Prolog

2K 266 29
                                        

Jangan lupa voment:)

***

Suasana perpustakaan sedang sepi saat seorang gadis menengok ke kanan dan kiri. Melihat situasi apakah betulan sepi atau tidak. Setelah memastikan semuanya aman, barulah gadis itu mengangkat satu kursi.

Ia meletakkan kursi itu berdempetan dengan salah satu rak yang berjajar di perpustakaan. Hanya untuk mengambil sebuah novel yang berada di rak teratas. Karena tubuhnya yang mungil memang tidak akan sanggup untuk menjangkaunya walaupun sudah berjinjit.

Beberapa novel yang belum pernah ia baca terlihat di depan matanya. Menggiurkan dan ingin ia bawa pulang semuanya. Tapi tidak bisa. Peraturan di sekolahnya hanya membolehkan setiap siswa yang meminjam buku membawa satu saja, dan dikembalikan tiga hari kemudian.

Setelah melihat-lihat dan memilih novel apa yang akan ia pinjam, barulah ia menarik novel itu dari barisan. Berniat untuk turun dari kursi saat kakinya tidak sengaja terpeleset di ujung kursi. Sepatu yang seharusnya menjejak kursi justru malah tergelincir karena hanya berpijak pada udara kosong. Membuat tubuhnya oleng dan jatuh ke depan.

Sudah siap akan tubuh yang sakit atau kepala terantuk lantai, yang ia rasakan selanjutnya adalah degup jantung menggila menggedor bagian dada. Membuatnya sesak dan sulit bernafas.

***

Cowok itu mendengkus berulang kali. Di tangannya, terdapat tumpukan buku yang harus ia kembalikan ke perpustakaan. Setelah melongokan kepalanya ke dalam perpustakaan, ia bernafas lega karena tidak ada siapapun di sana. Sepertinya penjaga perpustakaan sedang ke toilet atau makan siang.

Langkahnya santai menyusuri lorong yang dipenuhi dengan rak berisi berbagai macam buku. Sampai suara derit kursi menarik perhatiannya. Tidak mungkin ada hantu di siang bolong seperti ini bukan?

Lalu cowok itu mencari sumber suara. Tepat di lorong yang berisikan penuh novel, langkahnya terhenti. Seorang gadis sedang mengangkat kursi dan diletakkan berdekatan dengan rak. Dalam hati ia tertawa, karena yakin seratus persen bahwa tubuh mungil itu memang tidak akan sampai mencapai bagian teratas rak.

Matanya awas memperhatikan gadis mungil itu. Kalau saja ia sedang tidak malas, ia pasti sudah mengerjai gadis itu. Sayangnya moodnya hari ini sedang tidak cukup baik, mungkin karena tadi dipaksa oleh gurunya untuk mengembalikan buku ke perpustakaan.

Tanpa sadar, ia menyandarkan tubuhnya pada rak buku. Mengabaikan kedua tangannya yang mulai keram karena menahan buku yang terlalu banyak hanya untuk melihat apa yang dilakukan gadis itu.
Beberapa menit gadis itu kelihatan seperti melihat-lihat judul novel. Dalam hati ia berdoa jika gadis itu terjengkang. Pasti lucu sekali. Astaga, tapi itu dosa. Namanya nyumpahin orang dong?

Lalu tiba-tiba apa yang tidak ia duga terjadi. Sumpahnya menjadi kenyataan karena tidak sampai lima detik, pijakan gadis itu tidak seimbang. Membuatnya tanpa sadar menjatuhkan buku-buku begitu saja hanya untuk berlari ke arah gadis itu.

Tepat waktu.

***

Suara gedebum keras terdengar memekakkan telinga. Buku-buku berhamburan ke sana ke mari. Berasal dari tangan tidak bertanggung jawab yang baru saja melepaskan pegangan pada buku-buku itu.

Gema berjalan. Ralat, ia bahkan berlari. Langkahnya tidak ia perhitungkan, matanya terus mengawasi gadis yang akan terjatuh itu. Ia tidak perduli tubuhnya menabrak meja atau kursi.

Bagaimana kalau gadis itu jatuh dan mati tiba-tiba? Itu lebih membahayakan. Ia akan jadi orang pertama yang ditanyakan ini itu, dan itu pasti sangat merepotkan. Pokoknya Gema tidak mau.

Sepersekian detik Gema sudah sampai tepat di depan gadis itu. Tepat ketika kursi bergoyang dan tubuh gadis itu melayang, tangannya dengan sigap menangkap bahu mungil itu agar tidak terjatuh.

Mendebarkan. Peristiwa kecil itu benar-benar mendebarkan. Membuat jantungnya hampir melompat saja. Gema sama sekali tidak menyangka kalau ia akan dihadapkan pada situasi konyol seperti di sinetron-sinetron seperti sekarang.

Lalu saat tatapan terkejut itu mengarah langsung padanya, ia langsung melempar kilatan tajam.

"Astagfirullah, kok ada orang bego macam lo yang bikin drama tengah hari bengkak kaya gini. Lo waras?" sentak Gema melepaskan pegangannya saat gadis itu telah berdiri dengan tegak.

Aletta, siswi kelas sebelas yang baru saja diselamatkan oleh Gema itu menelan ludah susah payah.

"Ma-maaf, aku gak---"

Gema mengangkat jari telunjuknya ke depan wajah Aletta. Memintanya untuk tidak berbicara.

"Udah tau lagi jam istirahat gini, bukannya jajan malah keliaran di perpus. Kaya hantu tau gak, lo?! Udah badan kecil, mungil, bego, kenapa idup pula?"

Mulut Gema itu memang pedas dan bocor sekali. Tapi hatinya baik kok.

Aletta masih diam di tempat. Terpaku pada sosok yang saat ini sedang memarahinya. Mungkin merasa asing dengan debaran menggila yang tiba-tiba muncul.

"Heh? Berhubung gue udah nolongin lo dari adegan kejengkang yang gak jadi itu, dan gak ada yang namanya gratisan di muka bumi ini. Gue minta lo buat beresin buku gue." Gema tanpa tahu malu menunjuk bukunya yang tadi ia biarkan berakhir berserakan di lantai. Nadanya tinggi, dan sama sekali tidak menerima bantahan.

"Gue mau makan, laper. Soalnya gue bukan tipikal orang yang kenyang sama ucapan terima kasih. Dan lo!" Kali ini tangan Gema beralih menunjuk gadis di depannya.
"Beresin itu buku terus taro ke tempatnya. Kalo gak becus, gue masukin lo ke dalem kloset terus gue siram. Biar ilang sekalian!"

Setelahnya, Gema pergi begitu saja. Tangannya merogoh sesuatu dari saku kemeja. Permen karet yang hampir menjadi makanan wajibnya langsung ia sumpal ke mulutnya. Meredam rasa kesal hanya karena alien yang entah berasal dari mana itu.

Tanpa sempat sadar bahwa Aletta terus-terusan melirik ke arah dada kirinya sedari tadi.

Melihat dengan jelas nama Fajar Gema Adiaksa tercetak di sana.

***

Dari sanalah kisah mereka yang sebenarnya dimulai. Bermula dari ketidaksengajaan yang menghadirkan ambisi untuk Aletta, namun menimbulkan bencana untuk Gema.

***

Yuhuuuuuu, aku kembali dengan cerita baru.
Gimana-gimana, manis gak?
Wkwk

Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang