8 - Niat Kabur dari Bumi

604 115 4
                                        

Keras kepalanya manusia tidak akan bisa dilawan hanya dengan memaki.
Cukup nikmati, sampai akhirnya nanti, dia lupa dengan sifatnya sendiri.
Karena terkikis dengan banyaknya hari yang dilalui.

***

Gema kelabakan mengobrak-abrik isi tasnya sendiri. Di pintu kelas, Digo dan Gio sudah meneriakinya sedari tadi. Begitu juga dengan gadis di sampingnya, tangannya masih setia mengulurkan dasi berwarna abu sedari tadi. Yang sudah ditolak oleh Gema entah berapa kali.

"Pake ini aja, Gema." Aletta memaksa.
Gema tidak menjawab, ia terus mencari dasi miliknya yang entah terselip di mana atau mungkin lupa ia bawa.

"Udah lah, Ma. Pake punya Aletta aja. Nanti elo dihukum lagi kalo gak pake atribut." Digo kembali berteriak. Ia berjalan lebih dulu dengan tangan kanan menarik leher Gio.

Memang tidak ada pilihan lain, tapi kalau Gema menerima bantuan dari Aletta, gadis itu akan semakin besar kepala. Astaga, membayangkannya saja sudah membuatnya resah.

"Gak usah malu-malu. Lagian aku cuma niat nolong tau," kata Aletta. Bibirnya mengulas senyum tulus.

"Oke," putus Gema akhirnya. Ia menarik dasi di tangan Aletta yang tiba-tiba kegirangan tidak karuan. "Kali ini aja tapi," sambungnya.

Aletta mengangguk mengiyakan. Ia memperhatikan Gema yang memasang dasinya terburu-buru. Setelah rapi, Gema melipat bagian bawah kausnya ke dalam.

"Kalau kaya gitu nanti ketauan juga, terus kamu bakal tetep dihukum." Aletta memberitahu.

Gema tidak peduli. Selama lipatannya rapi, guru yang mengawasi jalannya upacara tidak akan mengetahui.

"Abis upacara gue balikin," kata Gema.

"Gak dibalikin juga gak pa-pa kok," Aletta menyengir lebar. Itu lebih bagus. Sehingga ia punya sesuatu yang disimpan oleh Gema.

Suara mikrofon membuat keduanya buru-buru keluar dari kursi. Gema menarik topi abunya di atas meja dan berlari keluar dari kelas. Meninggalkan Aletta yang meminta agar ditunggui.

Lorong dan koridor gedung sudah hampir sepi, hanya beberapa siswa yang ikut berlari seperti Gema. Mengejar waktu agar tidak ketinggalan upacara.

Senin pagi, suasana lapangan upacara sudah ramai oleh para siswa yang berbaris sesuai dengan kelasnya masing-masing. Pemimpin barisan yang bertugas, menyusun agar barisan rapi secepat mungkin.
Beberapa pohon yang berbaris di belakang para siswa membuat sinar matahari tidak menembus, menaungi mereka. Tapi rupanya tidak berlaku untuk Gema. Cowok itu terlihat kesal. Kepalanya seperti mau meledak menahan amarahnya. Bukan karena kepanasan, melainkan karena sosok gadis yang berdiri di sampingnya.

Tubuh Aletta terhalangi bayangan tubuh Gema. Rambutnya yang hitam panjang kini sedikit tertutupi topi pada bagian atasnya. Dan saat ia mendongak ke samping, lesung pipinya terlihat jelas di mata Gema.

"Gak usah nyengir-nyengir lo! Lagian ngapain sih baris di situ?" ketus Gema.

"Biar bisa deket-deket sama kamu," kata Aletta jujur.

Siapa pun tolong bantu Gema pergi keluar dari planet Bumi. Ke mana saja, asal tidak ada Aletta di sana. Karena tingkat kepercayadirian gadis itu bisa saja membuatnya hangus di lain waktu.

"Masih pagi gak usah nyari ribut sama gue, Kurcaci Pluto!"

"Aku kan gak nyari ribut. Kamu nanya, aku jawab." Aletta mengerjapkan matanya.

Gema semakin dibuat kesal. Matanya melotot. Tangannya sudah bersiap mengangkat tinjuan. Lupa jika Aletta bukan merupakan lawan yang akan tumbang jika ia melempar tinjuan.

Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang