44 - Mengukir Luka Sendiri

312 63 4
                                        

Sejak pertama kali Gema membawa bekal sendiri, yang baru Aletta tahu dibuatkan oleh siapa, Aletta tidak pernah berhenti membuatkan bekal untuk Gema. Persis seperti sekarang. Saat tangannya membawa dua bekal.

Aletta sendiri tidak paham apa yang sebenarnya ia lakukan. Ia hanya punya sedikit harapan bahwa Gina lupa membuatkan Gema bekal dan pada akhirnya Gema mengambil bekal yang dibuatkannya. Kalau boleh berharap lebih, Aletta juga ingin Gema memakan makanan buatannya.

"Kira-kira kapan ya Gina hilang hari hidup kamu? Supaya kamu bisa makan makananku," tanya Aletta saat Gema menutup resleting tasnya.

"Kalo ngomong sembarangan banget lo!" ketus Gema meraih bekal pemberian Gina yang baru saja diambilnya dari tas.

"Abisnya dia kaya hantu, tiba-tiba muncul gitu aja di hidup kamu. Aku kan jadi punya saingan."

"Gue gak terima Gina lo panggil hantu!" Gema ngegas. Karena sejatinya kata hantu yang dimaksud Aletta lebih cocok disematkan pada gadis itu sendiri.

Wajar saja Aletta berpikir demikian. Sejak satu kelas dengan Gema, tidak pernah sekalipun Gema menunjukkan gelagat aneh yang menyebutkan bahwa cowok itu memiliki seseorang yang berarti dalam hidupnya. Gema tidak pernah berkata bahwa dirinya punya pacar, karena itulah Aletta berani mendekat.
Tapi tiba-tiba saja Gina datang dan merebut Gema dengan sangat mudah. Aletta rasa Gina bahkan tidak berusaha keras, Melainkan Gema lah yang memang sudah tertarik dengannya sejak awal.

Tapi bagaimana bisa?

Mereka tidak satu sekolah, tidak satu kompleks perumahan juga. Dan Gina baru muncul beberapa hari belakangan, seolah kembali datang setelah lama hilang. Dan kedatangannya sangat dinantikan oleh Gema.

"Tapi, Ma. Gue kepo Gina itu sebenernya siapa? Dia gak sekolah di sini, lo pun gak pernah cerita tentang dia, tapi dia tiba-tiba muncul dan bikinin lo bekel makanan. Sebenernya Gina tuh sebelas dua belas sama Aletta. Bedanya, dia versi kalem plus anggun, sedangkan Aletta versi bar-bar."

Sudah pasti tidak hanya Aletta, Digo yang sudah pernah satu kelas dengan Gema pun berpikir demikian. Gema dan Gina terlihat seperti sudah sangat akrab, tapi tidak pernah terlihat kapan mereka kenal.

"Atau dia temen masa kecil lo?" tanya Gio tiba-tiba.

Aletta dan Digo menatap cowok itu. Kenapa tidak kepikiran, astaga?

Gema berdiri dan membawa kotak makannya ikut serta. "Gue males jelasin, dan gak mau ngejelasin juga. Intinya Gina tuh lagi liburan di sini. Cuma dua mingguan kayanya. Dan sebelum dia pulang, gue bakal nembak dia. Itu aja. Sekian, terima kasih," jelas Gema akhirnya.

Gio ber-oh ria. "Jadi ternyata Gina yang bikinin lo bekel makanan belakangan ini?" tanyanya lantang.

Untung saja suasana kelas sudah sepi, karena hampir seluruh siswa sudah pergi ke kantin.

"Heran gue kenapa sih lo bego banget jadi manusia?" Digo bertanya miris. Ia geram sendiri melihat Gio yang selalu telat menyadari sesuatu. Padahal kemarin Gina sendiri yang membongkar hal itu, tapi Gio tidak menyadarinya.

Rasanya ingin sekali Digo menyundul kepala Gio.
Tidak ingin kehabisan waktu makan siangnya, Gema berlalu begitu saja. Kalau terus meladeninya teman-temannya, ia hanya akan kelaparan.

Aletta yang kebingungan dengan dua kotak makannya melirik Gio yang sudah berdiri. "Gio, mau makananku, gak?"

Kalau soal makanan, tidak perlu ditanya lagi, Gio akan langsung mendekat dan mengambilnya.

"Makasih, Ta."

"Sama-sama."

"Gue gak dikasih, Ta?" tanya Digo.

Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang