Masih suasana hari raya, tadinya gak mau update dulu, tapi kangen sama Gema.
Kalian kangen juga, gak?
***
Suara gonggongan keras membuat Gema nyaris menerobos gerbang yang tertutup. Untung saja tangannya cepat mengerem saat ban sepeda bagian depannya hampir menghantam pagar.
Gema membuka kunci pintu gerbang yang kecil. Ia mendorong sepedanya masuk. Matanya menyapu pandang. Sekelebat bayangan berwarna putih berlari ke taman di bagian depan. Bayangan itu berlari ke arah pohon mangga. Gema mengikuti setelah memarkirkan sepedanya.
Sampai di belakang pohon itu, seekor anjing yang sedang berguling membuatnya melongo. Anjing itu bangun setelah melihatnya. Menjulurkan lidah yang berwarna merah muda. Bulu-bulunya terlihat putih berkilau. Saat memutuskan berjongkok dan mengusap bulu itu, terasa halus dan lembut sekali.
Buru-buru Gema membawa anjing itu ke dalam pelukannya. Gema bergegas menuju pintu utama rumahnya.
"Ma, Mama!" panggilnya tidak sabaran.
Beberapa saat kemudian, ibunya muncul dari arah dapur. Menghampiri Gema dengan panik. "Ada apa?" tanya wanita itu.
Gema memperlihatkan anjing putih yang berada di pelukannya. "Ini anjing Miko yang tadi pagi kita bicarain?" tanyanya semangat.
Ibunya mengangguk. Gema semringah. "Tadi siang ada orang yang nganter. Katanya orang kantor suruhan Papa. Dia yang ngambil anjing itu dari rumah Miko. Kenapa?"
"Aku gak nyangka bakal dateng secepat ini. Dia lucu banget!" puji Gema mengusap gemas anjing itu.
Ibunya gelang-gelang kepala. Walaupun kelihatan nakal, saat sudah berhubungan dengan binatang, sifat puteranya akan berubah menjadi penyayang.
Gema sejak kecil suka sekali dengan binatang. Saat masih sekolah dasar, Gema bahkan sempat mengurus dua kucing. Tapi sayang sekali, dua kucing itu mati. Satu tertabrak motor di depan rumahnya, satu lagi karena sakit.
Sejak saat itu Gema jadi tidak ingin memelihara binatang lagi. Walaupun sangat ingin, ia takut mereka akan mati lagi.
Sampai ketika dirinya baru memasuki masa SMP, ayahnya mengajaknya pergi ke tempat penangkaran hewan. Gema dibuat ngiler dengan banyaknya makhluk-makhluk berbulu nan lucu itu. Ayahnya berkata bahwa trauma itu harus dilawan, dan akhirnya Gema memilih Gigi sebagai peliharaan pertamanya. Ia tidak ingin merawat kucing karena takut kejadian yang sama akan terulang.
Gema tidak suka merenggut kebebasan peliharaannya dengan cara mengikat leher mereka. Semua binatang peliharaannya dibiarkan bebas berkeliling di seluruh bagian rumahnya. Tapi kucing berbeda, ada saat di mana mereka bosan dan memutuskan berjalan-jalan melalui celah mana pun.
Tahun-tahun berikutnya Gema dibelikan kelinci dan kura-kura di waktu yang berbeda. Satu Minggu sekali, Gigi akan ia ajak berkeliling kompleks sambil lari pagi.
Membayangkan mulai sekarang ia akan berkeliling dengan dua anjing membuatnya tidak sabar.
"Ya udah, kamu ganti baju terus makan," kata ibunya setelah beberapa saat.
Gema mengangguk dan segera melangkah menuju kamarnya. Membawa anjing itu ikut serta. Sampai di depan pintu terbuka itu, kepalanya kembali menyembul keluar.
"Ma, namanya Izzie. Aku bakal kasih dia nama Izzie."
Gema bisa mendengar ibunya tertawa. "Kamu udah mikirin itu dari kapan?" tanyanya.
"Tadi di sekolah," jawab Gema.
Gema masuk. Melepas sepatunya asal dan melemparnya tasnya ke atas ranjang. Tidak mengikuti ibunya untuk segera mengganti baju, ia justru berjalan ke taman kecil miliknya. Belum sampai menginjakkan kaki di luar, Gigi sudah berlari sambil menggonggong mendekatinya. Anjing itu berputar-putar mengelilingi Gema.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)
Teen FictionKata orang, Gema itu menyenangkan. Dia baik, ramah, humoris dan mudah bergaul. Siapapun akan betah berteman dengan cowok itu. walaupun agak sedikit jahil dan menyebalkan, kepribadian Gema memang terlampau menyenangkan. Tapi kalau kata Aletta, Gema...
