Sebelumnya aku mau minta maaf karena cerita ini berjalan sangat lambat. Kebetulan aku lagi ada project yang gak bisa ditunda dan makan waktu lama.
Sekali lagi maaf, dan terima kasih untuk yang selalu setia nunggu.
Happy reading ♥️
***
Saat SMP, Gema sangat ingat bahwa dirinya mengenal seorang gadis yang ceria. Kakak kelasnya. Serupa Aletta, hanya saja gadis itu sedikit pemalu. Dia selalu memberikan setengah bekal makan siangnya untuk Gema, membantu mengerjakan tugas Gema, juga menjadi orang yang duduk paling depan saat Gema bermain basket.
Senyumnya teduh dan menenangkan. Matanya menjadi tidak terlihat saat dia tersenyum. Kepribadiannya lembut dan membuat siapa saja betah berteman dengannya. Dia tidak sungkan untuk membantu yang kesulitan dan berterima kasih dengan tulus saat menerima bantuan. Beberapa kali sempat membuat temannya menyatakan perasaan, tapi dia tolak dengan halus dengan alasan dia tidak cukup pantas untuk diperjuangkan.
Dan kalau boleh Gema jujur, dia lah satu-satunya gadis yang sempat mendiami hatinya. Begitu lama, sampai-sampai ia sendiri lupa jika gadis itu sudah jauh darinya. Tapi tidak apa, setidaknya berjalannya waktu membuat semua terasa biasa saja. Tentu sebelum Aletta datang.
Aletta itu bisa dibilang memiliki sifat yang sedikit bertolak belakang dengan orang itu. Sama-sama ceria, tapi untuk alasan yang berbeda. Menurut Gema, Aletta itu pecicilan dan hiperaktif. Memang ramah dan manis kalau kata Gio, tapi untuk Gema, gadis seperti Aletta tidak masuk ke dalam kriterianya.
Seperti saat ini. Saat tangan itu mengulurkan kotak bekal ke arahnya. Kebiasaan yang kadang membuatnya mengingat masa SMP-nya. Hanya saja, Aletta jelas sudah merusak kenangan itu. Karena tidak seharusnya Aletta datang dan memiliki kebiasaan yang sama.
"Hari ini aku bawa nasi goreng, pake telur sama sosis. Buat kamu satu, buat aku satu."
Aletta memeluk bekal yang satunya. Bersemangat sekali. Ciri khas yang menurut Gema terlalu berlebihan.
"Yang masak ibu aku, soalnya tadi aku bangun kesiangan." Penjelasan yang tentu saja tidak dibutuhkan oleh Gema.
"Digo, lo mau ke kantin?" tanya Gema menoleh ke samping. Tidak mempedulikan ocehan Aletta.
"Ini mau jalan. Lo ikut?"
Cowok yang sudah berdiri itu mengangguk ke arah Gio, meminta agar Gio segera bangun dari kursinya.
"Boleh," kata Gema. Ia sudah bangun, bersiap menggeser kursi ke belakang saat tangannya tiba-tiba tertahan.
Aletta memasang wajah murung yang dibuat-buat. Matanya menyorot kesal ke arah Gema. Memaksa menerobos masuk ke dalam netra cokelat milik Gema. Mencari belas kasihan yang mungkin akan ia temui di sana. Nyatanya tidak. Hanya ada tatapan tidak suka yang membuatnya harus menahan kecewa. Entah sudah ke berapa kalinya.
Gema itu ... kenapa sulit sekali digapai?
"Padahal aku udah bawain bekel makanan buat kamu. Makan di kelas aja dong! Gak usah ke kantin segala. Nanti makanannya siapa yang ngabisin?"
"Lo abisin aja sendiri. Lagian siapa yang nyuruh lo bikinin bekel buat gue? Gue kan gak minta."
Aletta mendengkus sebal. Apalagi saat tangannya dihempas kasar.
"Ya kalo kamu minta, itu namanya bumi udah terbelah jadi dua. Gak mungkin. Makanya aku gak pernah nunggu waktu itu tiba, soalnya emang gak bakal pernah ada."
Ahh, benar juga. Kali ini Gema bersyukur karena Aletta tahu diri. Di seberangnya, Digo menggaruk tengkuknya tidak enak. Suasananya jadi tidak menyenangkan.
"Udah deh, Ma. Lo makan aja sama Aletta. Lagian kasian tuh anak udah bikin capek-capek, ya kali gak lo makan?" ujar Digo.
"Bener tuh, kalo emang lo gak mau, gak pa-pa kok buat gue. Cewek manis kaya Aletta itu gak pantes ditolak." Gio menimpali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)
Roman pour AdolescentsKata orang, Gema itu menyenangkan. Dia baik, ramah, humoris dan mudah bergaul. Siapapun akan betah berteman dengan cowok itu. walaupun agak sedikit jahil dan menyebalkan, kepribadian Gema memang terlampau menyenangkan. Tapi kalau kata Aletta, Gema...
