Gema mengangguk sebagai jawaban.

Pertemuan Digo, Gio, dan juga Aletta dengan Gina beberapa hari lalu sudah pasti membuat Digo bisa berpikir demikian. Meskipun belum berpengalaman dalam berpacaran atau hal-hal yang berhubungan dengan perasaan, dugaan Digo selalu kuat dan tepat.

Kalau Gio? Jangan ditanya, cowok itu tidak akan paham jika tidak dijelaskan.

"Dari awal gue tau waktu lo pertama kali bawa bekel ke sekolah, itu buatan Gina. Gue sih gak masalah lo mau suka sama siapa, bodo amat juga kalo lo mau nembak Gina."

Ya, Digo benar-benar tidak peduli untuk persoalan percintaan Gema. Hanya saja...

"Tapi emangnya lo gak mau mikirin perasaan Aletta?"

Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang