31 - Pose

304 65 6
                                        

Manusia pandai menyimpan, menyimpan seseorang dalam ingatan, kemudian tersadar bahwa itu kesalahan, karena orang itu merasuk terlalu dalam dan berakhir sulit dilupakan.

***

"Emang selalu paling mantap kalo berkunjung ke rumah Gema? Nyaman pisan euy," Gio berkata santai.

Di sampingnya, Digo memukul kepala cowok itu keras. Sepertinya sejak satu kelas dengan Gio, Digo memiliki kebiasaan baru, yaitu memukul kepala Gio. "Nyaman maksud lo karena lengkap? ber-AC, banyak makanan, tempatnya luas dan nyaman. Gitu?" tanyanya geram.

Digo setengah malu memiliki teman seperti Gio saat cowok itu justru mengangguk semangat. Mengiyakan apa yang ia tanyakan.

"Ihh, ternyata seru banget kalo main ke rumah Gema rame-rame gini."

Semua mata menoleh ke arah Aletta. Gadis itu terpaksa ikut karena terus merengek saat di parkiran. Gema bahkan gerah sendiri mendengar rengekannya. Alhasil, setelah kesepakatan bersama disetujui, Gema dan Aletta meninggalkan sepedanya di halaman sekolah dan memilih naik motor. Digo satu motor dengan Gema, sementara Aletta satu motor dengan Gio.

"Kalo ada Aletta berasa rame ya acara tamasya kita?" tanya Gio lempeng.

Lagi, Digo memukul kepala Gio. "Kita gak lagi tamasya, astaga!"

Memasuki rumah Gema, mereka mengikuti Gema berjalan ke arah dapur. Karena hari sudah menjelang sore, ibu Gema terlihat sedang berkutat dengan berbagai macam sayuran dan alat-alat masak. Wanita itu mendongak saat Gema memanggil namanya.

"Wah, kirain ada tukang kredit berisik banget, ternyata Gema bawa banyak temen," celetuknya melepaskan pisau dan berjalan menjauhi dapur.

Wanita itu langsung memperlihatkan sifat konyolnya, itu yang ada di pikiran Digo dan Gio.

"Halo, Tante!" Aletta yang pertama berseru heboh. Digo dan Gio menyusul dengan sapaan serupa.

"Digo sama Gio katanya mau nginep," kata Gema.
Ibunya langsung menatap Digo, Gio dan Aletta secara bergantian. "Kalo Digo sama Gio boleh dong, Sayang." Tangannya mengusap pelan pipi Gema, "tapi Aletta gak boleh. Jangan nakal-nakal dong ngajak anak perempuan nginep di kamar kamu."

Gelak tawa terdengar setelahnya. Berasal dari Digo dan Gio yang menikmati saat Gema dipermalukan oleh ibunya sendiri.

"Mama!" tegur Gema membuang muka.

Wanita itu terkekeh geli. "Ya udah, ajak temenmu main di kamar, pintunya buka aja soalnya ada Aletta. Nanti mama bawain makanan."

"Asek!" teriak Gio tak tahu malu.

Gema segera menggiring teman-temannya untuk memasuki kamarnya. Pintu terbuka itu memperlihatkan apa yang ada di dalamnya, saat Gema melangkah masuk, dua anjingnya menggonggong kencang.

Dua makhluk berbulu itu berlari ke arah Gema. Mendongak saat duduk di depan kaki Gema. Tahu apa yang diinginkan peliharaannya, Gema langsung berjongkok dan mengusap kepala dua anjingnya itu dengan masing-masing telapak tangan.

Pemandangan itu membuat Digo dan Gio terperangah. Padahal bukan untuk pertama kalinya mereka melihat Gema bermanja-manja dengan peliharaannya, tapi tetap saja rasanya menakjubkan. Gema dengan kepribadian sehangat itu, terlihat berbeda.

Sementara itu, menyadari ada sesuatu yang berbeda, Aletta yang berdiri di depan pintu melesak masuk melewati Digo dan ikut berjongkok di dekat Gema.

"Ihh, kamu punya anjing baru, ya?" tanyanya gemas. Ia mengusap anjing berbulu putih dengan lembut. Anjing itu menggeliat nyaman, tapi Gema memerintahkan si anjing berbulu cokelat untuk kembali ke taman. Membuat si putih ikut pergi juga.

Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang