Akhir dari Kisah Panjang Gema & Kurcaci dari Pluto (Epilog)

686 97 24
                                        

Ternyata ini akhirnya. Aku terluka, dan kamu pulang dengan bahagia.
Mungkin pertama kalinya kuucapkan terima kasih.
Ya, terima kasih, karena telah hadir meski akhirnya memilih pergi.
Kamu meninggalkan luka yang begitu dalam, sampai aku tidak yakin apakah bisa sembuh atau tidak.
Tapi luka itulah yang menjadi kenangan terbesarku tentangmu.
Selamat tinggal, Aletta.
Terima kasih sudah mampir ke Bumi.

-Fajar Gema Adiaksa

***

Tiga hari setelahnya, Gema baru berani mendatangi rumah Aletta.

Kursi-kursi sudah tidak ada, tapi jajaran bunga masih memenuhi halaman. Beberapa karangan bunga terlihat baru, mungkin semuanya berasal dari rekan kerja ayah Aletta.

Sudah hampir sepuluh menit Gema berdiri di depan gerbang yang tertutup itu. Ia hanya diam sambil memperhatikan halaman rumah Aletta. Kedua tangannya tenggelam di saku hoodie putih yang dikenakan. Menyembunyikan rasa dingin yang melingkupinya.

Sekitar tiga menit kemudian, pintu utama rumah Aletta terbuka. Gema yang melihatnya memilih memutar tubuh dan berniat untuk pulang saja. Ia tidak siap menemui mereka yang berhubungan dekat dengan Aletta, tidak akan siap.

"Gema."

Pada langkah kelimanya, Gema berhenti.

"Kamu Gema, kan?"

Mungkin karena melihat kepala Gema ditutupi oleh kuncung hoodie-nya, ibu Aletta ingin memastikan. Saat Gema memutar tubuhnya, wanita itu mengulas senyum tipis.

Dari wajahnya, Gema masih bisa melihat kesedihan. Berantakan, terdapat luka mendalam yang begitu kentara, dan kantung matanya menghitam. Wanita itu mungkin tadi berlari untuk sampai gerbang agar bisa melihatnya lebih dekat.

"Kenapa balik lagi? Gak mau masuk dulu?" Suaranya terdengar lembut, membuat Gema terenyuh.

"Dua hari lalu kamu pergi gitu aja, tante yakin kamu pasti kaget banget waktu itu." Lagi, wanita itu tersenyum. Kali ini sambil melambaikan tangan meminta Gema mendekat. "Gak pa-pa, sini masuk. Kamu pasti baik-baik aja."

Melawan keraguannya, Gema akhirnya melangkah maju. Ibu Aletta membukakan gerbang untuknya. Wanita itu menuntunnya memasuki rumah megah yang sekarang terlihat kosong dan sepi. Kesejukan yang sempat Gema rasakan tiga hari lalu terasa lebih nyata.

"Papa Aletta udah balik kerja lagi, dia mungkin gak mau ngerasain kehampaan untuk kedua kalinya kalo di rumah terus. Kesibukan akan membuat kesedihan yang dia rasakan sedikit teralihkan."

"Lalu gimana sama Tante?" tanya Gema.

Ibu Aletta menuntunnya berjalan ke sebuah kamar. Begitu pintu terbuka, ruangan luas bernuansa biru muda menyapanya. Jelas memperlihatkan bahwa itu adalah kamar Aletta, terang dan terlihat ceria, itu yang Gema kira. Ada dua rak buku yang berisi penuh buku-buku, satu lemari kaca dengan berbagai macam miniatur mobil, satu lemari pakaian, dan satu meja yang berisi banyak frame foto.

"Tante gak suka kehilangan. Tapi tante tau satu-satunya cara mengurangi kesedihan hanya dengan mengikhlaskan. Gak ada gunanya kita menghindar berulang kali. Itulah kenapa Tante suka buka lagi kenangan-kenangan sama mereka yang udah meninggal." Bibirnya melengkungkan senyum lebar. Bertolak belakang dengan wajahnya yang dirundung kepedihan. "Ini kamar kakak laki-laki Aletta."

Gema baru teringat tentang itu. Aletta pernah bercerita bahwa dirinya mirip sekali dengan kakak laki-lakinya yang sudah meninggal. Itulah kenapa ada banyak miniatur mobil sport di kamar luas yang sedang dipijaknya, karena apa yang ia lihat bukanlah kamar Aletta.

Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang