Note : Tolong baca pemberitahuan di akhir chapter jika tidak ingin menyesal:)
***
Sudah satu minggu semenjak kedatangan Gema di rumah sakit, sudah satu minggu itu pula Gema belum kembali lagi ke sana. Ia terlalu takut untuk melihat Aletta. Terlalu takut untuk mengakui seberapa besar kesalahan yang dibuatnya.
Mungkin Aletta akan lebih baik tanpa harus mengenalnya lagi. Keadaannya akan lekas pulih jika tidak melihatnya lagi.
"Lo gak mau ke rumah sakit lagi, Ma?" Dan itu adalah pertanyaan serupa untuk ke sekian kalinya dalam beberapa hari terakhir. Digo mengatakannya saat jam bubaran dan keadaan kelas sudah sepi.
Digo selalu mengatakan bahwa Aletta memerlukan kehadirannya di rumah sakit. Ya, awalnya Gema pun berpikir demikian. Saat pertama datang, ia sama sekali tidak bisa meninggalkan Aletta, tapi mungkin itu bukan keputusan yang terbaik.
Aletta bisa saja terluka lagi jika melihat wajahnya.
Memilih mengabaikan pertanyaan Digo, Gema menggeser kursi ke belakang. Kemarin-kemarin hal itu berhasil membuat Digo mengerti dan tidak membujuknya lagi, tapi sekarang Digo memasang tubuh. Satu tangannya di letakkan di meja, sedangkan yang satunya lagi diletakkan di sandaran kursi.
"Waktu itu padahal lo ngotot banget gak mau ninggalin Aletta di rumah sakit, kenapa sekarang malah kaya ngehindar gini? Lo kesurupan apaan lagi dah?" Digo menggerutu.
Pada akhirnya Gema menghela napas panjang. Ia kembali duduk dan bersandar di kursi.
"Gue khawatir sama Aletta. Dia ada di rumah sakit gara-gara gue ninggalin dia, jadi mungkin lebih baik aja kalo gue sama dia gak perlu ketemu lagi."
Sontak Digo langsung menegakkan tubuhnya. "Lo minta ditampar banget, ya? Gimana caranya lo bisa gak bakal ketemu dia lagi? Kita itu sekelas sama Aletta, bahkan lo sebangku sama dia. Jadi—"
"Gue bakal pindah tempat duduk."
"Dengerin gue dulu goblok!" tukas Digo tidak terima ucapannya disela.
Gema diam, dan Digo melanjutkan ucapannya.
"Gue tau lo ngerasa bersalah, perlakuan lo selama ini juga persis kaya iblis yang dendam sama manusia, tapi tetep aja lo gak bisa kabur dari Aletta Walaupun gak bilang, gue tau Aletta butuh lo."
Gema tidak mengerti sejak kapan Digo bisa sangat terbuka seperti sekarang, tapi perkataannya berhasil melekat di hatinya. Menohok dengan tepat.
Tidak tanggung-tanggung, Digo bahkan mengibaratkan Gema seperti iblis yang sering muncul dalam novel atau komik. Kejam, tidak berperasaan, dan selalu berbuat semaunya. Selama ini pun memang seperti itulah kelakuan Gema.
Tidak memiliki hati. Mungkin itulah pemikiran orang-orang seperti Aletta. Yang selalu dizolimi olehnya. Andai Aletta sedikit saja kehilangan sifat aslinya, sudah pasti kata-kata semacam itu akan membuat Gema tertampar. Tapi sekali lagi, walaupun terkadang dalam kalimatnya ada unsur kekasaran, tidak sekalipun Aletta pernah serius mengatakannya.
"Dua hari lalu, waktu gue jenguk Aletta sama Gio, dia udah pindah ke ruang rawat biasa. Jujur aja ya, Ma. Keadaannya parah banget. Operasi satu minggu lalu itu ibarat buat nyambung kehidupan Aletta. Dia kaya kehilangan warnanya aja gitu, bahkan waktu gue sama Gio masuk, dia gak ngelirik gue sama sekali."
Lagi, lagi dan lagi. Mendengar kabar Aletta kembali merenggut detak jantungnya. Ia seolah kehilangan kendali untuk meraup kehidupan. Napasnya seakan berhenti. Seluruh organ dalam tubuhnya tidak bekerja.
"Mungkin aja kalo ketemu lo, Aletta bisa pulih lebih baik lagi. Karena mau gimana juga cuma lo yang selama ini paling deket sama dia."
Mana mungkin bisa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)
JugendliteraturKata orang, Gema itu menyenangkan. Dia baik, ramah, humoris dan mudah bergaul. Siapapun akan betah berteman dengan cowok itu. walaupun agak sedikit jahil dan menyebalkan, kepribadian Gema memang terlampau menyenangkan. Tapi kalau kata Aletta, Gema...
