Seperti pertandingan sebelum-sebelumnya saat Gema menang, cowok itu akan menghabiskan waktu pulang sekolahnya di kantin. Kali ini Digo dan Gio turut serta. Karena Aletta dan Gema itu sudah seperti satu paket, sudah pasti ada Aletta juga.
Mereka memesan bakso, minuman beserta kerupuk. Makanan-makanan itu sudah memenuhi meja. Gema dan Aletta duduk di kursi yang sama, sedangkan Digo dan Gio di seberang mereka.
"Gue baru ngeh, ternyata kalo menang tanding itu enak juga, ya?" Gio bertanya pada ketiganya.
Di sampingnya, Digo mengangguk sambil mengisi mangkuk baksonya dengan saus, kecap, juga sambal. "Berasa populer gitu kita, ya? Jadi keliatan keren gak, sih?"
Sedangkan Gema hanya berdecih. Dua temannya itu memang tidak terlalu tampan, permainan basketnya pun biasa-biasa saja, tapi tingkat kepercayadiriannya akan mengerikan jika sudah muncul ke permukaan. Digo yang kalem saja akan terlihat menggelikan.
"Padahal kalian itu cuma planga-plongo di lapangan. Ada atau gak ada kalian, gue pasti tetep menang," kata Gema lempeng.
Sontak saja perkataan Gema membuat Digo dan Gema langsung terdiam.
"Si corong minyak! Emang selalu licin kaya biasanya, ya?" sindir Gio.
"Minta ditampol pake dosa kali, ya?" timpal Digo.
Gema tergelak. Rasanya memang tidak ada yang lebih menyenangkan, daripada menjatuhkan harapan seseorang yang sedang berdiri di puncak.
Saat menoleh ke sampingnya, Gema melihat Aletta yang sejak tadi hanya diam. Gadis itu memperhatikan mangkuk bakso yang ada di depannya. Belum disentuh sama sekali.
"Lo gak mau makan?" tanya Gema.
Aletta menoleh ke arah Gema. "Boleh dimakan?" tanyanya terdengar sangat bodoh di telinga Gema.
"Bego lo baru muncul ke permukaan, ya? Kan lo yang pesen, masa gak boleh dimakan?"
Refleks Aletta langsung menunduk sambil memilin jemarinya. Hal itu terlihat amat manis di mata Digo dan Gio, walaupun justru menggelikan untuk Gema.
"Sisa uang aku itu tinggal lima ribu, dan tadi udah dipake buat beli air mineral Gema. Sekarang uangku abis."
Ya Tuhan.
Gema menghela napas kemudian menghembuskannya pelan.
Kalau tidak punya uang ngapain segala sok-sokan beliin orang minum, woy!
"Jadi?" tanya Gema.
Aletta menyengir lebar. "Aku pikir kamu yang bakal bayar karena abis menang tanding."
Gio terbahak sambil memukul meja, sedangkan Digo menahan tawa karena melihat Gema yang seolah akan meledak.
"Gue gak pernah bilang kaya gitu, Makhluk Pluto. Astaga, lama-lama gue bisa darah tinggi kalo deket-deket sama lo," kata Gema lelah.
Tentu saja Aletta langsung cemberut. Melihat Gema memakan baksonya dengan malas membuatnya merasa bersalah. Padahal cowok itu harusnya sedang bersenang-senang, tapi mood-nya dengan cepat langsung memburuk. Padahal kan ia belum bicara kalau mau meminjam uang.
"Ya udah, Ta. Makan aja. Gema itu walaupun ngomongnya kasar dan gak difilter, walaupun kelakuannya absurd dan kadang mesum juga, gue yakin dia gak bakal tega biarin cewek kelaparan. Sekalipun itu lo." Digo berusaha menenangkan.
"Lo mau muji atau ngehina gue?" tanya Gema datar. Ia beralih menatap Aletta, "ya udah makan aja, buat hari ini gue bakal perlakuin lo kaya manusia biasa. Nanti gue bayarin. Anggap aja ini ganti duit lo yang tadi buat beli minum."
"Tapi tadi aku beli air mineralnya cuma lima ribu," tukas Aletta cepat.
"Tinggal mangap aja kenapa repot banget, sih?! Makanya punya mulut itu gak usah diisi bensin mulu, jadi ngegas terus, kan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)
Fiksi RemajaKata orang, Gema itu menyenangkan. Dia baik, ramah, humoris dan mudah bergaul. Siapapun akan betah berteman dengan cowok itu. walaupun agak sedikit jahil dan menyebalkan, kepribadian Gema memang terlampau menyenangkan. Tapi kalau kata Aletta, Gema...
