Acie-cie judulnya uwuu syekali, Guys..
Mungkin aku harus bilang kalau kalian pasti akan megap-megap, kejang, susah napas dan baper gak ketulungan. Hehe
Selamat membaca ♥️
***
Bumi sedang damai. Matahari bersinar dengan cerahnya. Langit terlihat lebih bersahabat, daripada hari sebelumnya. Pertengkaran antara Aletta dan Gema berakhir sudah. Saat Gema mendorong pintu kelasnya, yang ia lihat adalah keramaian yang sudah biasa sebenarnya, hanya saja terasa sedikit berbeda karena tidak ada Aletta di kursinya.
Tapi tidak apa, yang ia alami dengan Aletta beberapa saat lalu akan membuktikan bahwa keadaan ke depannya akan baik-baik saja. Itu yang Gema percaya.
Berjalan menuju kursinya, Gema beberapa kali membalas sapaan teman-temannya. Digo dan Gio sudah ada di kursinya. Kepala mereka langsung teralihkan begitu dirinya sampai di kursi.
"Akhir-akhir ini Gema udah tobat, ya? Gak pernah telat lagi." Gio nyeletuk.
Kursi Gema berderit saat ia menariknya agar lebih dekat dengan kursi Digo. "Beda sama lo yang perlu belajar mati-matian, mau telat atau gak, nilai gue gak akan turun," sindirnya untuk Gio.
"Gak pernah ilang sifat sombong lo itu. Heran gue sebenernya lo itu orang baik atau jahat."
"Gue itu terlalu baik untuk kaum rendahan macam lo."
Gio mendengkus, di kursi depannya, Digo justru tergelak. Sadar bahwa Gema dan mulut pedasnya sudah kembali. Itu berarti Gema yang lama pun sudah kembali.
"Syukurlah kalo lo udah baik-baik aja," ucap Digo tenang.
Kemarin-kemarin, Gema jarang sekali berbicara. Diajak makan di kantin selalu menolak, rokok yang biasa menemani di jam istirahat tidak terlihat, meski wajahnya terlihat biasa, kentara sekali ada yang berbeda. Tapi hari ini Gema seolah telah terlahir kembali.
Wajahnya tidak mengerikan seperti kemarin, yang tanpa rona. Sekarang Gema sudah lebih ceria, mungkin berhasil menghilangkan apa yang selama beberapa hari lalu ia khawatirkan.
"Gue udah mutusin buat mulai hari baru sama Aletta. Setelah dia keluar dari rumah sakit, gue bakal perlakuin dia lebih baik lagi."
"Mantap!" Digo dan Gio berseru bersamaan. Terdengar ikut bersemangat mendengar pernyataan Gema.
Sebagai teman yang baik, Digo dan Gio ikut senang saat pada akhirnya Gema menyadari kesalahannya. Selama ini Gema keterlaluan, tapi sepertinya semuanya sudah berakhir. Tidak masalah selama di akhir Gema merubah sikapnya menjadi lebih baik.
Digo menopang dagu. Bertanya, "Jadi kapan kalian bakal nentuin tanggal jadian?" Dengan wajah konyol.
Di belakangnya, Gio ikut serta menjahili Gema. "Bener tuh, nanti jangan lupa ngasih pajak jadian ke gue, ya?" ledeknya terkekeh.
"Gue gak jadian sama dia, lagi pula belum tentu jadian. Gak usah aneh-aneh lo pada."
"Tapi udah baikan sama Aletta?" tanya Digo.
"Udah rukun sama Aletta?" sambung Gio.
Tidak ingin dua temannya semakin berkoar tidak jelas, Gema akhirnya mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Merasa tertarik dan senang melihat reaksi Gema, Digo memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Gema. "Jadi gimana keadaan Aletta?" tanyanya.
"Masih gitu-gitu aja."
Gio nyerobot perkataan Gema. "Padahal udah hampir dua minggu dia dirawat. Gak nyangka ternyata separah itu sampe gak bisa cepet pulih."
Setuju, Gema mengangguk. "Maklum aja, kepala itu emang rentan banget kalo udah kena benturan. Mungkin pemulihannya bakal makan waktu lama."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)
Teen FictionKata orang, Gema itu menyenangkan. Dia baik, ramah, humoris dan mudah bergaul. Siapapun akan betah berteman dengan cowok itu. walaupun agak sedikit jahil dan menyebalkan, kepribadian Gema memang terlampau menyenangkan. Tapi kalau kata Aletta, Gema...
